KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 24


__ADS_3

DIpersimpangan jalan Dimas melihat istrinya, berdua dengan seorang pria, yang duduk dibelakang kursi kemudi, Dimas memarkirkan mobilnya ditepian jalan, untuk menelpon istrinya, namun tidak diangkat-angkat.


"Ada apa ini?"


Dengan rasa penasaran, Dimas membelokkan mobilnya, ingin mengikuti kemana mobil yang membawa istrinya itu pergi, namun Dimas kehilangan arah, dia tidak menemukan kemana mobil itu perginya.


"Halo bi, ibu bilang sama kamu tidak, dia ingin pergi kemana?"


"Tidak pak, ibu seperti terburu-buru, Willi nangis juga tidak dipedulikan"


Dimas tak tau apa yang terjadi pada Winda, selama lima tahun berumah tangga, keluarganya baik-baik saja, meski Dimas susah melarang Winda untuk berhenti dari pekerjaannya, dan hari ini Winda sedang libur bekerja.


"Selamat sore, bisa saya bertemu dengan pimpinan perusahaan ini?"


Seorang stap kantor, yang Dimas temui, masih sibuk dengan pekerjaannya, dan memberitahu Dimas.


"Selamat sore, maaf pak, baru saja bapak pimpinan pergi keluar, mungkin masih di lip"


Kantor dimana Winda bekerja, baru selesai jam 6 sore,


Dimas ingin menemui pimpinan perusahaan surat kabar, dimana istrinya bekerja, dia ingin menanyakan secara langsung apa yang sebenarnya terjadi, dengan berlari melalui tangga darurat, akhirnya Dimas berhasil menemui pimpinan surat kabar itu.


"Maaf pak, kalau saya mengganggu, saya ingin penjelasan dari bapak, apa yang sebenarnya terjadi pada istri saya, Winda?"


"Sebelumnya saya mohon maaf, sebenarnya ini agak rumit, saya juga tidak tau, kalau istri pak Dimas ada kerja sama dengan stap perusahaan tektil, karna saya tidak pernah menandatangani artikel itu"

__ADS_1


"Tidak mungkin pak, bapak tidak bisa mengatakan itu tampa bukti, lagi pula kalau artikel itu sudah muncul, itu berarti bapak sudah menanda tanganinya, karna istri saya hanya wakil bapak saja"


"Ya, harusnya seperti itu, tapi saya tidak menemukan arsipnya, dikantor saya, jadi ini perlu penyelidikkan lebih lanjut, terpaksa istri pak Dimas yang harus bertanggung jawab, sebab semua artikel yang ditulis oleh wartawan, itu lebih dulu diberikan dan diawasi oleh ibu Winda"


"Sekarang istri saya dibawa kemana pak?"


"Sekarang saya ingin kesana, bapak Dimas boleh ikut saya"


Dimas menelpon pengacaranya, agar menemaninya kekantor polisi, di mana istrinya saat ini di tahan, akibar artikel yang ditulis wartawan yang berada dalam pengawasan Winda, tentang pencemaran lingkungan, oleh sebuah perusahaan tekstil terkemuka, perusahaan surat kabar mereka, di laporkan kepihak yang berwajib, oleh perusahaan tektil itu.


Winda hanya menangis, dihadapan Dimas, dia tidak menyangka kalau tulisan yang ditulis oleh wartawannya akan berujung seperti ini, tetapi dihadapan pengacaranya, Winda mengatakan kalau tulisan itu, sudah ditandatangani oleh pimpinan surat kabar itu.


"Ibu Winda sendiri yang menyerahkan artikel itu, kepada pak Gino?"


"Tidak, saya serahkan kepada asisten saya, dan saya pun tidak tau kalau artikel itu sudah terbit"


Satu persatu orang yang bersangkutan dengan masalah ini di panggil oleh pihak yang berwajib, karna direktur perusahaan itu tidak dapat menerima artikel yang ditulis disurat kabar itu, direktur perusahaan tekstil menuduh, itu perbuatan fitnah, meski sudah jelas foto-foto tentang pencemaran lingkungan itu ada.


Dengan jaminan Dimas dan pengacaranya, akhirnya Winda bisa pulang kerumah, meski kasus ini belum selesai, karna masih mencari siapa orang yang memalsukan tanda tangan pak Gino.


"Setelah kasus ini selesai, aku mohon kamu berhenti bekerja, kamu bisa menyalurkan hobimu dari rumah, tampa harus bertanggung jawab atas diri orang lain"


Winda terdiam, sebenarnya hal itu sudah Dimas katakan berkali-kali kepadanya, namun dia tidak pernah mendengarkan permohonan suaminya, agar dia berhenti bekerja.


Cukup menguras tenaga dan waktu, untuk mencari bukti kebenaran dari masalah yang Winda hadapi, selama 4 bulan lebih, Dimas harus mundar-mandir mengantarkan istrinya, baik kekantor polisi maupun kepersidangan.

__ADS_1


Berkat bantuan penyidik yang propesional, akhirnya terbukti juga siapa yang bersalah dalam masalah itu, ternyata Vera sebagai bawahan Winda, yang Winda percaya membantu mereview ulang, dengan sengaja memalsukan tandatangan pak Gino, sebagai pimpinan surat kabar itu, tujuannya tidak lain hanya ingin menyingkirkan Winda dari kedudukannya, sebagai wakil pimpinan, namun Vera tidak menyangka kalau masalahnya akan serumit ini, yang akhirnya harus dia bayar dengan kurungan penjara selama satu tahun.


Setelah kejadian itu, Winda pun mengundurkan diri dari pekerjaan, dia sekarang hanya fokus mengurus keluarganya saja, kalau kerinduan menulisnya datang, Winda hanya menulis artikel ringan untuk para pembaca setianya.


"Mas, kita sudah lama nggak liburan, mas Dimas kapan ambil cutinya?"


"Mungkin tahun ini aku nggak ambil cuti, masalahnya oma menyuruh aku mengambil alih perusahaan yang papa sudah bangun selama ini, jadi nanti perusahaan yang aku pegang sekarang, bukan lagi anak cabang dari perusahaan yang dipegang pak Burhan"


"Jadi tahun depan, baru kita bisa liburannya?"


"Iya, tapi kamu bisa ikut dengan keluargaku, ke Singapura, kalau kamu mau, minggu ini mereka akan menemani Dina, mengunjungi mertuanya"


"Ih, aku mau dong mas, tapi aku bawa suster ya"


"Iya, kamu hati-hati disana nanti, jangan lupa beli oleh-oleh buat keluargamu"


"Ok bos, kamu baik banget mas, kadang aku suka berpikir, bagaimana kalau aku nggak ketemu kamu?"


"Sudah, tidak baik mikirin yang tidak terjadi, yang penting sekarang kamu harus hati-hati, pada siapa pun, jangan terlalu percaya, peristiwa kamu dengan Vera, harus jadi pelajaran, supaya kamu tidak gampang dihianatin"


"Apa aku juga, harus jangan terlalu percaya, sama kamu mas?"


Dimas memeluk istrinya, penjelasannya tadi menjadi bumerang bagi dirinya, dia tidak ingin melanjutkan obrolannya itu, kadang dia lupa kalau istrinya adalah mantan seorang wartawati, yang selalu ingin mendapatkan impormasi secara deteil.


"Sudah-sudah, kita tidur saja, malam ini aku kangen kamu, sudah lama kita tidak bermesraan seperti ini"

__ADS_1


Malam pun mereka lalui dengan kemesraan layaknya sepasang suami istri, karna selama 4 bulan, pikiran mereka hanya terfokus pada masalah yang Winda alami saja, walau pun dihari-hari tertentu mereka bisa bermesraan, namun tidak semesra seperti malam ini.


__ADS_2