
Pertemuan makan malam antara winda dan Dimas, begitu berkesan, dari mulai pembicaraan santai sampai keserius, mereka nikmati, sampai tak terasa jam pun sudah menunjukkan tengah malam.
"Pak, maaf, ini sudah hampir jam setengah 12" Winda terpaksa melihat jam yang ada di tangannya.
"Ya ampun, perasaan cepat sekali waktunya, ok, yuk, kamu saya antar pulang"
"Sebentar pak, saya harus bereskan administrasinya dulu"
"Sudah, sudah saya selesaikan" ternyata sebelum masuk, Dimas telah membayar tempat plus makanan malam ini.
"Oh, kok jadi bapak yang traktir saya lagi?"
Dimas membukakan pintu mobilnya untuk Winda, sementara Winda merasa gugup atas perlakuan istimewa Dimas, karna baru kali ini dia diperlakukan itu, oleh seorang laki-laki.
"Win, bagaimana dengan pertemuan kita malam ini, kamu suka?"
"Sangat suka pak, jujur, ini adalah pertama kalinya, dalam hidup saya"
"Masa, memang kamu belum pernah pacaran?"
"Pernah, dulu sewaktu masih SMA, tapi setelah kuliah, saya tidak pernah pacaran lagi, kasihan ayah saya, kalau saya sampai gagal kuliah"
"Hem, kalau boleh tau, ayah kamu kerja dimana?"
"Ayah saya hanya seorang pegawai negeri pak"
Dimas mengantarkan Winda sampai kerumahnya, sekalian berkenalan dengan kedua orang tua Winda, yang terlihat begitu kawatir, menunggu kedatangan anaknya.
"Maaf om-tante, saya terlalu malam mengantarkan Winda, terlalu asik ngobrol, sampai kami lupa waktu"
"Tidak apa nak Dimas, om maklum, cuma karna baru pertama kali Winda keluar sampai larut malam, kami jadi sedikit kawatir, maklum anak kami cuma satu, ha..ha"
"Terima kasih om-tante saya permisi dulu"
Dimas pun pamit, dengan wajah gembira, di antar Winda sampai ke mobilnya.
"Win, malam minggu depan, boleh saya ajak kamu jalan lagi?"
"Iya, boleh" Winda juga tersenyum bahagia.
Tidak di sangka wawancara dengan Dimas, membawa mereka kepertemanan yang membuat mereka semakin dekat, Dimas sering kali menelpon Winda, dan tak segan juga Dimas menjemput Winda dari kantornya.
"Temani aku makan malam yuk!"
"Bapak baik banget sih, traktir saya makan terus"
"Hem, jangan panggil saya bapak nak, sepertinya, saya belum pantas punya anak sebesar kamu"
__ADS_1
"Ha..ha, lantas saya harus panggil apa dong"
"Kamu cantik banget malam ini, boleh nggak saya mengatakan sesuatu"
"Terima kasih, hem, mau ngomong apa nih?"
Dimas meraih tangan Winda, yang duduk dibangku sebelah kemudinya.
"Win, kamu mau jadi pacar saya?"
"Hem, bapak, eh mas Dimas serius, apakah saya pantas jadi pacar mas Dimas?"
"Memang kelihatannya, saya tidak serius?"
"Perbedaan kehidupan kita berbeda loh mas"
"Maksud kamu?"
"Mas Dimas lihat kehidupan keluarga saya, pasti berbeda jauh dengan kehidupan keluarga mas Dimas"
"Tapi cinta kan tidak melihat itu, kalau saya cinta sama kamu bagaimana?"
"Ya sih, kita jalani dulu aja ya mas, terus terang, aku belum begitu yakin"
"Maksud kamu, kamu takut kalau saya cuma ingin mempermainkan kamu?"
"Maaf mas, sepertinya lumrah, kalau wanita sekelas saya, berpikir seperti itu"
"Iya"
"Terima kasih"
Dimas memakluminya, kalau Winda berpikir seperti itu, karna semakin dewasa seseorang, dia sudah memikirkan keseriusan untuk masa depannya, apalagi wanita.
Malam ini mereka resmi berpacaran, Dimas sudah menyiapkan sebuah cincin berlian, untuk di pakaikan kejari manis Winda, Winda begitu terkejut akan keseriusan Dimas.
"Mas ini nggak salah, kamu sampai siapin cincin ini untuk aku?"
"Aku sayang kamu Win" Dimas mencium punggung lengan Winda.
"Terima kasih mas"
Mereka pun menghabiskan waktu layaknya seperti orang berpacaran, sebelum pulang mengantarkan Winda, Dimas membeli sebuah kue tar, sebagai tanda hari jadian mereka.
"Kita harus ingat ya, kalau tgl 1 ini kita jadian"
Winda menyuapkan kue kepada Dimas, dan Dimas mengecup bibir mungil Winda, yang membuat wajah Winda berubah memerah.
__ADS_1
Dimas meletakkan kue tar di bangku belakang mobilnya, dan mereka pun berciuman dengan mesranya.
...
Semenjak mereka berpacaran, setiap sore Dimas menjemput kekasihnya, dan mengantarkannya pulang, meski Winda sudah menolak, tapi Dimas tetap saja melakukannya.
Kedua orang tua Winda sudah merestui hubungan mereka, sehingga Dimas leluasa mengajak Winda kemana saja.
"Sayang malam ini orang tuaku mengundang kamu makan malam di rumah, mereka ingin kenal sama kamu"
"Aku takut mereka tidak setuju mas, setelah tau seperti apa keluargaku"
"Aku sudah cerita kok sama mereka, dari itu mereka ingin kenal sama kamu"
Dimas memperkenalkan Winda kepada orang tuanya, Rianti dan Ibu Herlina begitu senang, setelah melihat Winda, mereka merasa Winda dan Dimas sangat cocok sebagai pasangan, winda yang lebih muda 5 tahun tahun, di bawah Dimas, dengan perawakan tinggi menawan, sangat serasi bila bersanding dengan Dimas, yang sekarang sudah berumur 30 tahun, dengan tubuh bugar lebih tinggi 20 cm dari Winda.
"Oma rasa, kalian jangan terlalu lama berpacaran, nggak baik juga di lihatnya"
"Kalau aku sih kapan pun sudah siap oma, tapi Winda, sudah siap belum?"
Winda hanya tersenyum, dia tidak menyangka keluarga Dimas begitu menyambut baik kepadanya.
"Bagaimana nak Winda?" Rianti juga sama seperti ibu Herlina, dia tidak ingin Dimas dan Winda berlama-lama pacaran.
"Kalau saya terserah mas Dimas saja tante"
Dimas pun hanya tersenyum puas, memang jawaban itu yang dia tunggu, karna dia ingin sekali cepat-cepat mempunyai istri.
Setelah makan malam selesai, Dimas pun mengatarkan Winda pulang, tak lupa dia mencium bibir kekasihnya.
"Mas, kalau nanti kita sudah nikah, apakah aku masih boleh bekerja?"
"Boleh, yang penting belum punya anak, kalau sudah punya anak, apa kamu nanti tidak kasihan anak kamu?"
"Iya sih, memang kamu benar-benar ingin kita cepat-cepat menikah mas?"
"Iya, aku takut kita melakukan zinah, apa lagi kita sudah sama-sama dewasa, dan kita sering bertemu"
"Ya sudah, aku terserah kamu saja, aku juga takut kalau itu sampai terjadi"
Pernikahan pun di selenggarakan dengan begitu mewahnya, semua kolega bisnis perusahaan Didi di undang, keluarga Winda begitu merasa terhormat dan bangga, anaknya bisa mendapatkan suami seperti Dimas, apa lagi keluarga Didi begitu baik dan menghargai keluarga Winda.
Selesai pernikahan, Winda masih bekerja sebagai wartawan, Dimas sangat menghargai cita-cita istrinya, yang sejak kecil ingin menjadi seorang wartawati, namun Dimas harus siap, bila sewaktu-waktu di tinggalkan oleh Winda, karna ada tugas luar kota, bahkan luar negeri.
Sekarang Winda sudah naik jabatan dalam perusahaan surat kabar terkenal itu, berkat kerja keras dan dukungan dari keluarganya.
"Sayang, boleh tidak, kalau aku terjun kedunia politik?"
__ADS_1
"Kalau itu, aku melarang, karna kamu akan sering meninggalkan aku, jadi tetap lah bekerja seperti sekarang ini, kamu pun jadi tidak terlalu capek, ingat sebentar lagi kamu akan punya anak, sudah dua tahun kita menunggunya"
"Baik sayang, aku akan turuti kemauan kamu"