KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 12


__ADS_3

Lisa tak habis pikir, satu minggu ini pak Gunawan tidak dapat dia hubungi, ponselnya selalu mati.


"Kemana lagi si tua bangka itu, awas saja kalau dia tidak menepati janji, kedoknya pasti akan aku buka"


"Ding..dong!" kurir memberikan sebuah kotak, yang tidak Lisa tau siapa pengirimnya, dengan hati-hati Lisa membuka kotak  itu, ternyata isinya adalah baju dalaman Joni, disaat ter-akhir tidur bersamanya.


"Sialan, siapa yang pengirim paket ini, jangan-jangan dia sudah tau kalau aku yang membunuhnya"


Lisa mulai gelisah, dia memutuskan untuk pindah dari apartemen itu, agar tempat tinggalnya, tidak diketahui siapa pun.


Sementara orang suruhan Joni, terus mengikuti kemana pun Lisa pergi, dan dia selalu mendapatkan paket yang sama.


"Halo, kemana saja sih kamu sayang, aku hubungi kamu tidak bisa terus"


"Dasar perempuan ******, siapa yang kamu panggil sayang, awas kamu, kalau masih berani mengganggu suamiku!"


"Dasar sial, kenapa istri si tua bangka itu bisa tau, pasti ada yang tidak beres!"


Lisa  tidak tau harus mencari bantuan kemana, selain menjual diri.


"Halo, bu lisa, ini saya Marsel"


"Halo, kamu sudah bebas?"


Lisa menyuruh Marsel datang keapartemen, mereka mencoba menyusun kekuatan baru, agar bisa melanjutkan hidup.


Marsel yang menjadi orang kepercayaan Lisa, dan pernah dijebak, sampai dia masuk penjara, begitu gembira mendengar kabar, kalau Joni sudah meninggal.


"Bu, apa saya harus menghabiskan keluarga pak Didi, seperti dulu?"


"Tidak sekarang, mereka lebih kuat dari kita, bisa-bisa kita yang mati di penjara"


Lisa menarik napas panjang, sudah tidak ada harapan, dia bisa merebut kembali perusahaannya.


Rokok mengebul dari bibir Lisa yang mungil, pikirannya melayang kepada Didi.


"Sel, apa mungkin, pak Didi sudah kembali ke Indonesia?"


"Saya ragu bu, kalau dilihat, latar pendidikan pak Didi, bisa saja dia bekerja diluar negeri"


Lagi-lagi Lisa menarik napas panjang, benar kata Marsel, kalau Didi sudah kembali ke Indonesia, mungkin dia sudah menemui Rianti.

__ADS_1


Dimas terkejut, dia berlari sambil menjerit menemui neneknya, seseorang yang tidak dikenal, tiba-tiba menghampiri, saat Dimas sedang asik bermain dihalaman rumah.


"Ada apa nak, kamu seperti orang ketakutan gitu?"


"Itu, ada orang yang mau culik aku!"


Bu Diman buru-buru keluar. melihat sekitar rumah, dia tidak menemukan siapa-siapa, selain orang berambut panjang dengan pakaian rapi melintas di depan rumahnya.


Didi menahan sedih, air mata tak dapat dibendung lagi, dia berteduh dibawah pohon besar, tidak jauh dari rumah Rianti, dan menangis.


"Pak maaf, bapak kenapa?" seorang satpam komplek menghampiri Didi, dengan membawa sebotol air mineral, lalu diberikan kepada Didi.


"Teriima kasih pak, saya hanya sedikit sakit kepala" sambil bersender dibatang pohon, Didi meminta ijin sebentar untuk istirahat di situ.


Hari mulai gelap, Didi sampai dirumah, dua hari dia berada diJakarta, hanya untuk melepaskan, kerinduan kepada keluarganya.


Tuti, anak gadis karyawan Didi, seperti biasa mengantarkan makanan untuk Didi.


Sebagai karyawan kepercayaan, dia menyuruh istrinya, agar memasak makanan untuk Didi, setiap hari, karna dia melihat Didi hanya hidup seorang diri.


"Mas Didi, ibu hanya masak ini mas, kemaren mas Didi kemana, dua hari nggak pulang?"


Setiap kali Didi mengatakan anak atau istri, wajah Tuti berubah cemberut, seolah dia tidak suka mendengar ucapan Didi seperti itu.


Didi buru-buru keluar rumah, dia tidak ingin berdua saja dengan Tuti di dalam, karna desas desus tetangga, mengatakan, kalau Tuti suka padanya.


Musim penghujan telah tiba, udara dingin menyelimuti suasana desa, dimana Didi tinggal sekarang, kabut tebal menyelubungi jalan beraspal, yang tidak jauh dengan kediaman Didi, tiba-tiba suara benturan keras terdengar sampai kerumah Didi.


"Ah apa itu?"DIdi melongok dari jendela rumahnya, warga disekitar sudah berbondong-bondong menghampiri suara itu.


"Kecelakaan mas, yang satu sudah meninggal"


Didi penasaran, dia melihat kejadian itu dari dekat, betapa terkejutnya dia, setelah melihat dua orang yang terkapar, dengan keadaan  satu sudah tak bernyawa,


"Rianti" Didi cepat-cepat mengangkat istrinya, sedangkan sopir sudah meninggal dunia.


Mobil ambulan segera membawa korban kerumah sakit terdekat, tidak lama kemudian stap dari kantor cabang, yang berada disurabaya, datang menengok  Rianti dan mayat sopirnya, untuk segera dibawa ke Jakarta.


Kejadian tragis itu membuat Rianti hilang ingatan, dia  lupa akan siapa diri dan  keluarganya.


Satu bulan sudah Rianti dirawat dirumah sakit Surabaya, ibu Herlina, satu minggu sekali menengok Rianti.

__ADS_1


Sebenarnya, Rianti ingin dipindahkan kerumah sakit Jakarta, dengan alasan keselamatan nyawa Rianti, dokter tidak mengijinkannya.


"Maaf kan aku sayang, aku tidak bisa berbuat apa-apa"


DIdi mengenggam tangan Rianti, yang sedang terlelap tidur, kebetulan ibu Diman yang menunggu Rianti sedang pergi keluar, namun tampa sepengetahuan Didi, ibu Diman memperhatikan apa yang Didi laku kan.


"Di!" ibu Diman mendekati Didi, dia hapal betul suara anaknya itu, meski dia mendengar   samar-samar, dengan sepontan Didi menoleh ke pada ibunya, dan tangis pun tidak bisa ditahan lagi .


"Kemana saja kamu nak?" Didi menceritakan semua yang dia alami,  Didi berpesan pada ibunya, agar merahasiakan keberadaannya saat ini, semua demi keselamatan keluarga.


Didi hanya melihat dari kejauhan, saat Rianti ingin dibawa pulang ke Jakarta, keadaan tubuhnya sudah mulai membaik, namun ingatan Rianti belum juga pulih, sementara waktu, Rianti tinggal dirumah ibu Herlina.


"Yan tolong kamu kerjakan ini ya" Bu Herlina, kembali mengajarkan Rianti dari nol.


Ibu Diman sengaja membeli sebuah hp, yang dia sembunyikan dilaci kamar, sesekali disaat dia kangen dengan Didi, dia dapat menelponnya.


"Kamu belum tidur nak?"


"Belum bu, bagai mana kabar ibu, dan anak-anak?"


Perasaan sedih dan sakit dihati, selalu dirasakan, saat dia menelpon anak satu-satunya itu, sehingga tangis pun tidak dapat ditahan lagi.


"Nek buka pintunya, nenek kenapa?" Dina mengetuk pintu kamar ibu Diman, yang buru-buru menyembunyikan kembali handponnya.


Pintu kamar dibuka, ibu Diman memeluk Dina, dengan perasaan sedih.


"Malam ini, tidur sama nenek ya"


Mendengar perusahaan ibu Herlina sedikit goyah, setelah Rianti mengalami kecelakaan, niat jahat Lisa kembali timbul.


"Marsel usahakan kamu culik Rianti, dan kamu buang dia dimana saja, aku ingin perusahaanku kembali, bu Herlina tidak ada apa-apa nya kalau tidak ada Rianti!"


Sebagai istri kedua seorang pengusaha discotik cukup sukses di Jakarta, Lisa kembali dengan kehidupan mewahnya seperti dulu.


Anak buah yang dulu pernah bekerja untuknya, dia panggil kembali, kekehidupan didunia penuh dengan kegelepan yang dia geluti, dari sebagai mucikari dan menjual obat terlarang ditempat usaha discotik nya.


"Bu kalau bisa janggan dibuang, kenapa tidak kita jadikan pelayan saja disini"


"Aku tidak mau ambil resiko, bisa  saja dia nanti kabur, dan melapor kan kita"


Perlahan tapi pasti, Marsel melakukan apa yang diperintahkan Lisa~bosnya.

__ADS_1


__ADS_2