
"Untuk menebus rumah kita masih harus bayar lima ratus juta Sayang. Ibu dari mana uang sebesar itu ya..." keluh Lay pada anaknya.
"Jadi, jika kita bayar hutangnya lima ratus juta, rumah baru dikembalikan?" tanya Reo.
Reo tentu saja terkejut, pada saat ibunya memberitahu tentang jaminan hutang rumahnya.
"Iya Sayang. Tapi, itu masih ada lagi pokok hutangnya. Kata Bos Hendrik, hutang plus bunga masih 2,5 Milyar. Jadi jika ada setengah milyar saja, rumah bisa kita tempati. Meskipun masih ada 2 milyar lagi yang jadi tanggungan pokoknya."
"Tapi 2 milyar itu akan berbunga lagi jika tidak segera dilunasi. Ibu sendiri tidak tahu, katanya ada yang bayar seratus juta untuk buka kebaikannya itu. Ini aneh, tapi siapa ya?"
Ibunya Reo baru saja bertemu dengan Hendrik, Bos dari lintah darat yang memberikan hutang padanya dulu, di saat sang suami jatuh di bangkrut dan akhirnya sakit-sakitan. Sayangnya setelah mendapatkan beberapa kali perawatan di rumah sakit, ayahnya Reo tetap saja meninggal dengan meninggalkan hutang yang begitu banyak.
"Apa Bos Hendrik tidak tahu, siapa yang membayar dengan seratus juta?"
"Tapi kenapa juga dia memberitahu ibu jika harus menebus rumah lima ratus juta, tapi masih ada hutang yang sejumlah 2 milyar padanya yang harus segera dilunasi?"
Reo memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk pancingan, tapi ibunya hanya juga tidak tahu dan hanya menggeleng saja.
"Tapi Kamu tidak perlu khawatir. Ibu pasti akan bekerja lebih keras lagi, supaya bisa mendapatkan uang yang banyak. Kita bisa kembali ke rumah jika ibu punya uang sebanyak itu, dan mengambil rumah kita lagi."
Sebenarnya Reo berpikir untuk memberitahu ibunya, tapi itu tidak mungkin. Reo takut jika ibunya marah setelah tahu apa yang dia kerjakan, dan mengetahui dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu.
Padahal dia juga meminta pada Ryanoir untuk tidak memberitahu ibunya dulu, soal ruko yang sudah dia pesan pada pemilik warnet tersebut.
"Ya Bu. Semoga saja kita bisa secepatnya mengambil rumah kita lagi."
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidur, dan Reo juga tidak memberitahukan pada ibunya tentang apapun yang akan dia lakukan untuk masa depan mereka ke depannya nanti.
Setelah beberapa lama kemudian, Reo membuka matanya. Dia memeriksa keadaan ibunya, memastikan jika ibunya sudah benar-benar tertidur. Dia melambaikan tangannya di depan wajah ibunya, dan akhirnya tersenyum saat mendapati ibunya ternyata sudah tertidur pulas.
Reo berjalan mendekati layar LED, kemudian mengaktifkan sistem Seribu Akun.
"Sistem Seribu Akun, @bukanaku."
Klik
Bip bip bip
[Ding]
[Selamat datang Mr. Are you ready to accept the account system]
[Selamat malam Mr, ada yang bisa dibantu?]
"Aku mau membayar uang pada Bos Hendrik, yang katanya Bos dari lintah darat tersebut."
[Mr bisa membayarnya dengan membuka akun Bank digital Anda, kemudian mentransfernya]
"Baiklah. Aku akan membayar penuh saja hutang-hutang ibu, biar dia tidak kepikiran lagi tentang hutang tersebut."
__ADS_1
Akhirnya Reo melakukan apa-apa yang dibutuhkan untuk pelunasan hutang-hutang ibunya, dengan bantuan sistem. Dia menekan enter untuk transfer uang sebesar 1,5 Milyar yang dibutuhkan untuk pelunasan, sama seperti pada waktu dia membayar seratus juta kemarin.
Sistem pembayaran hutang dari lintah darat memang sudah canggih, jadi tidak perlu membayar langsung ke rumah pada lintah darat atau anak buahnya. Mungkin karena lintah darat tersebut punya banyak usaha, sehingga dia memiliki cara-cara yang canggih untuk usahanya juga.
Klik
[Ding]
Bip bip bip
[10%]
[20%]
[40%]
[60%]
[80%]
[100%]
[Transfer berhasil]
[Ada yang perlu dibantu lagi Mr?]
"Tidak. Itu sudah cukup. Terima kasih."
[Ding]
Bip bip bip
***
"Ada apa Pak? apa bapak baik-baik saja?" tanya Reo sepulang sekolah.
Ryanoir menatap Reo dan menggelengkan kepalanya, "Aku baik-baik saja, Reo. Hanya saja, ada sesuatu yang membuatku merasa sedih saat ini."
Reo tidak bisa menahan rasa penasaran dan bertanya, "Apa yang membuat Bapak merasa sedih?"
Ryanoir terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia berkata dengan suara berat, "Reo, Kamu tahu bahwa Aku sangat senang karena Kamu dan ibumu ada di sini. Kalian berdua sudah seperti keluargaku sendiri, meskipun aku tidak bisa memberikan tempat yang lebih baik untuk tempat tinggal kalian. Tapi sekarang, Aku merasa sedih karena Kamu dan ibumu pasti akan segera pergi."
Reo terkejut mendengar kata-kata Ryanoir. Dalam hatinya Reo bertanya, 'Ibu saja belum tahu jika rumah dan hutannya sudah lunas. Kami juga belum pamit, bagaimana pak Ryan tahu kami mau pergi?'
"Pergi meninggalkan Bapak? Apa Bapak..."
"Bukan, Bapak tidak mengusir kalian berdua." Cepat Ryanoir memotong kalimat Reo.
Akhirnya Ryanoir menceritakan, jika dia sudah mendapatkan ruko yang diinginkan Reo. Bahkan lokasinya sangat strategis, karena ruko itu cukup besar dan ada di pinggir jalan utama daerah ini.
__ADS_1
"Benarkah Pak? Bisa kita lihat sekarang?" tanya Reo dengan antusias.
"Tapi mereka, yang punya ruko itu, maunya dibayar lunas dalam jangka waktu dua hari ke depan. Jika tidak, ruko itu akan dijual pada orang lain." Ryanoir ragu, karena dia tidak bisa memastikan, jika Reo lampu membayar ruko tersebut.
"Jika Kamu tidak cocok dan keberatan bapak bisa cari yang lain kok," sambung Ryanoir memberikan harapan, berharap Reo tidak berkecil hati.
"Oh, tidak apa-apa Pak. Memang berapa harga rukonya?" tanya Reo penasaran.
"Dua setengah milyar."
Reo menganggukkan kepalanya, paham dengan keraguan pemilik warnet tersebut. Tapi dia tetap ingin melihat ruko terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk jadi membelinya atau tidak.
Akhirnya Ryanoir mengiyakan ajakan Reo, kemudian menitipkan warnetnya sebentar pada penjaga. "Titip sebentar ya Jang, Aku mau ke gang depan sana dulu!"
"Siap Pak Ryan!" jawab Ujang dari tempatnya bertugas.
Reo dan Ryanoir naik sepeda motor menuju ke arah ruko yang dimaksud, setelah Ryanoir menghubungi pemilik ruko terlebih dahulu, supaya datang juga ke ruko untuk melakukan kesepakatan.
"Pak. Bapak diam-diam ya, tidak usah bicara soal ini sama ibunya Reo."
"Kenapa Reo?" tanya pak Ryan, yang merasa sedikit aneh dengan anak buahnya ini.
"Gak apa-apa Pak. Reo cuma gak mau, orang yang kasih modal ke Reo diketahui oleh ibu." Reo menjawab sebisanya untuk memberikan alasan.
Ryanoir akhirnya hanya mengangguk saja, tanpa banyak bertanya-tanya lagi.
***
Malam hari, di saat Lay pulang kerja. Dia sudah terlihat sangat bahagia, dengan senyuman yang selalu mengembang sempurna hingga membuat wajahnya terlihat berseri-seri.
"Ibu kenapa?" tanya Reo heran.
"Ibu ada kabar gembira Sayang. Besok pagi kita bisa kembali ke rumah," jawab Lay dengan mata berbinar-binar bahagia.
Reo mengerutkan keningnya, pura-pura tidak tahu apa maksud dari jawaban yang diberikan oleh ibunya barusan.
"Iya Sayang. Kita akan kembali ke rumah kita sendiri, karena hutang kita sudah lunas!"
Akhirnya Lay menceritakan kepada Reo, jika dia diberi kabar oleh anak buahnya Bos Hendrik, bahwa semua hutang-hutangnya sudah lunas tak tersisa.
"Tapi... siapa ya kira-kira orang baik itu?" tanya Lay dengan berpikir.
"Ah sudahlah. Siapapun orangnya, semoga orang baik itu tetap sehat, rejekinya lancar dan bisa membantu siapa saja yang membutuhkan."
Akhirnya Lay tidak lagi membicarakan permasalahan tentang siapa orang yang sudah membantunya melunasi hutang-hutangnya pada Bos Hendrik. Dia mengajak Reo untuk berkemas karena mereka akan pulang besok pagi.
Pagi harinya, Reo dan Lay menemui Ryanoir. Setelah berbicara dengan Ryanoir, Reo dan ibunya memutuskan untuk meninggalkan warnet dan kembali ke rumah mereka.
"Sejujurnya saya sangat sedih, tapi saya juga merasa senang."
__ADS_1
"Sedih karena kalian berdua harus pergi, senang karena akhirnya kalian bisa kembali ke rumah." Ryanoir melepas mereka berdua dengan rasa haru, antara kesedihan dan kebahagiaan.
"Terima kasih banyak Pak Ryan. Kami sudah sangat terbantu," ucap Lay, sebelum meninggalkan warnet milik Ryanoir.