
"Aku ingin melakukan ta'aruf denganmu" ucap Hazim setengah berbisik namun cukup mengejutkan Shiza sehingga reflek melihat lelaki dihadapan nya, di detik berikutnya dia tersadar dan kembali menundukkan wajahnya yang kini telah merona merah di balik cadar hitamnya.
"Datanglah temui Abi.." balas Shiza sebisa mungkin menyembunyikan getar suara bahagia nya.
"Ya, Besok ba'da Magrib aku akan kerumah mu menemui Abi Halim," ucap Hazim.
Shiza hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban dengan tetap menundukkan pandangannya.
Kemudian dua insan tersebut melanjutkan perjalanan ketujuan mereka, Shiza yang akan mengajar mengaji anak-anak pesantren dan Hazim menuju salah satu kamar yang dia huni di pesantren khusus Ikhwan. Ya! Setelah ditemukan 6thn yang lalu Hazim diizinkan untuk tinggal dipesantren yang dimiliki Abi Halim, Nama Hazim Sadid Al-Karim juga merupakan pemberian dari Abi Halim yang mempunyai arti Laki-laki yang selektif, tepat dan mulia.
Dalam 6 tahun terakhir Hazim hidup di lingkungan pesantren yang membuat Hazim menjadi sosok yang sangat haus akan ilmu agama, dia terus mendalami agama dan menemukan kedamaian dalam hatinya. Hazim pun sudah tidak memikirkan siapa dan seperti apa masa lalunya, dia hanya berfikir dengan dia ada di pesantren tersebut adalah garis jalan hidup yang dia sambut dengan rasa syukur karena telah mengenal orang-orang yang sangat baik dan menjunjung tinggi nilai dalam beragama. Suasana pesantren yang sangat menenangkan hati, suara bersahutan saat anak-anak bertadarus selalu berhasil menyejukkan hatinya. Jauh didalam lubuk hatinya dia merasa selama ini dia sangat merindukan suara-suara indah itu.
Shiza memasuki ruangan yang telah dipenuhi oleh anak-anak pesantren didikannya. Senyuman masih enggan meninggalkan bibir indah yang ada dibalik niqabnya. Masih teringat jelas bagaimana tadi Hazim mengajaknya ta'aruf, lelaki yang beberapa tahun terakhir diam-diam dia kagumi. Shiza teringat saat pertama kali melihat Abi nya membawa Hazim ke pesantren. Lelaki yang entah berasal dari mana itu hanya diam mengurung diri selama berhari-hari hanya untuk berusaha mengingat siapa dirinya. Sesekali Shiza mendengar erangan putus asa dari dalam kamar lelaki itu, erangan yang membuat iba siapapun yang mendengarnya. Namun setelah 3 bulan berlalu, lelaki itu sudah mulai bisa menerima takdirnya, dia tidak lagi mencari jati dirinya, namun dia membuat jati diri yang baru, jati diri yang Shiza kagumi karena haus ilmu agama nya, kebaikan hati kepada sesama penghuni pesantren, sikap santun kepada orang yang lebih tua, dan kebijaksanaan-kebijaksanaan nya dalam membantu Abi Halim menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi.
Keesokan harinya Hazim menepati janjinya, setelah melaksanakan Sholat Magrib berjamaah, Hazim mendekati Abi Halim saat hendak meninggalkan mesjid.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Abi Halim.." sapa Hazim setelah bersejajar dengan pemilik pesantren yang dia tinggali.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh, ada apa nak Hazim? Bagaimana kabar mu, beberapa hari ini Abi pergi mengunjungi teman Abi di pesantren yang ada di desa sebelah.. Abi sangat bahagia menerima penerimaan ta'aruf untuk Shiza dan anak lelaki dari sahabat Abi, Abi sangat mengenal Daffa, anak dari Ustadz Daus itu sedari kecil, dia anak yang baik," ucap Abi Halim kepada Hazim dengan wajah yang penuh kebahagiaan.
Hazim tertegun dan otomatis menghentikan langkah nya, membuat Abi Halim pun ikut berhenti dan melihat Hazim dengan tatapan bertanya.
"Ada apa nak Hazim?" tanya Abi Halim.
"Hmm... Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan kepada Abi mengenai Shiza," Hazim menyampaikan dengan ragu, apakah akan melanjutkan permintaan ta'aruf nya, atau harus menyerah sebelum bertanding, mengingat rivalnya adalah lelaki dengan asal usul dan mungkin lebih dalam ilmu agama nya sehingga akan lebih layak bersanding dengan Shiza yang bisa diibaratkan dengan mutiara dipesantren ini. Hazim sadar diri, dia sendiri bahkan tidak tahu siapa nama aslinya, asal usulnya, masa lalunya dan siapa orang tuanya. Jika dibandingkan dengan Daffa pastilah ilmu agamanya juga sangat berbeda level. Namun Hazim adalah lelaki yang berpendirian kuat, Dia orang yang gigih memperjuangkan apa yang menurut dia layak diperjuangkan. Dan menurut nya mendapatkan seorang Shiza adalah hal yang sangat layak untuk diperjuangkan.
"Mengenai Shiza??" Tanya Abi Halim memastikan apa yang didengar nya.
"Baiklah, ayo kita bicarakan ini didalam Nak Hazim" ajak Abi setelah mereka sampai di kediaman rumah Abi Halim.
"Assalamu'alaikum.." Abi Halim dan Hazim serempek mengucapkan salam saat memasuki kediaman Abi Halim.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," balas Umi Fatimah, ibunda Shiza.
"Wah ada nak Hazim ya, mari sini masuk Nak... Silahkan duduk, Umi akan buatkan minuman untuk kalian," sambut Umi dengan senyuman hangat. Abi Halim dan Umi Fatimah sudah menganggap Hazim sebagai keluarga sendiri, Hazim banyak membantu Abi Halim dalam mengurus pesantren. Hazim orang yang cerdas, banyak mencetuskan ide-ide untuk kemajuan pesantren, sehingga dalam beberapa tahun terakhir ini pesantren Abi Halim semakin besar dan telah membuka pesantren yang sama diberbagai daerah.
"Baik Nak Hazim, apa yang ingin kau sampaikan tadi mengenai Shiza?" Tanya Abi setelah mereka duduk dihadapan didalam ruang keluarga.
"Hmmm.. Begini Abi.." Hazim mengambil nafas panjang,
Bismillah... Ucap Hazim dalam hati.
"Sebenarnya saya ingin memohon izin Abi untuk berta'aruf dengan Shiza," ucap Hazim.
Terlihat tatapan terkejut dari Abi Halim namun detik berikut nya Abi pun tersenyum.
Jika ditanya bagaimana perasaan Hazim saat ini, sungguh sangat berdebar, jantung nya pun berdetak lebih cepat.
__ADS_1
"Maaf Nak Halim... Saat ini Abi belum bisa menjawab keinginan Nak Hazim, begitu juga dengan ajakan ta'aruf dari Daffa. Abi akan benar-benar pikirkan dan menimbang mana yang terbaik, Shiza adalah mutiara ku satu-satunya, Abi tidak ingin mengambil keputusan yang akan Abi sesali seumur hidup ku nanti nya. Datang lah lagi besok Ba'dha Isya, in syaa Allah Abi sudah mempunyai jawabannya," ucap Abi Halim dengan menjelaskan keputusan nya.
"Baik saya mengerti Abi, saya hanya bisa menyampaikan permohonan saya Abi, semua keputusan kembali lagi kepada Abi dan Shiza," ucap Hazim.