KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 21


__ADS_3

Ruang gawat darurat disibukkan oleh banyaknya pasien kecelakaan beruntun, sebuah bis yang tiba-tiba mengalami rem blong menabrak beberapa mobil sedan di depannya.


"Suster, tolong bantu bapak ini, berikan dia oksigen!"


"Baik dok"


Seorang bapak berumur kira-kira 60 tahun, mengalami pendarahan hebat pada kepalanya, akibat benturan mobil yang dikemudikannya.


Kesibukkan seperti ini, setiap hari Dina hadapi, sebagai seorang dokter, dirumah sakit kepunyaan ibu Herlina, yang saat ini masih dipimpin oleh seorang profesor doktor, sahabat almarhum suaminya.


"Dokter Dina, anda belum pulang?"


"Bagaimana saya ingin pulang dok, pasien banyak seperti ini"


Dokter Dermawan, teman tugas Dina, yang diam-diam selalu memperhatikannya.


"Apa ada pasien yang meninggal dunia dok?"


"Sepertinya tidak ada, tapi pasien yang harus di operasi ringang banyak dok"


Hari ini Dina terpaksa harus lembur lagi, karna dia harus melakukan operasi ringan kepada beberapa pasien kecelakaan itu.


"Dokter Dina, pulang saya antar ya, sudah terlalu malam, saya kawatir kalau dokter pulang sendiri"


"Terima kasih dok, saya jadi ngerepotin"


"Bagaimana kabar keluarga?"


"Baik, main dong sekali-kali kerumah"


"Memang boleh?"


"Boleh lah, kenapa harus nggak boleh"


"he..he, saya takut ada yang marah"


Dokter Dermawan tau, kalau Dina ingin di jodohkan dengan Pedro, anak pemimpin rumah sakit itu.


Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, mereka pun bersiap-siap untuk pulang, namun baru saja mereka ingin menuju lip, dokter Pedro sudah menunggu Dina.


"Dokter Dina, tadi oma telpon, kalau saya harus antar dokter pulang"


Dermawan menarik napas, dia tidak dapat berkata apa-apa.


"Dok, maaf ya, saya harus bareng dengan dokter Pedro"


"Ya dok, silahkan"


Sebenarnya Dina kurang begitu suka dengan dokter Pedro, karna dia terlalu pendiam dan kelihatan begitu serius, tidak seperti dokter Dermawan yang kelihatan santai dan humoris.


"Kamu lelah ya" Pedro membuka percakapan, karna sejak masuk mobil, Dina hanya diam saja.


"Iya, malam ini pasiennya begitu banyak"


"Besok datang agak siangan saja, saya akan jemput kamu"

__ADS_1


"Kamu kan bareng papi kamu, kerumah sakitnya"


"Papi besok harus kerumah sakit pusat, jadi di antar sopir"


"Din, kamu kelihatannya dekat dengan dokter Dermawan"


"Ah nggak juga, biasa aja kok"


"Saya pikir kamu pacaran sama dia"


Dina hanya tersenyum, mendengarnya, dia tau kalau Pedro sebenarnya hanya ingin cari tau saja..


"Kamu sudah punya pacar Din?"


"Belum, mana sempet pacaran, orang setiap hari di rumah sakit"


"Ya, hidup kita sepertinya harus ngurus orang lain terus, sampai lupa mikirin diri sendiri"


Setiap hari mereka berjumpa di rumah sakit, tapi kesempatan mengobrol seperti ini, sangatlah jarang mereka lakukan.


Tidak terasa mobil yang dikemudikan Pedro pun sampai di depan rumah Dina.


"Tidak mampir Dro?"


"Tidak, mungkin lain kali, salam saja sama oma dan mama papa kamu"


"Terima kasih ya, hati-hati di jalan"


Pedro menunggu Dina sampai masuk kedalam rumahnya, setelah itu barulah Pedro melajukan mobilnya.


"Kamu di antar Pedro nak?"


"Iya mam, katanya oma telpon dia"


"Hem, oma sudah tidur sejak sore tadi, badannya agak kurang sehat"


Dina jadi tau, kalau tadi Pedro hanya beralasan saja.


"Oma sudah minum obat belum mam?"


"Sudah, tadi mama suruh minum obat yang kamu kasih kemarin"


Kesehatan ibu Herlina akhir-akhir ini sering terganggu, mungkin karna usia ibu Herlina sudah semakin lanjut.


..


Didi menikmati nasi goreng buatan Rianti, menu kesukaannya, dengan tergesa-gesa dia menghabiskan nasi goreng itu.


"Mas, pelan-pelan dong makannya!"


"Maaf, aku buru-buru, ada rapat yang harus aku hadiri, bu, sepertinya, ibu harus menghadiri rapat kometi pemegang saham minggu depan, karna beberapa pemegang saham saat ini, ada yang ingin mundur dari perusahaan kita"


"Ya sudah, sekalian ibu juga ingin menyerahkan jabatan ibu"


Sebagai pemimpin perusahaan terkenal, ibu Herlina sudah cukup tua memimpin perusahaannya, sudah waktunya dia pensiun dari bisnis yang dia kelola selama ini.

__ADS_1


"Usahakan kamu menang tender kali ini, biar nanti saat ibu menyerahkan jabatan ibu, pada kamu, tidak ada alasan mereka untuk memprotes ibu"


"Iya bu, doa kan saya, agar memenangkan tender tahun ini"


Didi mencium kening istrinya, setelah itu dia juga mencium pangkal tangan ibu Herlina.


"Hati-hati ya mas"


..


Pak Burhan menyerahkan proposal yang akan di rapatkan nanti kepada Didi, sebagai sekretaris kepercayaan, yang sudah bertahun-tahun mengabdi kepada perusahaan, pak Burhan sudah faham benar, jika ada orang yang ingin mengganggu dan berusaha ingin menjatuhkan perusahaannya.


"Maaf, pak Didi, saya rasa kita harus hati-hati pada orang bawahan pak Joni, karna saya perhatikan, dia berusaha ingin menyingkirkan pak Joni dari kedudukannya, agar dia lebih leluasa masuk ke ranah kita, tapi pak Joni sepertinya belum sadar dengan hal itu"


"Iya, saya faham, nanti saya akan beritahu Joni dengan cara saya, lagi pula kita belum ada bukti kuat, kita tidak tau, kalau Joni sudah mengetahui atau belum hal itu, pasti kamu ngerti maksud saya"


Dalam bisnis saham, siapapun bisa jadi lawan, dari itu Didi begitu berhati-hati dalam bertindak, meski itu pada orang kepercayaannya, karna sedikit salah bicara, bisa fatal akibatnya.


..


Ibu Herlina menerima telpon dari pimpinan pusat rumah sakit, bahwasanya, profesor Hendro yang sekarang menjadi pemimpin rumah sakit yang di dirikan oleh ibu Herlina, akan di angkat menjadi pemimpin rumah sakit pusat, jadi ibu Herlina harus mencari pemimpin baru untuk menggantikan kedudukan profesor Hendro.


"Dina, boleh oma bicara sama kamu sebentar"


"Ada apa oma?"


"Bagai mana hubungan kamu dengan dokter Pedro?"


"Biasa aja oma, kami hanya berteman"


"Maaf Din, sebenarnya oma ingin kamu berjodoh dengan dokter Pedro"


Dina hanya diam, sambil menikmati makanannya, dia sudah tau, kalau omanya ingin menjodohkannya dengan Pedro, dari mamanya.


"Tapi, apa dokter Pedro suka sama Dina, oma?"


"Kalau menurut papinya, dia suka sama kamu"


"Tapi menurut, teman-teman di rumah sakit, dokter Pedro sudah punya pacar, oma"


"Kamu dengar dari siapa, bisa sajakan itu cuma rumor?"


"Maaf oma, sebenarnya, Dina tidak begitu suka pada Pedro, Dina sudah ada orang yang Dina suka"


"Dina, kamu pasti tau apa tujuan oma menjodohkan kamu dengan Pedro?"


"Dina sangat tau oma, tapi kalau memang menurut oma Pedro lebih pantas memimpin rumah sakit itu, Dina tidak keberatan"


"Oma ingin kamu dan dia memimpin rumah sakit itu bersama-sama"


Lagi-lagi Dina hanya terdiam, dia tidak tau harus bagaimana, apakah dia harus mengorbankan lagi cintanya demi bisnis, dan dia pun pamit untuk berangkat kerja.


"Bu maaf, apakah kali ini, ibu tidak membiarkan Dina untuk memutuskan sendiri pilihannya?"


Ibu Herlina hanya termenung, sebenarnya dia merasa kasihan dengan cucunya, tapi kesepakatan dia dengan perofesor Hendro, membuat dia jadi bersikap egois.

__ADS_1


__ADS_2