
"Sialan, Reo mengambil alih Sistem Penjual milikku! Aku tidak bisa biarkan dia melakukan itu tanpa ada konsekuensi."
"Ada apa, Dito? Kamu terlihat marah sekali." Seseorang yang Dito kenal bertanya.
"Reo, seorang remaja yang tidak berguna telah menipuku. Aku ingin membalas dendam. Aku ingin menyerbu ke rumahnya dan memintai bantuan kalian untuk melakukannya."
Dito yang merasa tidak terima dengan perlakuan Reo, yang sudah mengambil Sistem Penjual miliknya, akhirnya memiliki sebuah ide. Dia ingin melakukan balas dendam dengan menyerbu ke rumah Reo. Dia akan meminta bantuan orang-orang bayaran yang saat ini ada di depannya.
"Menyerbu ke rumahnya? Apa kamu yakin itu ide yang baik? Kami sih, siap saja."
"Tentu saja! Aku harus membuatnya menyesal telah menipuku."
Dito tidak mengatakan apa-apa selain kesalahan Reo. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah akibat kesalahannya sendiri.
"Tapi, apakah kamu yakin Reo ada di rumahnya? Percuma datang jika dia tidak ada di rumah." Orang tersebut memberikan usulan yang harus dipikirkan oleh Dito.
"Bagaimana aku bisa tahu? Aku tidak peduli, yang penting aku ingin menyerangnya di rumahnya. Bagaimana menurut kalian? kalian mau, kan?" tanya Dito meminta kejelasan.
"Siappp! Yang penting ada ini... fulus..."
Orang tersebut memberikan kode yang biasa digunakan untuk mengisyaratkan bahwa mereka butuh uang.
"Ck, tenang saja! Aku pasti kasih lebih besar jika berhasil."
Dito tidak peduli jika harus mengeluarkan uang yang banyak untuk memberikan pelajaran pada Reo. Dia sudah tidak lagi memikirkan segala sesuatu, yang paling penting adalah balas dendamnya akan segera terwujud.
Tak lama kemudian, Dito bersama dengan dua orang laki-laki kekar dan berotot seperti layaknya para tukang pukul menemaninya pergi untuk menyerang rumah Reo.
Dito datang ke rumah Reo untuk membalas dendam, namun hanya menemukan penjaga rumah dan supir di sana.
Dito memasuki halaman rumah, kemudian bertanya pada penjaga rumah. "Di mana Reo? Aku ingin bicara dengannya."
"Maaf, den Reo tidak ada di rumah."
Sayangnya, Reo tidak berada di rumah dan menjaga tersebut sudah menjawab pertanyaan Dito. Tapi tentu saja Dito tidak percaya begitu saja.
"Jangan bohong! Aku tahu dia berada di sini. Aku harus bicara dengannya sekarang juga." Dito tidak menyerah.
Supir Reo datang mendekat dan memberitahu. "Maaf Pak, saya sendiri yang menjemput Pak Reo tadi pagi. Dia tidak berada di rumah saat ini."
Tapi Dito justru marah-marah. "Kamu juga ikut-ikutan berbohong! Aku tidak akan pergi dari sini sebelum aku bisa bicara dengan cecunguk, Reo."
"Maaf Pak, tapi kami tidak bisa membiarkan Anda masuk tanpa izin dari tuan rumah."
"Ya, tolong pergi dari sini sekarang. Anda tidak berhak berada di sini."
Penjaga rumah dan supir berusaha untuk mencegah Dito yang memaksa untuk masuk ke dalam rumah.
Dito mulai merasa marah dan berteriak. "Kamu berdua berani melawan aku? Aku bisa menghancurkan kalian berdua dengan mudah!" ucapnya sombong.
"Tidak akan ada yang hancur di sini selama kami menjaga keamanan rumah ini." Penjaga rumah tentu saja tidak membiarkan Dito begitu saja.
"Anda jangan sok kuat. Kami berdua siap melawan Anda." Supir ikut menimpali.
Mereka berdebat dan akhirnya berkelahi
Dito mulai menyerang penjaga rumah dan supir, dengan dibantu dua orang yang tadi ikut bersamanya.
Penjaga rumah dan supir bergerak untuk melindungi diri mereka dan berkelahi dengan Dito bersama kedua orang temannya.
__ADS_1
Dito yang datang ke rumah Reo untuk membalas dendam dengan kedua orang temannya, namun hanya menemukan penjaga rumah dan supir, tidak terima sehingga mereka berdebat yang berakhir menjadi sebuah perkelahian.
"Maju!"
Bug bag dug
Tag bug dug bug
"Arghhh, sial!"
Dito terkapar di lantai, merintih kesakitan karena patah tulang, "Aaaaaah! Kalian berdua akan membayar untuk ini!"
Sayangnya Dito kalah sehingga marah-marah, tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena kesakitan pada jari-jari tangannya.
"Kami hanya melindungi rumah ini. Anda datang dengan niat buruk."
"Ya, jangan coba-coba masuk ke sini lagi."
Dito merintih kesakitan. "Kalian berdua akan menyesal sudah menghajar aku seperti ini. Aku akan balas dendam!"
Dito babak belur di hajar penjaga rumah Reo. Dia bahkan mengalami patah tulang pada jarinya, membuatnya marah tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena kesakitan. Bahkan kedua temannya yang tadi juga sudah terkapar di lantai dengan menahan sakit di sekujur tubuh mereka.
"Anda tidak akan bisa melakukan apa-apa dengan kondisi seperti itu." Penjaga rumah memberi peringatan pada Dito.
Supir tersenyum tipis mendengar perkataan penjaga rumah. "Ya. Anda sebaiknya segera pergi dan mencari pertolongan medis. Kami tidak ingin masalah ini semakin buruk."
Dito berteriak-teriak marah.
"Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini tanpa membayar dendam. Kalian berdua akan menyesal!"
"Maaf, tapi kami harus memastikan keamanan rumah ini. Silakan pergi sekarang." Penjaga rumah berkata dengan tegas.
"Hisss... sshhh, argh!"
Dito merintih kesakitan saat berusaha bangkit dari lantai, begitu juga dengan kedua temannya.
"Ck! Kalian berdua tidak berguna!" umpat Dito pada kedua orang bayarannya.
"Kalian akan menyesal!" ancamnya pada penjaga rumah dan supir, sambil mengambil langkah cepat untuk pergi, tapi tetap saja dengan kesulitan.
Dito yang berniat datang ke rumah Reo untuk membalas dendam, namun nyatanya hanya menemukan penjaga rumah dan supir saja. Mereka juga akhirnya berdebat dan berkelahi di halaman rumah Reo yang berakhir dengan kekalahan Dito yang mengalami patah tulang pada jarinya.
***
Di apartemen, Reo sedang mengaktifkan Sistem Seribu Akun miliknya untuk mengecek beberapa akun yang bekerja sebagai penambang Bitcoin. Dia senang karena 150 akun yang bekerja sebagai akun tambang mulai menampakkan hasil.
Reo sedang duduk di sofa apartemennya dan mengaktifkan Sistem Seribu Akun miliknya.
Klik
Bip bip bip
[Ding]
[Selamat datang Mr. Are you ready to accept the account system]
"Aku ingin memeriksa akun-akun yang bertugas untuk tambang Bitcoin."
Klik
__ADS_1
[Ding]
[Sistem Akun Seribu memproses]
Bip bip bip
[10%]
[20%]
[40%]
[60%]
[80%]
[100%]
[Ding]
100 akun untuk usaha saham.
10 akun untuk yayasan.
100 akun untuk judi online.
50 akun untuk game yang dia inginkan.
100 akun untuk promosi iklan.
140 akun untuk Bitcoin.
[140 akun untuk Bitcoin memproses]
Bip bip bip
[10%]
[20%]
[40%]
[60%]
[80%]
[100%]
[Ding]
Grafik mulai memperlihatkan beberapa transaksi dan kinerja akun-akun tersebut.
Reo merasa senang sekali karena sudah lama ia menunggu hasil dari 140 akun penambang Bitcoin yang ia miliki. Ia pun mulai memeriksa tiap akun satu per satu dengan hati-hati, memastikan bahwa semuanya bekerja dengan baik.
Sistem Seribu Akun yang dimilikinya memang sangat membantu dalam mengoptimalkan hasil penambangan Bitcoin. Dengan sistem ini, ia bisa memantau dan mengelola akun-akun tersebut tanpa harus melakukan hal itu secara manual satu per satu. Dalam beberapa waktu terakhir, ia telah menambahkan beberapa akun baru untuk meningkatkan kemampuan penambangan Bitcoin yang dimilikinya.
Ia senang sekali ketika melihat bahwa semua akun yang ia miliki berhasil menampakkan hasil yang diinginkan. Kini, ia memiliki banyak sekali Bitcoin yang bisa dijual dan menghasilkan banyak uang. Ini adalah kesuksesan besar baginya, dan ia sangat bangga atas pencapaian yang ia raih.
"Wow, hasilnya luar biasa!" ujar Reo dengan antusias. "Aku sangat senang bisa mengoptimalkan penambangan Bitcoin ini dengan Sistem Seribu Akun. Ini benar-benar suatu terobosan yang hebat!"
__ADS_1