
"Reo, Sayang. Ibu merasa begitu terharu dengan kebaikan keluarga temanmu yang memberikan modal usaha pada Ibu. Mereka benar-benar luar biasa. Ibu ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Bisakah kamu memberiku informasi sedikit tentang mereka? Sebab kami tidak bisa bertemu."
Reo, dengan rasa lega tetapi juga sedikit gugup karena takut jika rahasianya terungkap.
"Tentu, Bu. Tentu saja. Keluarga itu memang luar biasa. Mereka sangat peduli dan dermawan. Mereka tidak hanya membantumu, tapi juga banyak membantu orang lain di sekitar mereka. Aku merasa beruntung memiliki mereka sebagai teman."
Akhirnya, Reo bisa menemukan alasan untuk diberikan sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya tadi.
Lay merasakan kehangatan dan kebaikan dalam perkataan Reo, tanpa menyadari bahwa Reo sebenarnya merujuk pada dirinya sendiri. Meskipun masih ada keraguan dalam pikiran Lay, ia merasa terdorong untuk mencari tahu lebih banyak tentang keluarga teman Reo.
Lay tidak menyadari bahwa orang-orang yang dimaksud oleh anaknya, sebenarnya adalah Reo sendiri. Dan Reo memang sengaja merahasiakan semuanya.
"Reo, apakah kamu dekat dengan keluarga itu? Bagaimana kamu mengenal mereka?" tanya Lay lagi, karena masih penasaran.
Reo, sebisa mungkin tetap menjaga rahasia dan berhati-hati saat memberikan jawaban.
"Ya, Bu. Reo mengenal mereka cukup lama, sejak SMP. Dan kami memiliki hubungan yang erat. Mereka adalah orang-orang hebat dan Reo sangat menghargai mereka."
Lay yang semakin penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang hubungan Reo dengan keluarga tersebut, terus memberikan pertanyaan. Namun, karena Reo memilih untuk tidak mengungkapkan identitasnya sebagai penyumbang modal usaha, tetap saja tidak memberikan informasi yang seharusnya.
Reo hanya fokus membicarakan tentang kualitas dan sifat-sifat baik dari keluarga tersebut, serta memuji kebaikan mereka. Dengan demikian, Lay tidak akan pernah menyadari bahwa Reo adalah orang yang memberikan modal usaha untuknya.
"Reo, tolong sampaikan rasa terima kasih ibu untuk mereka, ya. Ibu sungguh-sungguh berterima kasih dan tidak akan pernah melupakan kebaikan mereka."
Lay mengucapkan terima kasih pada Reo, yang menjadi perantara antara keluarga temannya Reo, yang sudah memberikan modal usaha yang begitu besar padanya. Meskipun tidak mengenal dan mengetahui siapa mereka, Lay benar-benar merasa terharu dengan kebaikan keluarga temannya. Dia tidak pernah tahu, jika orang tersebut adalah Reo sendiri, yaitu anaknya Lay sendiri.
"Iya, Bu. Reo pasti akan menyampaikannya. Reo juga selalu mengucapkan terima kasih kepada mereka, seandainya ada kesempatan untuk bisa saling menghubungi."
__ADS_1
Setelah beberapa saat berbincang dengan ibunya, Reo meminta izin untuk berlibur. Dia ingin mengisi waktu liburan semester dengan berlibur bersama teman-temannya.
"Ibu, Reo ingin mengucapkan terima kasih atas segala dukungan dan bantuan yang Ibu berikan selama ini. Namun, Reo merasa perlu mengambil waktu untuk liburan semester bersama teman-temanku. Ini kesempatan bagiku untuk bersantai, menjelajahi tempat baru, dan melepaskan sedikit tekanan akademik di kampus."
Lay sedikit kaget mendengar permintaan izin yang Reo sampaikan. "Reo, ibu mengerti bahwa liburan adalah waktu untuk bersenang-senang dan melepaskan diri. Tetapi mengapa kamu memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu ibu lebih awal?"
"Kenapa, Bu?" tanya Reo heran.
"Ibu hanya ingin tahu, apakah kamu memiliki uang yang cukup untuk berlibur? Ibu khawatir jika kamu akan kekurangan uang." Ternyata Lay mengkhawatirkan keuangan anaknya.
"Hehehe... Maaf, Bu. Reo tidak bermaksud membuatmu khawatir. Keputusan ini tiba-tiba muncul dan Reo pikir itu bisa menjadi pengalaman yang baik bagiku. Aku akan menjaga diriku sendiri, dan untuk keuangan Ibu jangan khawatir. Reo ads tabungan sendiri, kok."
Tapi Lay masih merasa cemas, dan khawatir dengan keadaan anaknya. Selama ini, Reo tidak pernah merepotkan dirinya, dan selalu mandiri untuk keperluannya. Dia akhirnya menerima keputusan Reo dan berharap agar Reo dapat menikmati waktunya dengan baik.
"Baiklah, sayang. Ibu memahami kebutuhanmu untuk berlibur dan bersenang-senang bersama teman-temanmu. Harap berhati-hati dan nikmati waktu liburanmu. Jangan lupa untuk tetap menghubungi dan memberi tahu Ibu tentang keberadaan mu, keadaanmu di sana. Semoga kamu memiliki pengalaman yang luar biasa."
Lay, dengan segera mengirimkan sejumlah uang untuk keperluan anaknya berlibur meskipun Reo tidak meminta.
"Ibu teteh mengirim uang saku. Jika kurang, kamu bisa memintanya lagi, nanti."
Reo tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengiyakan. "Terima kasih, Ibu. Reo akan menjaga diri dengan baik."
Setelahnya, mereka berdua berpelukan. Lay sebenarnya berat hidup terpisah dengan Reo. Tapi Reo sendiri yang memang ingin mandiri, dengan hidup sendiri di apartemennya.
Reo dan Lay masih berpelukan saat Ryanoir datang. Dia tersenyum melihat anaknya itu ada di rumahnya.
"Hai, Reo. Kapan datang?" tanya Ryanoir menyapa.
__ADS_1
"Belum lama, Yah."
"Reo, aku ingin mengucapkan selamat padamu. Terima kasih atas semua bantuanmu. Sejak kamu membantu mengiklankan usaha percetakan dan warnetku, pelanggan terus berdatangan. Bisnisku semakin ramai dan berkembang berkat usahamu."
Ayah sambungnya itu mengucapkan selamat kepada Reo dan mengungkapkan rasa terima kasihnya atas semua bantuan yang Reo berikan kepadanya. Bantuan tersebut terkait dengan usaha percetakan dan warnet yang dikembangkan oleh ayah sambung Reo.
Reo tersenyum senang dan bangga mendengar pengakuan ayah sambungnya. Dia merasa terhormat karena dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi usaha ayah sambungnya.
"Ayah, aku sangat senang mendengarnya. Aku senang dapat membantu dan melihat bisnismu berkembang. Kamu telah bekerja keras dan aku hanya ingin memberikan dukungan yang aku bisa. Aku bangga menjadi bagian dari keberhasilan mu."
Kini mereka berdua saling berpelukan. Lay tersenyum bahagia melihat keduanya saling menyayangi sejak dulu. Dan perasaan itu masih tetap ada sampai sekarang
"Reo, aku tidak bisa cukup mengucapkan terima kasih saja. Bantuanmu tidak hanya membantu bisnisku, tetapi juga memberiku kepercayaan diri dan semangat baru. Aku sangat berterima kasih atas dedikasimu dan perhatian yang kamu berikan."
Ryanoir benar-benar merasa bangga memiliki anak seperti Reo. Cerdas dan kreatif, tetapi tetap rendah hati, sama seperti keadaannya yang dulu saat tidak memiliki apa-apa.
Reo, dengan rasa rendah hati, menerima ungkapan terima kasih dari ayah sambungnya.
"Ayah, tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan apa yang aku bisa karena aku peduli padamu dan ingin melihatmu sukses. Kamu memberiku kesempatan untuk membantu dan aku senang dapat memberikan dampak positif bagi bisnismu."
Hubungan keduanya memang selalu hangat, antara Reo dan ayah sambungnya, yang membuat mereka selalu akur. Ryanoir mengakui upaya dan kontribusi Reo dalam mengembangkan usahanya, sementara Reo menghargai kesempatan yang diberikan dan merasa senang bisa membantu.
Mereka berdua sama-sama tahu jika sangat penting adanya dukungan keluarga dan kerja sama antara anggota keluarga. Reo dan Ryanoir saling menghargai dan saling mendukung dalam upaya masing-masing, meskipun mereka bukan ayah dan anak yang memiliki hubungan darah, tetapi mereka bisa membangun melalui ikatan emosional dan pengorbanan yang dilakukan satu sama lain.
Puk puk puk
"Jangan sungkan untuk meminta bantuan ayah jika kamu belum."
__ADS_1
Ryanoir menepuk-nepuk pundak Reo, setelah mereka mengurai pelukan. Dan Reo tersenyum senang dengan menganggukan kepalanya mengiyakan.