
"Sistem Seribu Akun, @bukanaku."
Klik
Bip bip bip
[Ding]
[Selamat datang Mr. Are you ready to accept the account system]
"Aku... apa Aku telat?"
Reo baru saja pulang dari jalan-jalan dengan temannya yang lain. Dia terlalu asyik dan menikmati kebahagiaan bersama dengan temannya, sehingga lupa dengan misi yang harus diselesaikan.
[Ding]
[Masih ada waktu sepuluh menit lagi Mr]
"Sepuluh menit? apa Aku akan gagal untuk mendapatkan uang dengan jumlah sebesar itu dalam waktu singkat?"
[Misi tantangan sudah diterima. Mr harus menyelesaikannya, berhasil atau gagal adalah sebuah resiko]
"Baiklah. Aku akan siap."
Klik
[Ding]
Bip bip bip
[10%]
[20%]
[40%]
[60%]
[80%]
[100%]
Saatnya Reo beraksi lagi, demi menyelesaikan misi tantangan yang harus dia kerjakan. Yaitu mengumpulkan uang sisa berjumlah Rp.700 juta, supaya genap menjadi Rp.1 M yang ditargetkan.
Reo berusaha keras untuk menaikkan taruhan slot yang dipasang. Dan sekarang waktunya tinggal 10 detik lagi, dengan jumlah uang kurang dari Rp.150 juta dari keseluruhan yang dibutuhkannya hari ini.
[Ding]
Bip bip bip
Ternyata waktunya telah habis. Keseluruhan uang yang terkumpul ada Rp.915 juta, yang artinya, uang misi tantangan kurang Rp.85 juta lagi genap menjadi Rp.1 M sesuai dengan target misi tantangan yang diberikan oleh Sistem Seribu Akun.
"Ahhh..." kesah Reo menyesal.
Dia menyesal karena telah melupakan misi tantangan tersebut, dan menerima ajakan teman-temannya untuk pergi.
[Ding]
[Maaf Mr. Anda gagal dalam misi tantangan ini. Semua uang yang sudah terkumpul, akan hilang dari akun Bank]
"Jadi, Aku tidak ada tabungan sama sekali?"
[Bukan. Yang itu Mr sendiri yang harus mengosongkan]
"Maksudnya?" tanya Reo tidak paham.
__ADS_1
[Sistem memberikan kesempatan kepada Mr, untuk mengosongkan semua uang yang ada di akun Bank ke sebuah yayasan amal atau memilih untuk menabung sebagian modal]
Reo, dengan seksama membaca setiap kalimat yang tertulis di layar LED tersebut. Dia juga harus bisa memahami setiap perintah dari sistem, yang harus dia kerjakan supaya tidak salah langkah.
Tanpa banyak berpikir, Reo mengikuti arahan yang diberikan oleh Sistem. Dia tidak memikirkan apapun tentang dirinya. Dia hanya berpikir bahwa, apa yang dia miliki saat ini juga karena adanya Sistem. Jadi, seandainya dia tidak memiliki apa-apa lagi, itu adalah hal yang wajar.
"Aku perlu uang untuk menyelesaikan kesulitan dalam kehidupanku dan ibu, namun tujuan menjadi kaya adalah demi membantu lebih banyak orang yang mengalami kesulitan, sama sepertiku, lagi pula sekarang tidak ada masalah sulit lagi yang hanya memerlukan uang."
Akhirnya Reo menekan tombol enter, melanjutkan perintah sistem selanjutnya.
Klik
[Ding]
Bip bip bip
[10%]
[20%]
[40%]
[60%]
[80%]
[100%]
[Pengosongan akun Bank selesai. Saldo rekening kosong]
"Haahhh..."
Reo membuang nafas lega, setelah menyelesaikan tugasnya.
Sekarang dia menonaktifkan Sistem, karena waktunya bermain sudah selesai. Dia ingin pergi mandi, sebelum ibunya pulang.
"Bagaimana jika Ibu bertanya, apakah ibu dari temanku itu jadi memberinya modal atau tidak? apa yang akan aku katakan sebagai jawabannya nanti?"
Reo bingung, seandainya malam ini ibunya bertanya tentang modal dan menyinggung soal ruko yang ditawarkannya kemarin.
***
Malam ini, Reo sedang makan malam bersama dengan ibunya. Dari luar, terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang.
Tok tok tok
"Sepertinya ada tamu," kata Lay, mendengar suara ketukan pintu rumahnya.
Reo mengganggukkan kepalanya, karena dia juga mendengar ketukan pintu tersebut. "Iya Bu. Sepertinya ada tamu di luar," sahut Reo, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Akhirnya Reo melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu. Dia ingin melihat, siapa yang datang bertamu ke rumahnya malam ini.
Clek
"Permisi, Reo. Apa kabar?"
Ternyata yang datang berkunjung adalah Ryanoir, pemilik warnet, yang datang dengan penampilannya yang terlihat sangat berbeda. Dia mengenakan stelan jas yang elegan dan tampak berkelas.
Malam ini Ryanoir mengenakan pakaian yang lebih rapi, tidak seperti biasanya yang Reo ketahui. Wajahnya yang tegas terlihat lebih menawan, dengan senyum sumringah tapi sedikit gugup, membuat Reo bertanya-tanya apa maksud dari kedatangan pemilik warnet tersebut.
"Pak Ryan? K-abar baik Pak Ryan, mari masuk!" Reo mempersilahkan Ryanoir untuk masuk ke dalam rumah.
"Terima kasih," ucap Ryanoir, saat Reo mempersilahkan dirinya untuk duduk.
"Reo, ibumu... emhh, apa ibumu ada di rumah?" tanya Ryanoir gugup.
__ADS_1
"Ya. Ya ada, dia sedang di dalam. Ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya Reo, sebelum memanggil ibunya.
"Sebenarnya, emhhh... Bapak ingin berbicara dengan ibumu. Ini... tentang sesuatu yang penting."
Reo mengerutkan keningnya bingung, dengan apa yang dikatakan oleh Ryanoir kali ini. Dia curiga, jika pemilik warnet tersebut akan membicarakan tentang ruko yang sudah dia beli kemarin itu.
"Ini bukan soal ruko, kan Pak?"
"Bukan Reo, bukan."
"Oh, baiklah. Silakan menunggu sebentar, saya panggil ibu dulu."
"Terima kasih. Maaf mengganggu, dan merepotkan kamu, Reo."
"Tidak apa-apa, Pak."
Reo akhirnya masuk lagi ke dalam, memanggil ibunya yang masih menyelesaikan makan malamnya.
"Siapa, Sayang?" tanya Lay, saat Reo sudah kembali lagi.
"Ada Pak Ryanoir, Bu," jawab Reo.
"Pak Ryan, ada apa ya?"
"Sebaiknya Ibu keluar menemuinya. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan dengan Ibu."
Lay menggangguk, kemudian meneguk air putih untuk di minum terlebih dahulu. Baru setelannya dia ke luar bersama dengan Reo.
"Selamat malam, Pak Ryan. Ada apa ya, pak?"
Ryanoir tidak langsung menjawab pertanyaan dari Lay, tapi menunggu Lay duduk terlebih dahulu. Reo juga akhirnya ikut duduk bersama dengan ibunya, menunggu Ryanoir menyampaikan maksud kedatangannya.
Wajah Ryanoir tampak menegang, meskipun dia belum sempat mengatakan apa yang ingin disampaikan.
"Apa yang ingin Bapak bicarakan dengan ibu?" tanya Reo, karena Ryanoir justru terdiam dan tidak segera berbicara.
"Emhhh... sa-ya ingin melamar ibumu, Reo." Akhirnya Ryanoir bisa juga menyampaikan apa yang ingin dia katakan meskipun dengan keadaan gugup.
Lay sendiri cukup terkejut mendengar jawaban yang diberikan oleh Ryanoir. Dia tidak pernah menyangka, jika pemilik warnet tersebut menginginkannya sebagai seorang istri. Padahal mereka berdua jarang sekali berbincang-bincang, saat Lay hidup di gudang ruko warnetnya.
"Oh, begitu. Reo tidak dapat memberikan keputusan karena itu adalah hak ibu sendiri, apakah mau menerima atau menolaknya."
Reo memberikan keputusan akhir pada ibunya, karena bagaimanapun juga, ibunya berhak menentukan pilihannya sendiri.
"Tentu saja, Bapak mengerti. Bapak hanya ingin memberitahu bahwa Bapak mencintai ibumu dan siap untuk menjaganya, selamanya. Bersama dengan kamu juga, Reo."
Tapi sebelum Lay memberikan jawaban atas lamaran yang diajukan oleh Ryanoir, ada dua orang tamu yang datang ke rumahnya.
Brakkk
"Lay, bunga hutangmu yang bulan ini belum ikut terbayar! Jadi kamu harus melunasinya sekarang juga!"
Tamu tersebut dengan kasar mengebrak pintu, kemudian berkata dengan suara keras menagih bunga hutang, yang katanya belum ikut terbayar untuk bulan ini.
"Bu-kannya sudah semuanya terbayar lunas?" tanya Lay kaget.
Reo dan Ryanoir juga sama kagetnya, ketika orang tersebut menggertak dengan suara yang keras.
"Belum. Dan bunga hutang itu ada 50 juta!"
Tentu saja Lay kaget dan lemas, mendengar sejumlah uang yang sebutkan oleh penagih tersebut. Dia tidak mungkin bisa memberikan uang sebesar itu malam ini juga.
Reo juga tidak bisa melakukan apa-apa, karena yang yang ada di Bank digital Sistem, telah disumbangkan seluruhnya ke yayasan amal yang ditunjuk oleh Sistem Seribu Akun.
Ryanoir ingin sekali membantu, tapi dia sedang tidak ada uang cash untuk saat ini.
__ADS_1
"A-pakah kalian mau menunggu sampai besok pagi?" tanya Ryanoir mencari jalan keluar dengan cara bernegosiasi.