
Sleep sleep sruttt
Lidah Chuki menjilati luka-luka yang ada di sekujur tubuh Reo, baik itu yang akibat dari lukanya atau karena luka yang lain. Dan benar saja, kucing yang sekarang ini mirip boneka squise itu lidahnya, tepatnya air liurnya, salah menyembuhkan luka-luka Reo.
"Wowww, luar biasa!"
Reo takjub dengan apa yang dia lihat saat sekarang ini. Tubuhnya tampak seperti semula, tanpa adanya bekas luka apa pun yang tadi dia miliki.
"Apa air liur mu mengandung obat mujarab?" tanya Reo polos.
"Moeng..."
"Bisa dikatakan begitu, tapi hanya untuk luka luar dan tidak bisa menyembuhkan luka dalam dan yang lainnya."
[Ding]
[Sistem informasi indentitas Chuki]
Nama: Chuki
Jenis: Kucing
Level: 10
HP: 100/100
MP: 50/50
EXP: 150/200
Attack: 15
Defense: 10
Agility: 20
Intelligence: 25
Skill: Scratch, Purr, Lick
Status: Healthy
Mood: Happy
Deskripsi: Chuki adalah seekor kucing yang sudah jinak dan sangat ramah. Dia sangat cerdas dan suka bermain-main dengan pemain. Dia memiliki kemampuan Scratch yang mematikan dan Purr yang menenangkan. Dia juga suka menjilat pemain untuk menunjukkan kasih sayangnya. Chuki selalu dalam keadaan sehat dan bahagia jika disayangi.
__ADS_1
Chuki memperkenalkan diri secara spesifik.
Reo mengerutkan keningnya heran melihat data diri Chuki, dan mendengar jawaban yang diberikan oleh monster kucing Chuki. "Maksudnya luka dalam, penyakit dalam?" tanyanya memastikan.
Chuki tidak menjawab, hanya rambutnya saja yang bergoyang-goyang. Tapi tak lama kemudian Chuki mengeluarkan suara. "Air liurku tidak bisa menyembuhkan penyakit hati apalagi patah hati?"
Mata Reo membola mendengar jawaban yang baru saja selesai diucapkan oleh Chuki. Ini terdengar aneh, dan pada akhirnya dia tertawa. "Hahaha... apakah monster mengenal cinta?" tanyanya penasaran.
"Aku tidak bilang cinta." Chuki protes.
"Eh, tadi patah hati apaan?" tanya Reo bingung dengan sikap Chuki yang tiba-tiba seperti orang ngambek.
"Aku bilang penyakit hati dan patah hati."
"Apa bedanya?" Reo bertanya dengan bingung.
"Bedalah!"
Tak mau berdebat dengan tenan barunya, Reo melanjutkan perjalanan. Chuki masih ada di pundaknya, menempel seperti bola mainan yang tidak bisa lepas.
"Apakah di depan sana ada monster yang lebih besar?" tanya Reo penasaran dengan situasi labirin ini.
"Ada tiga peti harta di depanmu. Setiap peti memiliki angka yang berbeda di depannya. Peti pertama memiliki angka 2, peti kedua memiliki angka 3, dan peti ketiga memiliki angka 5. Ada satu peti yang akan membantumu melanjutkan petualangan mu. Angka di peti tersebut adalah jumlah dari angka di peti lainnya dikalikan dua. Peti mana yang harus kau pilih?"
Dan ternyata benar. Tak jauh dari tempat mereka berada, ada tiga peti dengan bentuk yang biasa, yang tertulis angka-angka yang disebutkan oleh kucing Chuki barusan.
Reo bukanlah siswa yang pintar tapi juga tidak terlalu bodoh, sehingga dia bisa mengetahui peti mana yang harus dia pilih.
"Peti yang harus aku pilih adalah peti ketiga, karena 5 merupakan jumlah dari 2 dan 3, dan 5 x 2 \= 10, yang mungkin saja adalah angka yang diperlukan untuk membuka pintu atau mekanisme lainnya di labirin ini."
Clang
Seberkas cahaya tiba-tiba muncul. Terdapat pintu gerbang dengan tombol-tombol angka seperti papan layar ponsel.
"Kau harus menemukan sandi untuk membuka pintu rahasia ini. Hanya ada satu petunjuk. Angka di sandi tersebut adalah jumlah dari dua angka di bawah ini, dan keduanya harus merupakan angka ganjil. Angka-angka tersebut adalah 1, 3, 5, 7, dan 9."
Chuki kembali memberikan instruksi yang harus dilakukan oleh Reo. Sepertinya tugas Chuki memang sebagai guide Reo di ruangan labirin ini.
"Jawabannya adalah satu-satunya angka yang bisa dihasilkan dari dua angka ganjil di atas adalah 10, yaitu 3 + 7 atau 1 + 9. Jadi, sandi untuk membuka pintu adalah 10." Reo menemukan jawabannya, kemudian menekan angka angka tersebut.
Cling
Tiba-tiba pintu tadi berpendar seperti cahaya yang menghilang dari hadapan Reo, berganti dengan lorong yang tidak terlalu gelap tapi juga tidak terlalu terang.
Reo sudah ada di labirin berikutnya di dunia game petualangan bersama Monster. Dia ditemani Chuki, monster kucing yang dia taklukkan. Tapi kali ini Monster yang harus dia hadapi kemungkinan jauh lebih besar dan kuat bandingkan dengan Chuki.
__ADS_1
Reo dan Chuki berada di labirin yang baru di dalam game petualangan bersama Monster.
Gauerrr
Gweeerrr
"Chuki, lihatlah! Itu monster singa. Dia... apa dia sangat besar dan kuat. Kita harus berhati-hati." Reo terkejut saat melihat seekor monster singa yang sangat besar.
"Tenang saja, Reo. Atau kamu mau menyerah?" Chuki justru meragukan kemampuan Reo, yang sebenarnya adalah tuannya.
"Tapi monster singa ini berbeda. Dia lebih cepat dan lebih kuat dari monster kucing."
"Eh, maksudnya kamu." Reo cepat meralat ucapannya yang tadi.
"Hehhh, aku memang sengaja mengalah." Chuki pura-pura kesal dan tidak mengakui kesalahannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Reo yang tidak mau menanggapi kekesalan Chuki.
"Kita harus memanfaatkan kelemahannya. Sepertinya dia agak lambat dalam menghindari serangan karena badannya terlalu besar. Kamu bisa mencoba menyerangnya sekarang."
Reo mendengar perkataan monster kucing yang sudah takluk dengannya. "Kamu tidak bercanda, kan? apakah harus aku mencobanya? Tapi kita harus bergerak cepat jika ingin ke tempat yang lain."
"Aku akan mencoba menarik perhatiannya. Saat dia sedang memfokuskan perhatiannya ke arahku, kamu bisa menyerangnya dari belakang." Chuki memberikan ide.
"Bagus ide kamu, Chuki. Kita harus bekerja sama dengan baik agar berhasil mengalahkannya." Reo senang dengan ide yang baru saja dikatakan oleh temannya yang berupa kepala kucing.
"Kita pasti bisa melakukannya, Reo. Ayo, kita serang!" Chuki tidak sabar.
Mereka menghadapi Monster singa yang jauh lebih besar dan kuat dari Chuki. Monster singa bisa berdiri dan berlari dengan cepat, sehingga membuat situasi menjadi lebih menantang bagi Reo dan Chuki.
Singa memiliki pita suara yang tidak biasa sehingga suara yang dihasilkannya jadi begitu berat dan keras tanpa perlu terlalu menekan sistem pernapasannya. Pita suara pada singa berbentuk mendatar dan dilapisi oleh lapisan lemak yang membuat pita suaranya bergetar dengan lebih mudah.
Suara singa mengaum menunjukan bahwa singa marah, dengan menunjukkan taringnya yang putih dan tajam serta tatapan mata yang merah menyala.
Auman singa terdengar memekakkan telinga Reo, sehingga dadanya ikut berdebar kencang.
Reo merasa sedikit khawatir, karena Monster singa yang lebih besar dan kuat bisa menjadi ancaman yang cukup besar bagi mereka. Namun, Reo tetap harus berusaha untuk mengalahkan Monster singa ini agar dapat melanjutkan perjalanannya di labirin yang baru.
Chuki yang menemani Reo merasa khawatir dengan keadaan Reo dan segera melompat ke depan untuk membantu. Dengan cepat, Chuki mengeluarkan serangan Scratch-nya yang tajam dan mematikan, mengalihkan perhatian monster dari Reo. Sementara itu, Reo melakukan ancang-ancang untuk membeli senjata atau apapun itu yang bisa digunakan untuk melawan monster singa di depannya ini.
Gauerrr....
Ngaung...
Pertarungan keduanya tidak seimbang, tapi itu membuat Reo harus segera bertindak. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Chuki.
__ADS_1