
"Reo, kenapa kamu tidak mau tinggal bersama kami? Rumah baru kami tidak jauh dari sini dan kamu bisa mudah pergi ke sekolah. Rumahnya juga besar."
Lay bertanya pada Reo, saat dia mengatakan ingin tinggal di apartemen seorang diri.
"Maaf, ibu. Reo lebih nyaman tinggal di apartemen saja."
Reo sadar jika Dito tidak mungkin membiarkan dirinya tenang setelah Dito sadar, jika Sistem Penjual miliknya diambil alih oleh Reo. Oleh sebab itu, Reo pergi meninggalkan rumah dan hidup di apartemen. Ibunya, sudah hidup bersama dengan suaminya di rumah baru, yang ada di dekat ruko toko kelontong.
Lay meminta Reo untuk tinggal bersama mereka, tapi Reo sendiri yang tidak mau. Dia berasalan jika ingin meneruskan sekolah di SMA yang dekat dengan apartemennya.
"Kenapa kamu lebih nyaman tinggal di apartemen?" tanya Lay curiga.
Reo tersenyum tipis mendengar pertanyaan ibunya yang sepertinya merasa khawatir. "Reo suka suasana yang tenang di apartemen. Selain itu, Reo juga ingin mandiri dan belajar mengurus diri sendiri."
"Tapi, kamu bisa mandiri dan belajar mengurus diri sendiri meskipun tinggal bersama kami, Reo."
"Reo tahu, ibu. Tapi, Reo ingin merasakan hidup mandiri dan belajar mengatasi masalah sendiri."
Ibunya tetap mencoba untuk mempengaruhi Reo, supaya mau mengikuti kemauannya dengan merayu Reo supaya bisa mengutus keputusannya.
"Tapi, kamu juga bisa belajar mengatasi masalah bersama kami. Kami akan selalu mendukung dan membantumu, sayang."
Reo tersenyum senang mendengar perkataan ibunya. "Terima kasih, ibu. Tapi, Reo ingin mencoba mengatasi masalah sendiri. Selain itu, Reo juga ingin dekat dengan sekolah untuk menghindari kemacetan setiap hari."
Mendengar jawaban Reo, Lay menghela nafas panjang. Dia tidak bisa memaksa Reo, jika sudah membuat alasan seperti itu. Jakarta memang tidak bisa diprediksi untuk kemacetannya, sedangkan sekolah memiliki aturan dan peraturan dalam kecepatan waktu yang tidak bisa dilanggar meskipun alasannya adalah sebuah kenyataan.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi, jangan ragu untuk meminta bantuan ibu jika kamu membutuhkannya."
__ADS_1
Reo segera mengganggukkan kepalanya mengiyakan. "Ya, bu. Reo tidak akan ragu, ibu. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk keputusan Reo ini. Maaf," ucap Reo.
Dia meminta maaf karena tidak bisa menuruti permintaan ibunya, yang memintanya untuk ikut tinggal di rumahnya yang baru.
***
Dua hari setelah Reo tinggal di apartemen, Ryanoir datang mengunjunginya. Tapi dia datang sendiri, karena hanya sekedar mampir setelah menyelesaikan urusan yang ada di tempat yang tidak jauh dari apartemen Reo.
"Hai Reo, bagaimana keadaanmu di apartemen?" tanya Ryan.
"Hai, pak Ryan. Aku baik-baik saja di sini. Pak Ryan bagaimana kabarnya?" Reo bertanya balik tentang kabarnya Ryanoir.
"Bapak prihatin dengan keselamatanmu di sini, Reo. Kamu tahu kan bahwa kamu tinggal sendirian di apartemen?"
"Ya, pak Ryan. Saya tahu."
"Baiklah. Jadi, saya ingin memberikanmu beberapa nasehat agar kamu bisa berhati-hati di sini, Reo." Ryanoir memberikan nasehat kepada Reo supaya berhati-hati tinggal sendirian di apartemen. Dia meminta pada Reo supaya sering menghubunginya atau meminta bantuan jika memerlukan bantuan.
Ryanoir, memberikan nasehat kepada Reo agar berhati-hati dan meminta Reo untuk menghubunginya jika Reo memerlukan bantuan. Ryanoir sangat prihatin dengan keselamatan dan kesejahteraan putra tirinya, karena Ryanoir menyadari bahwa Reo tinggal sendirian di apartemen tanpa pengawasan ibunya dan juga dirinya sebagai ayah sambung.
"Terima kasih, pak Ryan. Baiklah, terima kasih juga atas nasehatnya. Reo pasti memperhatikan semua nasehat dari pak Ryan." Reo menyanggupi.
Ryanoir kembali memberikan pesannya. "Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu memerlukan sesuatu, Reo. Bapak dan ibumu selalu siap membantumu."
"Terima kasih, pak Ryan. Reo akan segera menghubungi bapak atau ibu jika memerlukan bantuan."
Puk puk puk
__ADS_1
Ryanoir menepuk-nepuk pundak anak tirinya, memberikan dukungan. "Baiklah, hati-hati di sini ya, Reo."
"Saya akan berhati-hati, pak Ryan. Terima kasih sudah datang berkunjung."
Ryanoir akhirnya pamit pulang setelah memberikan banyak nasehat dan pesan kepada Reo. Dia juga meminta pada Reo untuk sering-sering datang ke rumah mengunjunginya.
Sejak tinggal di apartemen, Reo bisa tenang dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari dengan Sistem Seribu Akun miliknya, dan Sistem Penjual yang akan dioperasikan untuk toko kelontong milik ibunya.
Setelah berhasil mengambil alih Sistem Penjual miliknya Dito, Reo merasa tenang dan nyaman dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Sistem seribu akun yang dimilikinya membantu Reo untuk mengatur semua bisnis dan usahanya secara efisien dan efektif, sehingga Reo tidak perlu khawatir tentang masalah administrasi dan manajemen.
Selain itu, Reo juga merasa senang karena Sistem Penjual yang akan dioperasikan untuk toko kelontong milik ibunya sudah siap digunakan. Reo telah mempersiapkan sistem ini dengan baik dan memastikan bahwa semuanya berjalan dengan lancar, dengan bantuan Sistem Seribu Akun.
Dengan Sistem Penjual ini, ibunya Reo dapat memantau stok barang dan menjaga kelancaran operasional toko kelontongnya.
"Tapi, ibu bisa gak ya mengoperasikan Sistem Penjual ini?" Reo justru ragu.
Reo berpikir untuk memberikan kontribusi positif bagi bisnis keluarganya dengan kemampuannya untuk mengembangkan Sistem Penjual yang efektif. Dia juga akan senang jika Sistem Penjual bisa dioperasikan oleh ibunya sendiri. Jadi dia tetap bisa fokus dengan Sistem Seribu Akun miliknya.
"Setidaknya aku bisa mengajari ibu atau pak Ryan untuk mengoperasikannya. Untuk sementara waktu ini, biar dikendalikan oleh Sistem Seribu Akun dulu."
Dengan sistem yang nantinya siap digunakan, Reo dapat fokus pada tugas-tugasnya dan mengembangkan bisnisnya. Dia dapat melakukan riset pasar, mengelola stok barang, dan mempromosikan bisnisnya secara efektif dengan saru akun utama yang mengendalikan akun-akun lainnya.
Semua aktivitas ini bisa dilakukan dengan lebih mudah dan efisien berkat sistem yang sudah dimiliki, dan memberikan banyak keuntungan dan manfaat untuk kehidupannya bersama dengan ibunya.
Reo merasa lebih tenang dan percaya diri dalam mengelola akun-akun miliknya. Dia tahu bahwa dengan kerja keras dan kemampuan yang dimilikinya, dia akan dapat mencapai kesuksesan dalam bisnisnya dan membawa manfaat bagi keluarganya.
"Untuk urusan Dito, aku akan mengatasinya dengan cara yang dia inginkan."
__ADS_1
"Jika dia ingin kekerasan, aku juga siap."
Reo menunggu reaksi Dito, yang kemungkinan besar akan melakukan rencana untuk balas dendam kepada dirinya. Tapi Reo siap karena dia merasa tidak bersalah dalam hal ini. Dia juga sudah tahu, bagaimana keadaan Dito yang sekarang ini sudah bangkrut.