
"Mam, aku mungkin hari ini pulang agak telat, istri pak Burhan sakit, jadi pulang dari kantor rencananya mau langsung nengokin"
"Ya, salam sama pak Burhan ya mas, aku belum bisa kesana, tolong kasih tau, mama dirumah juga lagi sakit"
Sakit yang diderita ibu Joko tiba-tiba kambuh lagi, penyakit jantung yang sudah tiga belas tahun, tidak kambuh, akhir-akhir ini dia rasakan kembali, setelah melihat ada seekor ular dihalaman rumah Rianti.
"Mah, jangan lupa minum obatnya, mama dioperasikan, nggak mau!"
"Yan, kok di depan rumah kita bisa ada ular ya, mama nggak habis pikir"
"Ya, Rianti aja bingung, untung mama cepet ngeliat, coba kalau sampe masuk kerumah"
"Anehnya pak Arip kok nggak tau, padahal setiap hari yang urus tamankan dia" Ibu Diman pun merasa heran.
"Dreeet!"
"Halo, ada apa to?"
"Hallo bu, Ibu Herlina masuk rumah sakit, mobil yang saya bawa, di tabrak dari belakang"
"Baik, saya akan kesana, tolong kamu tunggu saya"
Rianti buru-buru menuju rumah sakit dimana ibu Herlina di rawat, terlihat ibu Herlina terbaring dengan luka di dagunya, akibat terbentur oleh bangku.
"Ya ampun dok, apakah ini harus di operasi?"
Ibu Herlina hanya memejamkan mata, setelah mendengar penjelasan dokter, terpaksa dagunya harus di operasi, karna setelah di ronsen, ada tulang dagunya yang retak.
Kejadian demi kejadian menimpa keluarga dan lingkungan kantor ibu Herlina, oleh sebab itu penjagaan lebih diperketat lagi oleh Didi.
"Jon, apakah kita harus mulai untuk menghabiskan mereka?"
"Sabar, kita tidak boleh menuduh sembarangan, karna belum ada bukti kuat, kalau Lisa lah pelakunya"
"Aku akan coba mendekati dia, hanya dengan itu kita bisa menyingkirkannya"
"Gila, nggak salah kamu, coba pikirkan dulu Jon, pasti ada cara lain?"
"Kita mana tau pergerakkan dia Di, kalau kita tidak dekat dengan dia, lagi pula aku akan berpura-pura, kalau aku tinggal di Amerika, kebetulan ada kerabatku disana"
Setelah di bicarakan dengan Rianti dan ibu Herlina secara tertutup, mereka pun menyetujui usulan Joni, untuk mendekati Lisa kembali.
Lisa terkejut menerima telpon dari Joni, yang menelponnya dari luar negeri, Joni menanyakan bagaimana kabar temannya itu.
"Halo Lis apa kabar?"
"Halo ini siapa?"
"Ha..ha, kamu lupa sama aku, aku Joni!"
__ADS_1
Jantung Lisa berhenti sejenak, mendengar nama Joni, dia berpikir, bukankah Joni telah mati dia racuni.
"Kamu tinggal di mana sekarang?"
"Aku di Amerika"
"Kapan kamu kembali ke Indo?"
"Mungkin tidak, disini lebih gampang jual barangnya, jadi untuk apa aku kembali"
"Kamu..."
"Kenapa Lis?"
"Ah..tidak, maksudku, kamu tidak kangen dengan keluargamu?"
"Aku sudah nggak punya keluarga Lis, orang tuaku sudah membuang aku, aku hidup sendiri di Amerika"
"Kapan kamu ingin mengunjungi aku, nanti aku kirim alamatnya"
"Kamu..tidak tau kalau saudara kembarmu meninggal?" Lisa baru sadar, kalau Joni terlahir kembar.
"Baguslah itu, karna dia, aku di usir oleh keluargaku"
Lega hati Lisa mendengarnya, ternyata Joni membenci saudara kembarnya itu.
"Bagaimana, kamu masih menjual barang, di indo?"
"Wah keren, kamu sudah jadi bos ya, sekali-kali main ketempatku disini, mungkin kamu minat berinpestasi didiscotikku"
"Wow, kamu buka discotik disana, ok, nanti aku main ketempatmu, aku sedang urus masalahku dulu"
"Jangan terlalu lama, karna minggu ini bos dari texas akan datang, nanti aku bisa kenalin kamu dengan dia"
"Ok..ok, aku pasti kesana"
Lisa begiru yakin, kalau Joni benar tinggal di Amerika, karna Lisa sangat tau, bagaimana karakter Joni, mereka bersahabat sejak masih kuliah dulu, Lisa merasa Joni dan dirinya adalah setali tiga uang, yang bisa menghalalkan segala cara demi untuk uang.
..
Rianti harus mundar-mandir antara rumahnya dan rumah ibu Herlina, karna dia harus mengawasi mamanya dan ibu Herlina, keduanya sangat penting bagi kehidupan Rianti.
"Bagaimana keadaan mama kamu Yan?"
"Sudah agak sehat bu, sebenarnya mama cuma kaget saja"
"Semoga kesananya, kita tidak mengalami hal-hal yang aneh lagi ya"
Yayasan panti jompo pun tak luput dari sasaran orang jahat, yang mencoba membakar asrama itu, untung petugas pemadam kebakaran cepat datang kelokasi, sehingga kebakaran itu tidak merembet kemana-mana.
__ADS_1
Sepertinya pesaing bisnis ibu Herlina, menginginkan nama baik ibu Herlina tercoreng, supaya inpestor yang mempercayakan saham mereka, kepada perusahaannya satu persatu pergi.
"Di, apakah kamu mencium ada gelagat yang tidak baik, dengan rekan bisnis kita?"
"Saya mencurigai satu orang rekan bisnis kita bu, dia seperti ingin mendukung lawan tender kita, saya tidak tau, apakah dia juga menaruh sahamnya di perusahaan itu"
"Namanya siapa, nanti saya coba cari tau"
"Pak Radit, inpestor kedua, dari perusahaan kita"
"Baik, kalau memang terbukti, alihkan sahamnya ke perusahaan kedua kita, terserah dia, ingin terus atau ingin cabut inpestasinya, kita jangan main-maIn lagi dengan orang seperti itu, karna taruhannya nyawa"
Sebenarnya Didi sudah lelah dengan pekerjaan seperti ini, namun jika dia berhenti, ribuan kelangsungan hidup karyawan batu bara ada di tangannya, belum lagi perusahaan dan yayasan yang ada di bawah naugan perusahaan ibu Herlina.
"Kamu capek mas, yuk aku pijitin!"
"Bagaimana keadaan ibu, sayang?"
"Sudah lumayan baik, besok dokter akan memeriksa kembali hasil operasinya"
Sambil memijit kaki suaminya, Rianti kembali menceritakan yang tadi siang dia alami, disaat dia sedang melihat mal milik ibu Herlina, tidak disengaja dia bertemu Lisa, yang sedang memilih baju dibutik yang ada di mal itu.
"Mas, apakah Lisa tidak tau kalau mal itu milik ibu Herlina?"
"Sepertinya begitu, hanya kita dan orang-orang yang mempunyai saham di mal itu saja yang tau"
"Aku tidak menyangka, bisa bertemu orang yang sekaya ibu Herlina, sebenarnya, jika dia tidak bermain terderpun, hartanya tidak akan pernah habis"
"Bukan itu yang dia pikirkan sayang, ibu hanya memikirkan jutaan karyawan di luar sana, yang menggantungkan hidupnya pada perusahaannya"
"Ya, dia benar-benar orang baik, semoga yang maha kuasa selalu melindunginya"
"Dan semoga kita juga selalu diberi kekuatan, agar kita bisa terus membantunya" harapan Didi.
Didi mendekati Rianti, yang sudah lama tidak disentuhnya, kesibukan dan penyakit yang diderita Rianti, membuat Didi tidak dapat mendekati istrinya, dengan waktu yang cukup lama.
"Mam, kalau malam ini aku mendekatimu, bolehkan?" dengan senyum manja Rianti menyusupkan kepalanya kedada Didi, dia pun merasakan kerinduan yang sama, seperti Didi rasakan.
Malam yang indah yang pernah mereka lalui, kini terulang kembali,harapannya, perpisahan tidak akan terjadi lagi pada kehidupan mereka, kecuali kehendak yang maha kuasa.
"tok..tok, mam, aku dan kakak berangkat dulu ya" ketukkan pintu kamar, mengejutkan Rianti.
"Ya ampun, sudah jam berapa ini?" Rianti buru-buru mengenakan pakaiannya, semalaman dia dan Didi, tidur dalam keadaan tidak mengenakan pakaian,
"Ì-iya sayang, hati-hati di jalan ya" sambil berlari, Rianti menuju pintu kamarnya, dilihatnya Dina sudah menuruni tangga menuju lantai bawah.
"Maaf, mama dan papa kesiangan sayang"
"yes ok mam, kami berangkat dulu" Dimas memberikan kissbye kepada mamanya, disusul oleh Dina.
__ADS_1
"Semoga kalian selamat"