
"Bisa tolong ceritakan, siapa kalian dan siapakah Xavier?" tanya Hazim.
Malam itu mereka berkumpul dalam satu ruangan. Hazim, Shiza, Zayn, Naziya, Zerina, dan Jacelyn. Naziya mengambil sesuatu di tas nya, kemudian dia menyerahkan kepada Hazim. Hazim menerima dan melihat sebuah foto dimana sepasang kekasih terlihat memperlihatkan kedua tangan mereka ke kamera tersenyum penuh kebahagiaan. Dan dibelakang sepasang kekasih itu ada Zayn, Naziya, dan Zerina yang terlihat turut berbahagia juga.
Wajah lelaki yang bertunangan itu mirip dengan nya, bukan hanya mirip, tetapi itu memang dia. Beda nya di foto itu dia terlihat rapi memakai jas mahal dan wajahnya pun terlihat mulus tanpa bulu halus di dagu nya seperti saat ini.
"Ini adalah foto pertunangan anak lelaki ku, bernama Zarar Asshauqi Xavier. Putra kami memanggilnya Xavier, sekitar 6 tahun yang lalu kami kehilangan nya, dia mengalami kecelakaan mobil, mobilnya hangus terbakar. Di hari itu kami semua merasakan sakitnya kehilangan orang yang kami sayangi, hidup ku hancur mengetahui anak lelaki ku dikabarkan meninggal dunia. Dan itu adalah kamu, siapapun namamu saat ini, kamu adalah anak ku Xavier," ucap Naziya sambil mengusap bulir bening yang menetes di pipi nya.
Naziya ingin sekali memeluk anaknya, tetapi dia sadar, yang dihadapan nya saat ini adalah orang yang menganggapnya orang asing, Naziya tidak ingin dia merasa tak nyaman. Pelan-pelan dia akan menjelaskan dan membantu Xavier untuk mengingat nya.
Shiza turut melihat foto itu, suami nya sedang bersanding bersama perempuan yang dia tahu bernama Jacelyn itu. Hati nya kembali sakit. Dia melirik kepada Jacelyn yang tengah duduk menunduk, sangat terlihat jelas kesedihan wanita itu.
"Aku masih belum mengingat semua dan..." ucap Hazim setengah.
Hazim memegangi kepala nya, Shiza pun memegang bahu suami nya dan berdiri menghadap ke orang-orang yang ada di hadapan nya.
__ADS_1
"Saya mohon maaf tetapi saat ini kondisi suami saya masih tidak memungkinkan untuk membahas ini, bisa kita tunda dulu pembahasan ini sampai kondisi suami saya lebih stabil?" ucap Shiza dengan tegas.
"Baik, kami hanya terlalu bahagia melihat anggota keluarga kami ternyata masih hidup, mungkin memang saat ini adalah waktu yang tidak tepat, kami akan kembali lagi esok hari," Zayn berbicara mewakili keluarga nya.
"Izinkan saya ikut merawatnya ya?" Naziya bertanya kepada Shiza.
Shiza melihat ke arah suami nya, terlihat Hazim hanya diam dengan tatapan kosong.
"Baiklah, kembalilah besok, tetapi saya mohon demi kebaikan suami saya, jangan terlalu memaksa dia untuk mengingat masa lalu nya, bukan maksud saya melarang dia mengingat itu semua, tapi saya minta kita lakukan itu secara perlahan. In syaa Allah akan ada waktu nya dia bisa mengingat semua nya," ujar Shiza.
Naziya mendekat kepada Shiza dan memeluk nya sebentar.
"Tolong jaga dia sebagai mana selama ini kamu merawatnya," bisik Naziya. Shiza pun mengangguk.
Kemudian mereka keluar dari ruangan itu tak terkecuali Jacelyn. Saat tiba di pintu Jacelyn berhenti sebentar dan membalikkan badan melihat ke arah Hazim, terlihat wanita itu enggan keluar dari ruangan. Namun kemudian Naziya merangkul nya dan mengajak nya pergi. Jacelyn pun akhirnya menurut dan pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Shiza kembali duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Hazim. Dia tidak ingin membahas tentang apa yang tadi mereka dengar, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Hazim.
"Maafkan aku," tiba-tiba Hazim berucap pelan tetapi suara itu membuat Shiza melihat ke arah Hazim.
"Jangan meminta maaf, tidak ada yang salah, semua ini adalah jalan yang harus kita lalui. Aku akan tetap di sampingmu mendampingimu mencari tahu semua masa lalu mu. Walaupun setelah kamu ingat semua aku yang harus pergi, aku akan menerima apapun yang menjadi keputusan mu," ujar Shiza dengan lembut.
"Tidak, jangan katakan itu, sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kamu pergi!" ucap Hazim dengan tegas.
"Kamu adalah wanita yang aku pilih dan aku inginkan sebagai pendamping ku dunia akhirat," sambung Hazim.
Hazim membuka niqab Shiza dan mencium kening istri nya Shiza.
"Tetaplah bersama ku Rafania Shiza Farzana, aku mencintaimu," ucap Hazim dengan lembut dan tulus.
Shiza pun melihat mata Hazim dengan sendu dan menganggukkan kepala nya.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu imamku," jawab Shiza dengan tersenyum.