
Albi terbangun dari tidur nyenyaknya, dan meraba tempat tidur di sampingnya dan berharap masih ada Fia yang tertidur, tapi hasilnya nihil. Entah jam berapa Fia meninggalkan dia yang masih tidur. Albi menggerakkan badan dan mulai turun dari kasurnya, kemudian berjalan ke kamar mandi karena memang sudah Subuh. Dia menatap cermin dan melihat tubuhnya yang penuh tanda merah, tersenyum kecil saat ingat kejadian semalam
"Ternyata dia lebih senang memberiku bekas kukunya dari pada bibirnya" gumam Albi
Hasil pergulatan semalam Albi mendapat hadiah cakaran dari Fia bukan kissmark seperti yang dia berikan. Lama Albi di kamar mandi, setelah membersihkan diri, lalu dia keluar dan menjalankan tugas sebagai seorang Muslim. Usai Sholat dia mencari istrinya ke dapur, dan ternyata istrinya sedang berdiri di depan Oven menunggu roti yang sedang di panggang.
Albi mendekat dan langsung melingkarkan tangan di perut Fia, kepalanya dia letakkan di pundak kiri Fia sambil mencium pipi istrinya.
Fia terkejut "Mas Bian,, kirain masih tidur, baru mau di bangunin"
"Ini sudah jam berapa sayang?" ucap Albi yang makin mengeratkan pelukannya
Kali ini pun Fia di buat terkejut dengan perkataan Albi, "Apa tadi?" tanya Fia
"Sayang" tegas Albi sambil mencium lembut kening Fia
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu tidak menyukainya?" tanya Albi lagi
"Bukan begitu, emmm,,,, itu,,, anu,,," jawab Fia gugup
"Mas Bian kerja hari ini?" Fia mencoba mengalihkan perhatian
"Tidak, aku ingin di rumah saja hari ini" jawab Albi
"Lepas dulu mas, ini rotinya sudah matang, nanti kena loyang lho" Fia berusaha melepaskan pelukan Albi yang sedari tadi memeluknya, dengan terpaksa Albi pun melepaskannya
Setelah mengeluarkan roti dari Oven, Fia membuatkan kopi untuk Albi sebagai teman makan roti dan menyajikannya di meja tamu, karena Albi sedang membuka laptop untuk mengecheck hasil kerja karyawannya.
"Duduk disini saja" tunjuk Albi pada pahanya
"Kalau aku di pangku, nanti kamu tidak bisa kerja" jawab Fia
__ADS_1
"Kalau kamu pergi, aku malah tidak fokus"
"Ya dech!!" akhirnya Fia mengalah
"Bagaimana cara dia kerja kalau aku duduk di pahanya? Dasar mesum" bathin Fia
Fia memutar otak mencari cara agar lepas dari Albi. Kejadian semalam saja masih terasa sakit, tidak mungkinkan Fia akan mengulangi lagi, bisa robek nanti. Dan kalau di tolak, bisa runyam urusannya
"Mas, aku mau ganti sprei sama selimut dulu ya di kamar!" ucap Fia yang menemukan ide
"Sudah mas ganti tadi" Albi memang melakukannya sebelum dia keluar dari kamar
"Oh,,, kalau gitu aku mau cuci dulu sprei sama selimutnya" Fia masih saja mencari alasan
"Tidak perlu, mungkin sudah di cuci sama bibi" ya setelah Albi menggantinya, Albi memberikan sprei itu pada bi Mina
__ADS_1
"Hah,,,, tapi khan mas, di sprei itu ada nodanya, sama di selimutnya juga ada sedikit, tadi aku lihat koq!" Fia merasa malu jika ada orang lain yang melihat bekas darah perawannya menempel di sprei dan selimut
"Sudah mas bersihkan tadi sebelum di antar ke bi Mina, tidak perlu alasan lagi, sudah diam saja disini" ucap Albi sambi menoel hidung Fia yang masih mengerucutkan bibir karena kesal, dan Albi mengecup bibir itu karena gemas dengan Fia