KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 14


__ADS_3

Joni mengabarkan, kalau dia telah menemui Rianti, dan Didi memberitahukannya kepada ibu Herlina.


"Sukurlah kalau sudah ditemukan, tapi biarkan saja dulu, jangan kamu ceritakan pada siapa pun, tunggu sampai situasi benar-benar aman"


Lisa mengatur pertemuannya dengan ibu Herlina, dia ingin membahas untuk mengambil kembali perusahaan  yang telah dijualnya.


"Silahkan duduk ibu Lisa" Sekretaris Didi mempersilahkan Lisa menunggu Didi datang, Lisa belum mengetahui kalau sekarang Didi yang menjadi Direktur cabang perusahaan ibu Herlina.


"Selamat datang ibu Lisa, bagai mana kabarnya?"iBu Herlina menjabat tangan Lisa, tak lama kemudian Didi datang keruangan, dimana Lisa dan ibu Herlina berada.


"Bagai mana dengan permohonan saya bu?"


"Maaf ibu Lisa, sebagai ucapan terima kasih saya pada ibu, saya hanya bisa mengoper perusahaan saya yang didaerah,  kalau perusahaan ini, dengan berat hati saya katakan, perusahaan ini tidak akan saya jual, saya rasa ibu Lisa sangat tau, apa alasan saya"


Lisa sangat faham sekali, kalau saat ini perusahaan, ibu Herlina sangat maju pesat, jadi sangat mustahil, kalau dia memberikan perusahaan itu kepada Lisa.


Dengan kecewa Lisa keluar dari gedung perusahaannya dulu, dia begitu geram melihat Didi, karna Didi benar-benar membantu memajukan perusahaan ibu Herlina, sementara dulu Didi tidak lebih, seperti laki-laki simpanan Lisa saja, dia tidak membantu apa-apa untuk perusahaan Lisa.


"Awas kamu Di, akan aku buat kamu seperti dulu lagi!"


Tampa Lisa sadari, Joni memperhatikan Lisa dari dalam mobilnya, dia begitu dendam dengan kematian saudara kembarnya.


"Kamu terus perhatikan dia, cari tau dari mana dia dapatkan obat-obat terlarang itu"


"Setahu saya suaminya, yang menyuplai barang terlarang itu bos, suaminya pemain lama"


Joni hanya tersenyum, semakin dalam saja Lisa terjerumus didunia kegelapan.


"Bilang sama bos kamu, kalau saya mengundang dia, untuk minum bersama saya malam ini" Lisa yang menutupi indentitasnya, dengan menjadi mucikari ditempat itu, hanya tersenyum.


"Maaf pak, bos kami tidak bisa menemani bapak disini, dan dia tidak pernah datang ketempat ini"


"Ya sudah kalau begitu, saya tutup saja, berarti disini tidak ada penyambutan yang cukup istimewa buat saya, jadi untuk apa saya buang-buang uang disini"


Lisa mengerutkan bibirnya, dia berpikir keras bagai mana menjelaskannya, sedangkan tamu yang ada di hadapannya sekarang adalah tamu vip langganannya.

__ADS_1


"Ok bos, saya lah sebenarnya yang punya discotik ini, jadi setiap bos datang, saya selalu menyambut anda dengan istimewa"


"Ha..ha..ternyata bosnya seorang bidadari cantik, ok sekarang mari kita minum"


Dalam mabuknya, samar-samar Lisa seperti melihat wajah Joni, perasaan takut menguasai dirinya, sambil menjerit ketakutan, dia berlari meninggalkan ruangan vip itu.


"Ada apa bu?" seorang sekuriti menarik tangan Lisa, yang hampir saja terjatuh dari balkon lantai dua.


"Ah..tolong bawa saya keruangan saya"


Rasa takut itu terus menghantui Lisa, sampai-sampai dia tidak berani keluar dari ruangannya.


"Apakah itu hantu Joni, atau aku salah lihat, tidak, itu benar wajah Joni, tapi dia, sudah mati!"


Joni sengaja datang setelah Lisa mabuk, agar dia seolah-olah menganggap Joni adalah hantu.


"Ha..ha..ayo kita pulang, lain kali kita kembali lagi kesini" sambil menutupi wajahnya dengan masker, Joni dan kawan-kawan keluar dari discotik itu.


"Akan kubuat dia mati ketakutan" mata Joni sedikit menyipit, dendam yang dia rasakan semakin membara, disaat dia memandang discodik milik Lisa.


"Cukup berhasil, nanti saat kita kembali kesini lagi, tambahkan obat itu lebih banyak keminumannya, buat dia mati ketakutan"


Anak buah Lisa memberitahukan, kalau bos besar yang tadi ditemani Lisa telah pulang, dengan kesal, Lisa memarahi mereka.


"Bodoh, kenapa kamu tidak tahan, kalau kalian tahankan, mereka bisa minum sampai pagi!"


Bagi Lisa uang adalah segalanya, dia tidak peduli uang itu dari mana asalnya.


"Lain kali, kalau mereka datang, berikan wanita-wanita cantik untuk mereka!"


"Marsel, tugas kamu cari banyak perawan, bawa mereka kesini, dengar, pe-ra-wan, jangan coba-coba kamu pake, kalau kamu tidak ingin celaka.


Lisa sudah seperti iblis betina, yang bisa mengamuk, disaat keinginannya tidak terpenuhi.


Dengan dukungan dari suaminya, Lisa bisa berbuat sekehendak hatinya, tidak segan-segan dia memukul dan mempermalukan, anak buahnya, yang berani membantah perintahnya.

__ADS_1


Didi meminta ijin pada Joni, untuk membawa Rianti pulang kerumah, perasaan takut pada Lisa sudah hilang.


Berkat bantuan dan dukungan ibu Herlina, Didi sudah dapat membangun sebuah perusahaan yang cukup disegani, oleh para lawan tendernya.


"Terima kasih Jon, sebagai ucapan terima kasih, aku serahkan perusahaan susu ini kepada kamu, semoga kamu bisa mengolahnya dengan baik"


Perusahaan susu, yang Didi kelola, disaat dia bersembunyi dari Lisa, makin lama semakin bertambah besar.


Didi membuat lebel legal pada perusahaan susunya itu, banyak super market dan mini market yang menjual produk susu, dari perusahaan Didi.


Makin hari DIdi semakin bertambah kaya, Lisa tidak dapat menakut-nakuti dirinya lagi.


Karna semakin besar perusahaan Didi, semakin banyak pula pengusaha-pengusaha yang bergabung dalam perusahaannya.


Sehingga nama Didi dan Rianti, dikenal oleh  kalangan pejabat dan orang besar lainnya.


"Mam, besok kita ada pertemuan dikantor pusat, ibu Herlina ingin mengajukan perusahaan kita, untuk bisa bergabung dengan perusahaan luar negeri, jadi besok, kamu siap-siap ya"


"Baik sayang, enaknya besok aku pakai baju warna apa, menurut kamu?"


"Menurut aku, pakai baju warna apa pun kamu tetap cantik"


Didi memeluk Rianti, yang bingung memandangi bajunya, perpisahan yang begitu lama, membuat mereka setiap saat selalu mesra, kadang kala membuat iri kedua anak-anak mereka yang mulai tumbuh menjadi remaja.


"Semoga Tuhan, menjauhkan kita dari hal-hal yang tidak baik ya sayang, cukup sudah, kita menebus dosa-dosa yang pernah kita lakukan dulu"


"Mama sama papa, kaya perangko, lengket terus" Dina yang tiba-tiba masuk kekamar, ingin mengambil buku yang tertinggal dikamar orang tuanya.


"Ma, kemaren ada dua orang laki-laki, didepan sekolah Dina, yang memperhatikan Dina terus, tapi pas Dina panggil pak Yanto, dia takut"


"kalau kamu, melihat yang mencurigakan, kamu harus cepat telpon pak Yanto ya, kamu tau bagai mana dulu kita bisa berpisah, itu karna ada orang yang membenci keluarga kita, apa lagi sekarang mama dan papa sudah sukses"


Rianti dan Didi mempekerjakan bodigar-bodigar untuk keselamatan keluarganya, sehingga dibanding kekuatan Lisa sekarang, mereka sudah tidak ada apa-apanya. mungkin untuk bertemu dengan Didi pun, susah untuk Lisa.


Pertemuan dikantor pusat, berjalan seperti yang diharapkan, perusahaan Didi semakin melebarkan sayapnya, sampai ke luar negeri, untuk Didi, keberhasilannya ini tidak akan sukses tampa bantuan ibu Herlina, dari itu Didi dan Rianti selalu mendukung ibu Herlina, dalam membangun yayasan yatim-piatu atau panti jompo didaerah mana pun juga.

__ADS_1


__ADS_2