KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 6


__ADS_3

Akibat hamil, Rianti tidak dapat meneruskan pendidikannya, dia juga bingung harus kerja apa, terpaksa dia mencoba melamar sebagai driver online.


.


Dengan modal mobil, harta yang masih tersisa, yang dia miliki, Rianti memangkas rambutnya seperti laki-laki, dan dia bekerja sebagai driver online.


"Tolong, cepat sedikit, saya sangat buru-buru!"


Lisa terpaksa harus memesan taksi online, karna mobil yang di tumpangi, dia dan seorang laki-laki yang bersamanya, mogok.


Rianti hanya menahan napas, dia tidak menyangka kalau penumpang hari ini adalah Didi dan Lisa.


"Sayang, kamu sudah telpon bengkel?"


"Sudah" Didi dan Lisa tidak mengenali Rianti, sebab penampilan Rianti, benar-benar seperti seorang laki-laki.


Sepanjang perjalanan Rianti berusaha menahan, agar tidak menangis, dia baru mengetahui kalau Lisa lah, penyebab kehancuraan rumah tangganya.


"Terima kasih pak"


Lisa keluar dari pintu yang berlawanan dengan pintu Didi, dia seperti terburu-buru untuk sampai dikantornya, sedangkan Didi dibiarkan tertinggal dibelakang, Didi sempat menoleh kepada Rianti, namun Rianti buru-buru memalingkan wajahnya.


Rianti menangis tersedu-sedu, dia sengaja memarkirkan mobilnya ditepian sungai, perasaan sakit menghantam hatinya, hingga timbul rasa ingin balas dendam terhadap Lisa.


Sebelum bekerja, Rianti menyempatkan diri mampir ketempat sahabatnya, seorang polwan, yang bertugas tidak jauh dari tempat tinggalnya, polwan Hilda begitu baik padanya, sejak kasus meninggalnya, mertua Rianti, dia jadi banyak mengenal orang yang bekerja dikepolisian.


"Hati-hati di jalan ya, yan" Polwan Hilda tidak bosan-bosan mengingatkan Rianti, agar selalu berhati-hati dalam mengendari mobilnya.


Hampir setiap hari Rianti melalui kantor, dimana Didi bekerja, dia berusaha mendapatkan penumpang, karyawan kantor Didi.


"Sialan, bu Lisa, masa dia tega-teganya potong gaji aku sekaligus, nanti bagai mana, aku harus bayar kosanku!"


"Sama, aku juga di potong, kalau ada tempat kerja yang lebih baik, mending aku pindah!"


Dengan menjadi seorang driver online, berbagai karakter orang, Rianti temui, sampai saat, dia berjumpa dengan seorang ibu yang menjadi langanannya, dia seorang pengusaha suskes, yang bergelut di bidang tender batu bara dan proyek-proyek lainnya, dia lebih suka  mengunakan jasa mobil online, dari pada memakai mobil pribadinya.


"Nak Rianti, bagai mana kalau setiap hari kamu menjemput saya, pergi dan pulang dari kantor?"

__ADS_1


"Dengan senang hati bu, saya akan antar-jemput ibu"


Setiap hari Rianti melakukan tugas dengan baik, sehingga ibu Herlina suka pada Rianti.


Ibu Herlina cukup disegani oleh pesaing-pesaing bisnisnya, namun ibu Herlina menyukai kehidupan yang sederhana, bisa berkenalan dengan orang-orang seperti Rianti, adalah sebuah kebahagiaan baginya.


"Yan, kamu tidak mau ganti propesi, dikantor saya lagi ada banyak lowongan loh"


"Mau sih bu, tapi saya hanya lulusan SMA, memang ibu butuh karyawan berapa banyak, kawan saya sedang memerlukan pekerjaan"


"Cukup banyak, saya ingin buka cabang perkantoran dibekasi, tidak begitu jauhlah dari sini, kalau ada temanmu yang berminat, boleh kasih tau saya"


"Baik bu, nanti saya kasih tau teman saya"


"Kamu bagai mana, kamu bisakan, ngetik?"


"Bisa bu, nanti saya pikir kan dulu ya, bu"


Satu-persatu karyawan yang bekerja pada Lisa, pindah kekantor ibu Herlina, dan Rianti pun menjadi karyawan kepercayaannya.


"Waduh Yan, tau gitu dari dulu kamu kerja sama saya"


Rianti begitu cekatan, bila ibu Herlina menyuruh dia melakukan sesuatu, selain tugas Rianti mengantar-jemput, dia pun menjadi sekretaris pribadi ibu Herlina.


"Rianti, kamu mau tidak tinggal dirumah saya?"


"Tidak bisa bu, saya sudah punya dua orang anak, dan saya juga harus menghidupi ibu saya dan ibu mertua saya"


"Oh, kamu sudah punya anak toh, tapi badan kamu kok masih bagus, terus suami kamu kemana, sampai kamu yang harus bekerja sendiri?"


"Suami saya ada bu, kalau diceritakan cukup panjang, tapi saya janji, suatu saat saya akan ceritakan semuanya pada ibu"


Umur ibu Herlina tidak begitu jauh berbeda, dengan umur orang tua Rianti, namun karna perawatan, ibu Herlina terlihat sangat cantik, tapi sayang dia tidak mempunyai anak.


"Yan, kamu kalau saya ajak keluar negeri, atau keluar kota bersedia?"


"Bersedia bu, anak-anak sudah cukup besar, untuk ditinggal bekerja, yang penting jangan terlalu lama"

__ADS_1


"Nggak, paling lama juga cuma satu minggu, kan cuma urus masalah kerja saja"


Rianti mulai tau dunia luar, sebagai sekretaris pribadi ibu Herlina, Rianti sering mundar-mandir, luar negeri dan luar kota, ibu Herlina pun mengajari Rianti berpakaian, yang baik dan prilaku yang sopan, terhadap teman bisnisnya.


Dengan penampilan cantik dan bersahaja, tidak sedikit teman kantor laki-laki-Rianti, yang mencoba mendekati, namun Rianti menolaknya dengan sopan.


"Mama sama ibu hati-hati dirumah, Rianti titip Dimas dan Dina, kalau ada apa-apa tolong telpon Rianti, Nu, kamu jaga Dimas dan Dina baik-baik ya, sayang mama pergi dulu, nanti mama beliin oleh-oleh untuk kalian"


"Asik, aku belikan mobil-mobilan ya, ma"


Sebenar nya Rianti agak berat meninggalkan anak-anaknya, tapi apa boleh buat, dia harus tetap berjuang, untuk merebut kembali apa yang menjadi haknya.


Karna terburu-buru, Rianti menabrak seseorang dibandara, saat ini dia harus pergi sendiri keluar kota, tampa didampingi oleh ibu Herlina.


"Oh, maaf"


"(Rianti)" Didi terkejut, melihat wanita yang menabraknya, namun apa daya dia tidak dapat berbuat apa-apa, karna bodigar suruhan Lisa selalu mengikuti kemanapun Didi pergi.


Pesawat tujuan kalimantan, sudah meninggalkan bandara Sukarno Hatta, tidak harus menghabiskan waktu lama, Rianti pun tiba di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balik Papan.


Perebutan tender antar pembisnis pun segera dimulai, dari perusahaan yang di kelola oleh ibu Herlina, Rianti dan seorang stap pengacara dari kantornya, yang mewakili.


Dan tidak disangka Rianti duduk berhadapan dengan Didi dan Lisa, ternyata merekapun ikut hadir, dalam acara tender perusahaan batu bara disana,


Rianti dan pengacara berusaha memenangkan tender itu, dan akhir nya, perjuangan mereka tidak sia-sia, perusahaan ibu Herlina lah yang memenangkan tender itu.


Mulai saat  itu, nama Rianti dikenal oleh kalangan pembisnis, dia sudah termasuk orang yang patut diperhitungkan, dalam bisnis Batu Bara.


Lisa menatap Rianti dengan tajam, dia mendekati Rianti dengan senyuman sinisnya, setelah acara rapat itu selesai.


"Hebat kamu, tidak disangka gadis kampung seperti kamu, bisa memenangkan tender ini"


Lisa berbisik, lalu berlalu dari ruangan itu, Didi hanya melirik Rianti dengan ujung matanya, dia tidak berani tersenyum kepada Rianti, sebab Lisa selalu mengawasinya.


"Ibu Rianti, kenal dengan ibu Lisa?" pak Burhan pengacara perusahaan ibu Herlina, yang menjadi pendamping Rianti, heran melihat kedekatan Rianti dengan Lisa.


"Ya, saya kenal"

__ADS_1


__ADS_2