Kata Hati

Kata Hati
23


__ADS_3

Hari ini cuaca sangat cerah, secerah sepasang pengantin baru yang baru berusia tiga hari. Bukan sepasang, hanya Fia saja yang cerah, tidak dengan Albi. Setelah pertempuran malam pertama mereka, Fia tidak ingin mengulanginya lagi, dengan alasan masih terasa sakit dan perih. Bahkan Fia tidak ingin keluar dari rumah, malu jika harus bertemu dengan banyak orang dengan cara jalan yang agak berbeda, berlebihan memang,,, entahlah, mungkin hanya alasan Fia saja. Sedangkan Albi, masih terus bertarung memutar otak mencari cara agar Fia mau melakukan kembali malam ini.


Perlahan Fia mendekati Albi sambil membawa kopi dan red velvet yang baru saja dia buat untuk cemilan pagi ini


"Mas, tadi mas Alvin telpon" sapa Fia setelah meletakkan apa yang dia bawa tadi


"Oh,,, apa katanya?" sahut Albi


"Mas Alvin tanya, kapan dia bisa di panggil Daddy?" ucap Fia

__ADS_1


"Lah,,, emang yang nikah siapa? Kenapa jadi dia yang maksa di panggil Daddy! Kalau besok Alvin tanya lagi, katakan, tidak akan ada yang panggil Daddy atau Papa, karena Mamanya tidak mau di ajak buat baby" Albi yang kesal pun akhirnya bisa meluapkan pada Fia


"Khan sudah mas kemarin malam!" jawab Fia polos


"Kalau cuma sekali mah tidak akan jadi Fi,,,"


"Ya kalau kamu pengen cepat ada baby, kita harus sering melakukannya, bukan cuma sekali" jelas Albi


"Sakitnya berkali-kali kalau gitu, mau punya baby koq repot amat ya!"

__ADS_1


"Tidak sayang,,,, percaya ya sama aku, kalau nanti lebih sakit dari yang kemarin, kamu boleh minta berhenti saat itu juga, okey" Albi tetap membujuk Fia agar mau melakukan lagi. Hasratnya sudah tak dapat lagi di bendung.


"Hmmm, tapi mas, nanti tanda di leher aku tambah banyak donk! Yang kemarin aja belum hilang, mas Bian buatnya kebanyakan, aku jadi malu mau keluar rumah" dari kemarin Fia sudah tak keluar rumah selain alasan sakit, dia juga malu dengan kissmark yang hampir penuh di lehernya


"Nanti mas buatnya bukan di leher lagi, tapi tempat yang lain, disini juga bisa" tunjuk Albi pada pangkal paha Fia, tanpa aba-aba Albi langsung mambawa Fia dalam gendongannya dengan nafsu yang tak tertahan lagi, sedang Fia langsung menutup muka dengan kedua tangannya karena malu dengan ucapan Albi sambil menunjuk area sensitifnya


Perlahan namun pasti, perjalanan mereka mengarungi surga dunia mulai terbuka. Albi mengecup kening Fia dengan penuh kehangatan, lalu ke mata kiri dan kanan, beralih ke pipi kiri dan kanan, saat berlabuh di bibir Fia, awalnya Albi mengecup dengan lembut, setelah tak ada penolakan, Albi mulai ******* dan berperang lidah, merasa cukup disana, Albi mulai mengecup leher Fia, hanya mengecup, Albi tak ingin Fia menggerutu lagi, karena masih ada tempat lain, tangan Albi pun sudah menjalar mencari tempat yang semestinya, Albi mulai membuka semua baju Fia dan melempar tak tentu arah, kemudian membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya


Sementara Fia, hanya pasrah menerima perlakuan Albi, dengan wajah yang bersemu merah, menahan malu karena masih siang Albi sudah melakukannya, ingin menolak, tapi hasrat lebih dominan dari keinginannya. Fia pun mulai mengikuti alur permainan Albi. Suara desahan yang tercipta seperti alunan melodi indah kala itu

__ADS_1


__ADS_2