Kecantikan Dibalik Cadar

Kecantikan Dibalik Cadar
Bab 12


__ADS_3

  Hazim yang melihat adegan itu pun tiba-tiba merasakan pusing yang teramat sangat. Dia memegang kepalanya kemudian terhuyung.


  Shiza segera meraih tangan suaminya sebelum Hazim jatuh pingsan.


   "Pak, tolong bantu saya membawa suami saya ke rumah sakit terdekat," teriak Shiza memanggil petugas Hotel.


  Jacelyn pun mengikuti mereka, dia bertekad tidak akan lagi kehilangan Xavier. Jacelyn segera mencari telepon genggam nya untuk menghubungi Naziya, Ibu Xavier.


   "Tante, cepat ke Rumah Sakit Abadi, aku bertemu Xavier," teriak Jacelyn setelah panggilan nya terhubung.


  Naziya sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya. Bahkan dia tidak sempat menjawab perkataan Jacelyn, secepatnya dia menuju Rumah Sakit Abadi diantarkan supir pribadinya.


  Sepanjang perjalanan dia memegang dadanya yang bergemuruh, rasanya sangat tidak percaya dengan apa yang didengar nya barusan, Xavier anak kesayangan nya masih hidup, anak yang selalu dia banggakan, anak yang beberapa tahun ini telah merubah kehidupannya dan menghilangkan senyum bahagianya.


  Sedangkan di Rumah Sakit Abadi Xavier di larikan ke IGD, Shiza menunggu di kursi yang ada di depan ruangan itu. Jacelyn pun menunggu di ruangan yang sama, walau tidak berdekatan.


  Tiba-tiba seorang wanita setengah baya yang masih cantik mendatangi Jacelyn.


   "Tante, Xavier di dalam ruangan itu tante," ucap Jacelyn dengan sendu.


  Jacelyn yang melihat Naziya mendatangi nya segera berdiri dan menghambur ke dalam pelukan Naziya.


   "Jacelyn, jawab tante, betul yang kamu lihat? Disana ada Xavier? Xavier anak tante? Kamu tidak bohong kan Jacelyn?" tanya Naziya bertubi-tubi untuk menyakinkan dirinya bahwa keyakinan dan penantian nya selama ini tidak lah sia-sia.


  Jacelyn menganggukkan kepala sambil mengucap lembut lengan Naziya.

__ADS_1


   "Betul tante, ternyata selama ini tante benar, Xavier kita masih hidup tante, maaf aku yang tidak pernah mempercayai tante dan memilih untuk menyerah," ucap Jacelyn dengan sedih.


  Naziya menangis sambil menutup mulutnya, dia sangat bahagia.


   "Lalu bagaimana keadaannya, kenapa dia dibawa ke IGD?" tanya Naziya.


  Jacelyn menceritakan kejadian di hotel, dimana dia bertemu Xavier, dan ada seorang wanita bercadar yang mengaku istrinya.


  Naziya pun melihat ke arah wanita bercadar yang ada di kursi seberang mereka. Pandangan mereka pun bertemu, namun tidak ada satu kata pun terucap, semua masih terasa sangat membingungkan untuk mereka.


  Shiza yang melihat dan mendengar percakapan 2 wanita dihadapan nya pun hanya bisa diam, saat ini dia merasa sangat khawatir, bukan hanya karena keadaan Hazim, tetapi apa yang baru saja terjadi sangat diluar dugaan, begitu banyak pertanyaan didalam kepalanya. Siapa wanita ini, kenapa dia menyebut Hazim sebagai Xavier, apakah benar suaminya adalah Xavier, apakah benar wanita itu adalah ibu dan tunangan Hazim? Apakah benar mereka adalah masa lalunya.


'Ya Allah... Sembuhkanlah suami ku, lindungi rumah tangga ku, aku berserah kepada-Mu,' Batin Shiza terus berdoa didalam hatinya. Dia hanya berharap apa yang terjadi setelah ini tidak membuat Hazim meninggalkan Shiza, bagaimana pun Shiza sudah sangat mencintai Hazim, Shiza pun menangis dalam diam.


  Setelah beberapa saat, dokter yang menangani Hazim keluar dari ruangan IGD.


  Shiza sebagai istrinya pun langsung berdiri, namun tidak hanya Shiza, Naziya dan Jacelyn pun ikut berdiri.


   "Saya istri nya," jawab Shiza.


   "Saya ibu nya," jawab Naziya.


  Mereka menjawab dengan serempak . Dokter itupun melihat kedua wanita itu dan mulai menjelaskan.


   "Pasien pernah mengalami gegar otak yang cukup parah, sehingga menyebabkan adanya gumpalan darah di kepala nya, seharusnya sering timbul gejala seperti sakit kepala atau pusing, tetapi mungkin pasien tidak terlalu menghiraukan nya. Hmm,, apakah pasien juga mengalami amnesia sebelum nya?" tanya dokter tersebut.

__ADS_1


   "Benar dok, selama kurang lebih 6 tahun ini pasien tidak bisa mengingat apapun," lirih Shiza.


  Naziya pun kaget mendengar penuturan Shiza, benang merah mulai terlihat, jadi karena inilah putranya Xavier tidak pernah pulang.


   "Saya harus segera melakukan operasi untuk menghilangkan gumpalan darah di kepala nya, sementara saya persiapkan, pasien sudah bisa di jenguk," ucap dokter.


  Seorang suster terlihat keluar dari ruangan dan membisikkan sesuatu pada dokter.


   "Apa ada yang bernama Ibu Shiza?" tanya dokter itu kemudian.


   "Saya Shiza dok," jawab Shiza.


   "Pasien ingin bertemu denganmu," ujar dokter.


  Shiza pun melihat ke arah Naziya, dan dibalas dengan anggukan. Walaupun Naziya kecewa karena anak kesayangannya melupakan nya, tetapi baginya yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Xavier.


  Shiza mendekati Hazim yang terbaring lemah. Dia sudah sadar, tetapi sakit di kepala nya masih terasa. Hazim yang merasa tangan nya di genggam lembut pun membuka mata nya dan menemukan istri tercintanya melihat dengan sendu ke arah Hazim.


   "Sayang, aku tidak apa-apa, jangan menangis," ucap Hazim dengan suara yang pelan tapi Shiza masih bisa mendengarkan nya.


Shiza mengangguk dan masih mengeluarkan air mata nya.


   "Jangan tinggal kan aku," ujar Shiza lirih.


   "Hey.. Apa yang kamu katakan? Aku tidak akan pernah meninggalkan mu," Hazim mengatakan dengan sangat lembut dan menggenggam tangan Shiza.

__ADS_1


   "Apapun yang terjadi, dan bagaimana pun masa laluku, aku telah meyakini kamu lah masa depan ku, dan ikrar suci yang telah aku ucapkan tidak akan pernah aku khianati," ucap Hazim dengan serius.


__ADS_2