KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 25


__ADS_3

Kegembiraan terlihat pada wajah Didi, perusahaan yang telah dibangunnya selama ini, berhasil di teruskan oleh anaknya, Dimas.


"Terima kasih ya nak, kamu benar-benar mewujudkannya"


Infestor yang dulu mempercayakan sahamnya pada perusahaan pak Burhan, lambat laun berpaling pada perusahaan Dimas, apa yang di lakukan Dimas tidak jauh berbeda dengan Didi, bekerja dengan sungguh-sungguh demi kepentingan bersama.


"Sama-sama pah, ini semua berkat papa juga, terima kasih, papa sudah mengajarkan aku melakukan yang terbaik"


Rianti hanya terharu melihatnya, peresmian perusahaan yang saat ini adalah milik sah Dimas sudah selesai, ibu Herlina dan keluarga Didi menikmati hidangan, yang sudah disiapkan untuk mereka yang hadir dalam peresmian itu.


"Selamat pak Dimas"


Beni, anak pak Burhan datang dengan keluarganya, Dimas sengaja mengundang keluarga pak Burhan, namun yang datang hanya Beni dan istrinya saja.


"Terima kasih Pak Beni, pak Burhan tidak ikut?"


"Tidak bisa ikut, dia bilang kepalanya sedikit sakit"


"Yok, kita duduk disana, bersama-sama oma!"


Dimas mengajak Beni sepupunya, duduk di meja khusus keluarga, walau bagaimanapun juga ibu Herlina adalah pengganti omanya Beni, adik ibu Herlina yang sudah meninggal dunia.


"Papi kamu tidak datang Ben?"


"Tidak oma"

__ADS_1


Ibu Herlina sangat mengerti mengapa ponakannya tidak dapat hadir dalam peresmian itu.


"Beni, makanan ini sangat enak, beri istrimu, suruh dia mencicipinya!"


Sup ikan yang rasanya pedas asam manis, yang begitu disukai oleh orang hamil pada umumnya.


"Terima kasih oma"


Setelah jamuan makan selesai, satu persatu tamu undangan pun pulang dengan membawa supenir yang telah di sediakan oleh Dimas.


"Apa sih maksudnya oma kamu, aku di suruh cicipin sup ikan itu, sudah tau aku kurang suka!"


"Ya, mungkin itu memang rasanya enak, kok kamu jadi sensitip gitu?"


"Terus terang, aku kurang suka, kalau kumpul sama oma kamu"


Mata-mata ibu Herlina tersebar dimana-mana, Mela, istri Beni, pernah tertangkap basah bermesraan dengan seorang pria di sebuah kafe, dan momen itu di abadikan dalam sebuah foto oleh mata-mata ibu Herlina, yang akhirnya sampai ketangan ibu Herlina.


"Panggil anak itu kesini!"


"Baik bu"


Ibu Herlina pun mengancam Mela, kalau sekali lagi dia melakukan perbuatan seperti ini, dia tidak segan-segan akan menyuruh Beni menceraikan Mela.


"Maafkan Mela oma, Mela janji tidak akan melakukannya lagi"

__ADS_1


"Bagus, jangan coba-coba mempermainkan cucu saya, kalau kamu memang sudah tidak suka, kamu tinggal minta cerai saja"


Sebenarnya ibu Herlina tau, kalau Mela tidak sungguh-sungguh mencintai cucunya, dia hanya menginginkan harta Beni saja, maklum keluarga Mela adalah pegawai dari perusahaan ibu Herlina.


Ke esokkan harinya, ibu Herlina sengaja datang menjenguk keponakannya, yang katanya sakit, tampa memberitahukan dahulu kepada pak Burhan, kalau dia ingin datang.


"Katanya kamu sakit Han?"


"Iya mih, semalam kepala agak pusing"


Kalau di rumah pak Burhan, layaknya seorang anak memanggil ibunya, kepada ibu Herlina.


"Kamu jangan berpikir macam-macam soal perusahaan mereka, aku sengaja memisahkan kalian, agar tidak ada yang merasa dikorbankan, ajarkan Beni supaya bisa seperti Dimas, kalau Didi bisa, kamu juga pasti bisa, biarkan mereka bekerja sama, supaya perusahaan kalian pun maju, seperti perusahaan mereka, kalau perlu, anakmu tiga orang, beri tahu mereka agar punya perusahaan sendiri, jangan bekerja dengan orang lain, aku akan selalu mendukung, tapi usahakan mereka mendapatkan istri yang baik, jangan seperti istri Beni"


Setelah mengutarakan isi hatinya, Ibu Herlina pun pamit, sekarang pak Burhan dan istrinya mengerti maksud baik tantenya itu, karna walau bagaimanapun mereka adalah satu-satunya, yang masih ada hubungan darah dengan ibu Herlina, tidak mungkin ibu Herlina akan membiarkan keponakannya, seandainya sekarang ibu Herlina menganggap keluarga Didi adalah anaknya, itu karna keluarga Didi dapat meneruskan apa yang menjadi cita-cita ibu Herlina dan suaminya.


Pak Burhan dan istrinya baru tau, kalau ibu Herlina tidak begitu suka kepada istri Beni.


"Ada apa dengan Mela ya mas?"


"Pasti mata-mata mami tau, apa yang Mela lakukan diluar"


"Tolong kamu cari tau mas, kasihan anakku, dia sangat percaya sama istrinya, sementara dia tidak tau, kalau istrinya menghianatinya"


"Iya, aku akan cari tau, awas saja kalau benar, bukan saja kusuruh ceraikan dia, tapi akan aku pecat juga papanya dari perusahaanku!"

__ADS_1


Sambil menarik napas panjang, Pak Burhan kembali kekamarnya, diikuti oleh istrinya.


__ADS_2