
Kondisi Reo yang tidur tapi seperti orang yang tidak sadar dan kondisinya juga lemah, membuat ibunya merasa khawatir.
"Apa yang terjadi? Reo, bangun sayang?"
Puk puk puk
Akhirnya Lay menghubungi Ryanoir, meminta bantuan pemilik warnet tersebut untuk ikut membawa Reo ke rumah sakit, supaya segera mendapatkan pertolongan.
Reo, yang masih remaja akhirnya mengalami penurunan kondisi kesehatan. Dia lemah dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit.
Ibunya Reo berpikir jika anaknya belum makan dan terlalu banyak membantunya di toko. Karena sejak membuka toko kelontong sendiri, Reo selalu membantunya setiap pulang sekolah. Bahkan menunggu hingga toko tutup dan pulang bersama ibunya, sedangkan Lay yang sedang sibuk lupa memperhatikan anaknya.
"Kita cepat bawa ke rumah sakit!"
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
Lay tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ryanoir, karena dia terlalu fokus saat membantu membopong tubuh Reo. Tapi Ryanoir memintanya untuk tidak usah ikut membantu.
"Biarkan aku yang membopongnya. Kamu bawa saja barang-barangnya Reo."
Lay menurut. Dia tidak banyak bicara karena panik dan khawatir dengan keadaan anaknya. Jadi apapun yang dikatakan Ryanoir, selama itu untuk kebaikan anaknya dia hanya menurut saja.
"Mbak, tokonya tutup saja. Dan itu, tolong kuncinya di bawa ya! saya mau ke rumah sakit."
Akhirnya, Lay sama dengan Ryanoir membawa Reo ke rumah sakit setelah Lay meminta pada karyawannya untuk menutup toko kelontong terlebih dahulu.
"Maaf ya pak, saya jadi merepotkan."
Lay mengucapkan permintaan maafnya pada saat perjalanan menuju ke rumah sakit. Dia sebenarnya merasa tidak enak hati, jika harus merepotkan orang lain.
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku juga akan menjadi ayahnya, besok. Jadi sudah sepantasnya aku membantu, dan aku merasa senang kamu melibatkan diriku untuk urusannya Reo."
"Aku menyayanginya, dan sudah menganggapnya seperti anak sejak dia membantuku di warnet."
Ryanoir meminta pada Lay, supaya tidak perlu berterima kasih dan merasa merepotkan.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah sakit. Ryanoir dengan cekatan kembali membopong tubuh Reo, untuk dibawa ke ruang IGD. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Reo.
__ADS_1
"Tolong berikan penanganan yang tepat! Reo lemas dan belum sadar sedari tadi," punya Ryanoir pada perawat yang menerimanya.
"Iya, Pak. Tolong tunggu di luar saja, ya. Kami akan memeriksanya terlebih dahulu."
Ryanoir mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian mengajak Lay untuk menunggu di depan ruangan IGD. "Kita tunggu saja, biarkan tim medis melakukan pekerjaan mereka dengan baik."
"Iya," sahut Lay dengan sedih.
Setelah berapa saat kemudian, perawat memberikan kabar jika Reo sudah sadar. "Keluarga Reo Onsi?"
Lay dan Ryanoir mendekatkan dengan cepat, "Saya, sus."
"Silahkan menyelesaikan administrasi dan memesan kamar pasien. Kami akan memindahkannya segera, karena sudah sadar."
"Apakah saya bisa melihatnya?" tanya Lay dengan tidak sabar.
"Silahkan, Bu."
Ryanoir mengangguk mengiyakan permintaan Lay, yang ingin melihat kondisi Reo. Sedangkan dirinya sendiri pergi ke bagian administrasi, guna membayar administrasi dan memesan kamar pasien untuk Reo.
"Sayang, Reo. Bagaimana rasanya sekarang? apa ada yang masih sakit?" Lay bertanya begitu tiba dan melihat kondisi anaknya.
"Tentu saja sayang, aku khawatir dengan kondisimu. Tidak usah banyak berpikir, yang penting sekarang kamu baik-baik saja. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Aku merasa lapar, ibu. Apakah aku bisa makan sesuatu?" Ternyata Reo lapar.
"Tentu saja, hehehe..."
"Ibu akan keluar sebentar, nanti akan ibu bawakan makanan untukmu segera. Tapi ingat, dokter sudah meminta agar kamu menghindari makanan yang berlemak dan berat untuk sementara waktu."
"Baiklah ibu, aku akan mengikuti petunjuk dokter. Terima kasih," ucap Reo patuh.
"Baiklah sayang, ibu akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu istirahat dan memulihkan kondisimu."
Tak lama setelah Lay pergi mencari makanan, Ryanoir masuk dan bertanya pada Reo. "Hai Reo, bagaimana rasanya sekarang?"
"Pak Ryan, aku merasa agak lemah tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Apa bapak yang membawaku bersama ibu? Terima kasih sudah membantu ibu membawa aku ke rumah sakit." Reo mengucapkan terima kasih pada saat Ryanoir mengganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak ada masalah, Reo. Aku senang bisa membantumu."
Akhirnya Ryanoir tidak lagi bertanya-tanya, dan mengajak Reo untuk berbicara. Dia tahu jika Reo membutuhkan waktu istirahat yang cukup, agar kondisinya cepat pulih.
"Maaf, pak Ryan. Aku tidak bisa membantumu sekarang. Aku harus membantu ibu, bahkan kini aku harus memulihkan kondisiku dulu."
Tiba-tiba Reo meminta maaf pada Ryanoir, sebab dia sudah tidak pernah lagi datang membantu di warnet.
"Tidak apa-apa, Reo. Bapak mengerti, dan yang penting sekarang ini adalah menjaga Kesehatanmu. Kamu harus fokus untuk sembuh sepenuhnya, supaya bisa membantu ibumu lagi."
"Iya pak, terima kasih. Aku akan melakukan yang terbaik untuk memulihkan kondisiku dan kembali membantu ibu."
Tak lama kemudian perawat datang, mengurus segala sesuatunya sebelum akhirnya membawa Reo ke ruang rawat pasien yang sudah dipesan Ryanoir tadi.
***
Setelah beberapa hari kemudian, kondisi Reo sudah lebih baik. Dia berpikir untuk mencoba mengaktifkan sistem Seribu Akun-nya, setelah beberapa hari tidak mengaktifkannya.
Reo merasa sudah sembuh dan ingin kembali mencoba kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya sebelum jatuh sakit, namun karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih, ia rentan mengalami kelelahan jika mencoba membuka sistem seribu akun.
Ketika Reo mengaktifkan sistem Seribu Akun-nya, ia merasa senang dan bersemangat, namun karena kegiatan tersebut membutuhkan banyak energi dan konsentrasi, ia akhirnya mengalami kelelahan yang berlebihan dan akhirnya kembali kesehatannya kembali menurun.
Ketika kondisi Reo kembali tidak sadarkan diri, ia mengalami keadaan yang lebih buruk dari sebelumnya. Hal ini membuat Lay sangat khawatir, sehingga meminta Reo untuk tidak memegang ponsel pintarnya terlebih dahulu.
"Sayang, sebaiknya kamu fokus sembuh dulu. Jika sudah sehat lagi, kamu bisa pergi sekolah lagi dan melakukan apa saja tanpa merasa khawatir." Lay menasehati anaknya.
"Iya Bu, maaf sudah membuat khawatir."
Lay mengusap-usap rambut Reo dengan tersenyum, memberikan kekuatan kepada anaknya agar bisa melalui semuanya ini dengan baik.
"Ibu akan selalu menjagamu. Pak Ryan juga sering datang ke sini ikut menjagamu juga, kan?" Lay mengingatkan.
"Bukannya pak Ryan juga ada misi khusus, Bu?" tanya Reo dengan misterius.
"Misi khusus? maksudnya?" Lay bertanya karena tidak paham maksud dari pertanyaan anaknya kali ini.
"Ya... pak Ryan juga datang bukan untuk menemani Reo saja, tapi karena ingin ketemu dan menemani ibu di sini." Reo akhirnya mengatakan maksud dari pertanyaannya.
__ADS_1
"Ah, kamu bisa saja."
Lay tersipu malu-malu, karena anaknya itu berhasil menggodanya dengan mengolok-olok dirinya, yang saat ini memang sudah resmi menerima lamaran Ryanoir.