
Tiga bulan kemudian.
Sepagi ini, Reo berdiam diri di apartemennya dengan tenang. Dia sedang libur semester sehingga tidak perlu memikirkan kegiatannya yang lain, seperti kuliah.
Klik
Bip bip bip
[Ding]
[Selamat datang Mr. Are you ready to accept the account system]
"Aku ingin memeriksa kekayaan dari semua akun-akun yang bertugas, serta laba dari kelima perusahaan investasi Sistem Seribu Akun."
Klik
[Ding]
[Sistem Akun Seribu memproses]
Bip bip bip
[10%]
[20%]
[40%]
[60%]
[80%]
[100%]
[Ding]
100 akun untuk usaha saham : Rp. 5,5 M
10 akun untuk yayasan : # Pemasukan Rp. 10,3 juta # Pengeluaran Rp. 7,55 juta
100 akun untuk judi online : Rp. 4,07 M
50 akun untuk game yang dia inginkan : 7300 poin
100 akun untuk promosi iklan : Rp. 6,45 juta
140 akun untuk Bitcoin : Rp. 2,05 M
@Perusahaan Golden Globe : $ 55.060,45
@perusahaan JIWon : $ 47.872,25
__ADS_1
@Perusahaan BlackRose : $ 70.012,57
@Perusahaan Tiger Group : $ 51.870,78
@Perusahaan White House : $ 65.570,59
[Laporan keuntungan bersih dari ke-lima perusahaan Sistem Seribu Akun selesai, Mr]
"Ini adalah tiga bulan di awal. Tapi semuanya peningkatan ini cukup besar. Terima kasih Sistem Seribu Akun."
[Ding]
[Benar Mr. Banyak sekali orang-orang yang percaya dengan kelima perusahaan investasi tersebut. Jadi penilaian dari akun-akun awal yang merupakan Akun dari Sistem Seribu Akun juga sangat mempengaruhi penilaian masyarakat pada umumnya]
"Ya, benar sekali. Karena Sistem Seribu Akun memberikan penilaian yang sangat baik, selain menjadi karyawan, investor, dan juga pengguna jasanya. Jadi di mata masyarakat perusahaan ini sangat sukses, padahal perusahaan baru. Ini benar-benar luar biasa!"
Reo memang tidak pernah berpikir terlalu muluk-muluk, tapi ternyata Sistem Seribu Akun membantunya sedemikian rupa hingga kelima perusahaan tersebut berkembang dengan sangat pesat.
Perusahan investasi bayangan ini melaju sedemikian tepatnya karena sudah mempunyai modal dari 1000 akun yang bekerja dari Sistem Seribu Akun itu sendiri.
Sekarang, Reo benar-benar sudah menjadi seorang pengusaha sukses dalam usia yang masih relatif muda tanpa harus diketahui identitasnya secara nyata. Tapi, memang seperti itulah yang diinginkan oleh Reo sendiri. Dia tidak mau jika orang-orang mengenalinya.
"Baiklah. Aku akan tetap menjadi seperti ini."
[Ding]
[Tetaplah rendah hati, dan memiliki sisi kemanusiaan dari yayasan yang sudah Anda miliki Mr]
[Sama-sama Mr. Apakah Anda ingin melanjutkan kegiatan atau off?]
"Aku mau off dulu. Ada beberapa kegiatan yang harus aku lakukan saat liburan semester seperti sekarang ini."
[Ding]
[Baik Mr. Klik tombol enter untuk melanjutkan dan klik off untuk berhenti]
Klik
[Ding]
Bip bip bip
***
Sekarang, jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.30 siang. Dia ingin berkunjung ke rumah ibunya terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatannya yang lain.
Reo sudah memiliki rencana untuk kegiatannya mengisi liburan semesternya. Selain tetap mengaktifkan Sistem Seribu Akun, Reo sudah memiliki janji dengan teman-temannya untuk melakukan kegiatan selama liburan semester.
Reo dan dua temannya, menggunakan waktu liburan mereka dengan magang di perusahaan atau bekerja paruh waktu. Ini akan memberikan mereka kesempatan untuk mendapatkan pengalaman kerja yang berharga, memperluas jaringan profesional, dan mengembangkan keterampilan yang relevan dengan bidang studi mereka.
Selain itu, Reo juga akan meluangkan waktu liburannya untuk terlibat dalam kegiatan sosial atau kemanusiaan di yayasan amal miliknya. Dia akan menjadi relawan di lembaga amal tersebut, seperti mengajari anak-anak, atau terlibat dalam proyek-proyek yayasan. Ini akan memberikan peluang untuk memberikannya dampak positif dan berkontribusi pada masyarakat.
__ADS_1
Kedua teman Reo juga memiliki usul untuk kegiatan mereka yang lain. Pada saat libur magang, mereka akan menggunakan waktu liburan semester untuk meningkatkan keterampilan di luar kurikulum akademik.
Mereka akan mengikuti kursus atau pelatihan tambahan yang sesuai dengan minat dan bakat mereka, seperti mengambil kursus bahasa asing, keterampilan komputer, seni, musik, atau olahraga.
Tak lupa, mereka juga merencanakan untuk liburan, jalan-jalan dan hangout bareng untuk mengisi waktu muda mereka.
"Hai, sayang..."
Lay menyapa dengan penuh kerinduan pada anaknya, yang sekarang ini sudah mandiri.
"Bu, Reo datang."
Keduanya saling berpelukan erat, menguatkan rasa rindu antara ibu dan anak. Meskipun ada dalam satu kota, dan jaraknya tidak terlalu jauh, Reo dan Lay memang jarang bertemu. Tapi, mereka tetap saling berhubungan melalui telepon maupun video call. Sayangnya, rasanya tentu saja berbeda jika bertemu secara langsung seperti sekarang ini.
"Kamu terlihat kurus, apakah kamu tidak makan?" tanya Lay, dengan mengamati keadaan anaknya.
"Hahaha... Ibu selalu menanyakan hal yang sama. Aku tentu saja makan, Bu. Tapi, aku ini masih dalam masa pertumbuhan. Dan, aku juga rajin berolahraga. Jadi, tentu saja itu seimbang sehingga tidak melar. Hehehe..."
Reo memberikan penjelasan yang wajar, dan memang itulah yang dilakukannya. Selain itu, Reo memiliki banyak kegiatan saat di kampus. Jadi, energi yang dibutuhkan untuk dikeluarkan juga seimbang dengan yang masuk. Apalagi, sebagai anak muda dia tetap memperhatikan penampilan dan sosok postur tubuhnya.
"Ya, tentu saja. Ibu cuma tidak mau kamu mengabaikan kesehatan. Pokoknya jangan lupa untuk makan teratur, karena kamu membutuhkan energi untuk semua kegiatanmu."
Lay cukup mengerti dengan kebutuhan anaknya. Dia tidak banyak memberikan tuntutan, apalagi Lay tahu bagaimana karakter anaknya sejak kecil. Dia paham bahwa Reo bukankah seorang anak yang suka keluyuran dan mengabaikan kesehatannya.
"Oh ya, sayang. Ibu sudah memiliki tabungan yang cukup untuk mengembalikan modal yang dulu diberikan oleh orang tua temanmu. Itu lho, yang kamu bilang pindah ke luar negeri dan ngasih ibu modal serta ruko."
Reo terdiam sejenak mendengar perkataan ibunya. Dia sedikit melupakan alasan yang dulu pernah disampaikan pada ibunya, saat membeli ruko dan berikan model ibunya untuk membuka toko kelontong.
Sekarang, Lay sendiri sudah bisa mengembangkan toko kelontongnya, dengan membuka beberapa cabang. Jadi, toko kelontong milik Lay saat ada lima. Semuanya ditangani dengan manajemen yang sangat baik dengan bantuan dari Ryanoir.
Ryanoir sendiri masih menjalankan warnetnya. Bahkan sekarang berkembang menjadi percetakan, dan ada tiga cabang toko percetakan miliknya Ryanoir.
"Ibu sudah memiliki uang untuk mengembalikan modalnya?" tanya Reo memastikan.
"Iya, Reo. Ibu sudah ada lima tokoh. Pak Ryan juga ads warnet dan percetakan yang selalu ramai. Kami juga sudah memiliki rumah besar ini. Apalagi yang kami inginkan, Reo?"
Sebenarnya, Lay sudah lama ingin mengembalikan uang yang dijadikan sebagai modal usahanya. Padahal sebenarnya uang tersebut adalah miliknya Reo sendiri. Dan Reo selalu memberikan alasan pada ibunya, supaya menggunakan uang tersebut untuk membesarkan usahanya.
"Orang tua teman Reo ingin ibu mengembangkan usaha ibu terlebih dahulu, dan tidak perlu memikirkan modal itu."
Begitulah selalu alasan yang diberikan oleh Reo, jika Lay ingin mengembalikan modal. Dan Lay selalu percaya, serta berterima kasih pada orang tua temannya Reo yang sebenarnya hanya fiktif.
Tapi sepertinya kali ini Lay memaksa. Dia merasa sudah sangat berkecukupan, sehingga ingin mengembalikan modal itu secepatnya.
"Baiklah. Ibu bisa mentransfer uang ke rekening Reo. Nanti Reo yang akan menyampaikannya langsung, serta rasa terima kasih Ibu pada mereka."
"Baiklah. Tapi, apakah ibu bisa bertemu dengan mereka? Ibu ingin sekali mengucapkan terima kasih secara langsung."
Lay bertanya dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar merasa sangat bahagia dan berterima kasih pada keluarga temannya Reo, yang sudah begitu baik dengannya.
***
__ADS_1
Kira-kira, Reo memberi alasan apa untuk ibunya ya???