Kaya Dengan Seribu Akun

Kaya Dengan Seribu Akun
Bab 34


__ADS_3

Lima bulan kemudian.


Di tempat lain, Dito mulai merasakan bahwa omset penjualan mie goreng dan mie rebus miliknya mulai merosot.


"Sepi banget sih," keluhnya memperhatikan keadaan sekitar.


Kursi-kursi pengunjung atau pembeli yang biasanya ramai, sekarang ini kosong. Hanya ada dua kursi yang diduduki, itu pun sudah beberapa jam yang lalu dan orang itu belum pergi. Kemungkin pembeli tersebut sedang menunggu teman atau sudah memiliki janji sehingga mereka belum pergi.


"Ada apa ya?" gumam Dito heran.


Perjuangan Dito dalam mempertahankan restorannya memang sudah dimulai sejak lama. Dia memang sangat mencintai usahanya yang telah ia dirikan bertahun-tahun yang lalu, di mulai dengan gerobak dorong hingga bisa membuka sebuah restoran yang menghidangkan berbagai macam mie goreng dan mie rebus dengan cita rasa yang lezat dan bumbu yang khas. Namun, baru-baru ini ia mulai merasakan penurunan jumlah pengunjung dan penjualan. Bahkan, ada beberapa kali restorannya kosong tanpa ada satupun pelanggan yang datang.


Tentu saja, hal ini membuat Dito sangat khawatir. Ia berpikir keras mencari tahu apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Dia memeriksa kembali resep dan cara memasak mie goreng dan mie rebus miliknya, meminta umpan balik dari pelanggan, dan membandingkan restorannya dengan restoran lain di sekitar. Namun, dia tidak menemukan apa pun yang salah.


"Tidak ada yang salah."


"Semua masih sama seperti dulu."


Dito tidak menemukan kesalahan ataupun perbedaan dari resep miliknya yang memang sedari dulu sama. Bahkan dia juga merasa bahwa rasa dari masakannya tetap enak.


Akhirnya Dito mengeluarkan modal yang cukup besar untuk mengajak seorang ahli untuk memeriksa keadaan restorannya, mulai dari fasilitas dapur hingga ruang tamu, sebagaimana layaknya sebuah restoran yang ada di hotel bintang lima. Tapi hasilnya tetap sama, semuanya baik-baik saja.


"Tapi kenapa sepi dan tidak ada yang datang membeli?" tanyanya heran.


Dito merasa sangat frustrasi dan jengkel karena restorannya semakin sepi dari hari ke hari. Dia mengumpat dalam hatinya, "Apa yang salah dengan restoran ini? Aku telah memberikan yang terbaik untuk pelanggan, tetapi mengapa mereka tidak datang?"


Perasaan kesal dan jengkel semakin menjadi-jadi, membuat dito merasa tertekan.


"Apa yang terjadi? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Atau apakah ini hanya masalah waktu? Aku harus berpikir keras untuk menemukan solusinya, dan jika tidak, aku akan kehilangan segalanya."


Dito merasa kesal dan marah dengan situasinya saat ini. Dia tidak bisa memahami mengapa penjualan di restorannya terus menurun, padahal dia telah mengabdikan dirinya sepenuh hati pada usahanya. Namun, meskipun begitu, dia tidak ingin menyerah begitu saja. Dia terus mencari tahu penyebab sepihnya restorannya dan berusaha mencari solusi yang tepat agar restorannya bisa kembali ramai seperti dulu.


Setelah beberapa lamanya berpikir dan mencari tahu mengapa restorannya semakin sepi, Dito akhirnya menyadari bahwa Sistem Penjual miliknya sudah tidak ada atau menghilang. Ia merasa sangat marah dan emosi karena tidak bisa memahami bagaimana hal itu bisa terjadi. Ia telah menginvestasikan banyak uang dan waktu untuk mendapatkan Sistem Penjual tersebut, dan tiba-tiba saja sistem itu hilang tanpa sebab yang jelas.

__ADS_1


"Arghhh, sial! Apa yang terjadi? kenapa dia tidak aktif?" tanyanya kemudian.


Dito merasa sangat frustrasi dan terganggu oleh situasi ini. Ia merasa seperti dirugikan oleh kejadian ini dan merasa tidak dihargai oleh orang-orang yang telah membantunya sebelumnya. Dengan emosi yang meluap-luap, Dito akhirnya mengamuk dan merusak beberapa peralatan di restoran.


Praaang


Bruakkk


Pyaarrr


"Arghhh, br3ngs3k!"


"Sia-sia aku mencuri Sistem Penjual itu dari temanku! Apakah Sistem Penjual telah pergi dan kembali pada pemilu asal?"


Ternyata Sistem Penjual yang Dito miliki, juga hasil dia mencuri dari salah satu temannya yang sudah sukses menjadi pengusaha restoran di kota lainnya.


"Kenapa jadi begini? Apa yang sudah aku lakukan, sehingga Sistem Penjual setega itu denganku?"


Dito berpikir jika restorannya sepi karena Sistem Penjual yang dia miliki sudah tidak ada lagi. Dia lupa, jika kesuksesnya ini juga ada campur tangan dari Reo yang memiliki Sistem Seribu Akun.


Bruakkk


Namun, setelah beberapa saat kemudian dan emosinya sudah mereda, Dito menyadari bahwa perilakunya tidak membawa solusi dan hanya membuat situasi menjadi lebih buruk. Dia menyadari bahwa ia harus tenang dan menenangkan dirinya untuk mengatasi situasi ini dengan cara yang lebih konstruktif.


"Huhfff..."


"Tenang, harus tenang..."


Dito kemudian mulai berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi dan mencari tahu penyebab kehilangan Sistem Penjual miliknya.


"Aku harus mencari tahu terlebih dahulu, apakah temanku yang sistemnya aku curi itu bangkrut atau tidak?"


"Jika dia tidak mengalami kebangkrutan, bisa dipastikan bahwa meskipun Sistem Penjual yang sudah bersamaku diambil oleh orang lain, aku tidak akan bangkrut juga."

__ADS_1


"Tapi jika temanku itu jatuh bangkrut, maka bisa dipastikan jika kebangkrutan ini juga memang memiliki hubungan dengan hilangnya Sistem Penjual."


Berbagai macam pertanyaan dan praduga digumamkan Dito, karena pemikirannya tentang Sistem Penjual saja.


"Ah, ya aku lupa!"


Setelah berpikir sekian lamanya, dengan berbagai kemarahan yang ada, akhirnya Dito baru menyadari bahwa dia telah melupakan Reo. Seorang remaja yang telah membantunya bangkit dan mengaktifkan Sistem Penjual sehingga lebih efisien.


"Apa mungkin Reo yang mengambil Sistem Penjual itu?" tanyanya penuh dengan dugaan.


Setelah berpikir bahwa bahwa Sistem Penjual miliknya telah hilang dan dipastikan jika diambil oleh Reo, Dito merasa sangat marah dan kecewa. Ia merasa dikhianati oleh seseorang yang selama ini ia percayai dan anggap sebagai keluarga.


Dia lupa jika dialah yang bersalah.


Dito merasa bahwa Reo telah memanfaatkan kepercayaannya dan mengambil Sistem Penjual miliknya dengan tidak adil. Dia merasa sangat marah dan kecewa, dan memperlihatkan kemarahan tersebut dengan mengamuk dan merusak beberapa peralatan di restoran.


"Arghhh... sial kau Reo! Awas saja, aku akan membalas semua perbuatan mu ini!"


Srekk


Brakkk


"M4mpus kau, Reo!"


"B4j1n9an!"


Dito berteriak-teriak dan merobek-robek pakaian yang dipakainya. Dia merasa sangat marah dan tidak tahu harus bagaimana. Dia merasa kehilangan dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengatasi situasi ini.


Kini dua terduduk dengan lensa di lantai restoran uang sepi. Bahkan saat ini, dia sudah tidak memiliki pegawai sama sekali karena mereka mengundurkan diri satu persatu.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu Reo!" kata Dito dengan geram menahan amarahnya.


Dito menyadari bahwa perilakunya tidak membawa solusi dan hanya membuat situasi menjadi lebih buruk. Dia menyadari bahwa ia harus tenang dan menenangkan dirinya untuk mengatasi situasi ini dengan cara yang lebih konstruktif.

__ADS_1


Dengan menyusun beberapa rencana, Dito akan membalas dendam dan membuat perhitungan dengan Reo.


"Cuihhh! kamu hanya anak kecil, dan aku pasti bisa mengalahkan mu!"


__ADS_2