KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 8


__ADS_3

Hari ini ibu Herlina mengajak Rianti, melihat yayasan yang didirikannya, khusus untuk anak-anak yatim-piatu, selain panti asuhan disitupun ada sekolah khusus untuk anak-anak tidak mampu, yayasan itu adalah peninggalan suaminya, yang harus ibu Herlina teruskan.


"Bu, bapak benar-benar seorang yang sangat dermawan, hidupnya benar~benar berguna untuk orang banyak"


"Ya, begitulah suami saya, dia bekerja selain untuk dirinya, berbagi dengan orang lain, adalah sebuah kebahagian, untuk dia, apa lagi kita tidak mempunyai anak"


Sebagai orang yang begitu berpengaruh untuk banyak orang, ibu Herlina begitu rendah hati, ribuan anak yatim dia santuni, dari berbagai kalangan, dia tidak pernah membedakan ras atau pun keyakinan


Sepulang dari yayasan, jalanan menuju pulang kerumah begitu macet, mobil yang ditumpangi mereka, tidak dapat bergerak sama sekali, akhirnya ibu Herlina menyuruh sopir, untuk mampir disebuah kafe yang kebetulan mereka lewati.


Rianti memesan dua minuman dan makanan, untuk menunggu waktu, Rianti tidak menyadari, kalau Didi ada dikafe itu juga, sejak kedatangan Rianti dan ibu Herlina, Didi sudah memperhatikan mereka, namun Didi tidak ingin mendekati,  karena bodigar suruhan Lisa selalu ada di dekatnya.


"Burhan, sekarang kamu dimana?" Diam-diam ibu Herlina menghubungi pak Burhan.


"Saya sedang menuju pulang bu, tapi saya sekarang terjebak macet"


Ibu Herlina menyuruh pak Burhan, untuk mampir kekafe, dimana mereka berada, kebetulan tidak jauh dari tempat pak Burhan, saat ini berada.


"Wah, ternyata disana ada teman saya bu, bagai mana kalau kita suruh, dia gabung saja disini?"


"Silahkan saja pak, lebih banyak orang lebih baik, sekalian saja kita makan malam bersama, sepertinya macet bisa sampe malam"


Pak Burhan pun memanggil Didi dan bodigarnya, dan sopir ibu Herlina pun dipanggil juga, sekarang mereka sudah berkumpul disatu meja.


"Wah, gara-gara kebakaran, kita jadi bisa kumpul disini, sekalian pesan makan malamnya ya"


Rianti memesan makanan kesukaan suaminya, Didi merasa terharu, walau hanya bertatapan mata saja, dia bisa merasakan ketulusan Rianti yang tidak pernah berubah.


"Yan, kamu pesan makanan yang pedas semua ya, pak Didi sampai keluar air mata begitu"


Sejak tadi diam-diam ibu Herlina memperhatikan sikap Didi, yang selalu mencuri pandang kepada Rianti.


"Pak Didi, tidak doyan pedas ya?"


Rianti memberikan tisu pada Didi, dia tau kalau suaminya menangis bukan karna pedas, tapi terharu, kalau dia masih bisa makan bersama lagi.


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, namun kemacetan belum juga bisa dipulihkan, Rianti sengaja menelpon anaknya lewat vidio col.


"Mama kenapa belum pulang" rengek si kecil Dina, yang membuat Didi penasaran ingin melihatnya.

__ADS_1


"Bu Rianti, anaknya umur berapa, boleh saya lihat?" Rianti membelok kan handponnya, dan sekarang Didi baru bisa melihat, pertama kali, anak keduanya.


Didi tidak dapat menahan kesedihan, dia beralasan untuk sebentar pergi ke toilet, ditoilet Didi menangis begitu lama, sampai bodigar mengetuk pintu kamar mandi.


Setelah dilihat agak sedikit lancar, mereka pun pulang, Rianti dan ibu Herlina diam seribu basa, mereka seperti merasakan apa yang tadi Didi rasakan, untung bodigar yang menemani Didi tidak mengenal Rianti.


"Rianti, besok kamu kerumah saya dulu ya"


Setelah mengantarkan ibu Herlina, mas Yanto pun mengantarkan Rianti pulang.


"Bu, pak Didi tadi seperti sakit perut, sampai mukanya begitu merah"


Yanto membuka percakapan, karna sejak tadi mereka hanya diam saja.


"Iya kasihan, abis saya tidak tau, kalau dia tidak suka pedas"


Sampailah mereka dirumah Rianti, satpam membukakan pintu untuk Rianti.


"Yanto, kamu bawa saja mobil ini, sudah malam, kamu pulang jangan naek motor"


"Terima kasih bu"


Rianti melihat anak-anak sudah tidur, dia mencium satu per satu anak nya, tidak terasa air mata Rianti menetes, dia masih memikirkan kesedihan yang Didi rasakan tadi.


Dina tidak berani membangunkan mamanya, dia hanya mencium pipi Rianti, sudah menjadi kebiasaan, Dina selalu bangun lebih cepat,


"Aduh gadis kecil mama sudah bangun, maaf ya, semalam mama tidak bisa bacakan buku ceritanya"


Mereka berpelukan, Dimas tidak mau ketinggalan, dia masuk ke kamar Rianti, dan ikut memeluk mamanya.


"Yuk bangun, mandi, kan mau ke sekolah" setiap pagi Rianti yang selalu memandikan Dina.


Selesai sudah rencana yang telah disusun oleh ibu Herlina,


kerja sama dengan Bank terkemuka sudah terlaksana.


"Lisa, Pengajuan pinjaman kita ditolak, aku nggak tau harus bagai mana lagi"


Lisa membanting berkas yang diberikan Didi, dia tidak tau kemana lagi harus mengajukan pinjaman, semua Bank menolaknya.

__ADS_1


Ditemani bodigar, Lisa menikmati minumannya, dia mendatangi Joni di Bar kepunyaannya.


"Tolong pinjamin aku Jon, aku benar-benar ke abisan uang"


"Nih, aku harus jual ini dulu, setelah terjual, besok langsung kutransfer uangnya, kerekeningmu"


"Boleh aku minta sedikit, malam ini aku ingin menikmati dihotel bersama kekasih baruku"


Setelah mengadakan kesepakatan, Lisa dan bodigarnya pergi, mereka langsung menuju kesebuah hotel, untuk melajutkan acara mereka.


"Pak, sepertinya ibu tidak pulang malam ini"


Didi menanggapi laporan Marsel biasa saja, sebab dia sudah mengetahui semua dari Joni.


"Marsel, tolong kamu pergi ke alamat ini, teman ibu ingin memberi hadiah, tolong kamu ambil"


Tampa bertanya lagi, Marsel, bodigar kepercayaan Lisa, yang setia menemani Didi kemana pun, langsung menuju alamat yang diberikan Didi.


Polisi mengikuti mobil yang dikemudikan Marsel, tampa curiga Marsel menepikan mobilnya, polisi langsung memeriksa bungkusan hadiah yang ada disebelah bangkunya.


Tampa tau apa isi hadiah itu, Marsel langsung dibawa kekantor polisi, ternyata bungkusan itu berisi obat terlarang.


"Kamu dapat pesan dari mana, kalau aku ingin diberi hadiah?"


Didi memberikan pesan yang diterimanya, melalui SMS kepada Lisa.


Pemeriksaan berjalan cukup ketat, ternyata no yang mengirimkan pesan SMS kepada Didi, tidak dapat dilacak, terpaksa bodigar kepercayaan Lisa harus meringkuk dipenjara.


Dan Lisa  harus membayar denda, kalau dia tidak ingin ditahan juga, karna polisi mencurigai Lisa ada hubungannya dengan sendikat penjualan obat terlarang.


Kecurigaan Lisa terhadap Joni, tidak dia perlihatkan, seperti tidak terjadi apa-apa, Lisa tetap menagih janji Joni, untuk meminjamkan uang kepadanya.


"Lis, aku pinjemin uang ini sama kamu, tapi bulan depan harus sudah kamu kembalikan plus bunganya"


"Sip, aku pasti tepati"


Dengan membawa cek lima milyar, Lisa pulang kerumah, hari ini dia tidak pergi kekantor lagi.


"Hallo, kamu tidak kekantor lagi?"

__ADS_1


"Tidak, aku masih pusing, kamu saja yang urus semuanya, uang gaji karyawan sudah aku transper"


"Baik kamu istirahat saja dirumah, jaga kesehatanmu"


__ADS_2