
"Apakah kalian akan cepat kembali ke pesantren mu?" Naziya bertanya pada Shiza dan terlihat murung. Bagaimana pun dia baru saja bertemu dengan Hazim putranya. Dia masih sangat ingin ikut merawat Hazim dan membantu mengembalikan ingatannya.
"Semua tergantung kemauan Kak Hazim Mom, Shiza sebagai istri akan menuruti apapun keputusan suami Shiza. Apabila Kak Hazim masih akan terus disini untuk terapi ingatan nya, Shiza akan tetap mendampingi nya dan tidak akan memaksanya untuk segera kembali," ucap Shiza dengan senyum ketulusan nya.
Naziya pun kembali tersenyum dan mengenggam tangan Shiza dengan erat.
"Terima kasih sayang.. Telah menjadi istri yang sangat pengertian untuk anakku," Naziya benar-benar berterimakasih dari hatinya yang terdalam.
Beberapa hari telah berlalu, Hazim telah diperbolehkan untuk pulang. Zayn dan Zerina pun sering menjenguk Hazim, namun pembicaraan mereka tentang masa lalu Hazim harus ditunda dulu demi kesembuhan Hazim.
Hari ini adalah hari kepulangan Hazim, Shiza sudah mempersiapkan semua barang-barang mereka.
"Kak, jadi kita akan pulang kemana?" Tanya Shiza sembari memasukkan barang-barang ke dalam koper.
__ADS_1
"Hmmm... Mommy ingin kita pulang ke rumah mereka, apa kamu keberatan kalau saat aku melakukan terapi dikota ini dan sementara kita tinggal disana?" Ucap Hazim dengan lembut.
"Tidak Kak, kemanapun Kak Hazim pergi aku tidak akan keberatan," Shiza pun menjawab.
"Baiklah, kamu tahu aku sudah sangat bosan ada disini, aku tidak menyukai bau rumah sakit, suasana ini membuat ku tidak nyaman," Hazim pun berdecak sebal. Siapapun akan merasa bosan berhari-hari harus berbaring di brangkar rumah sakit, walaupun dengan fasilitas yang sangat lengkap, tetap saja akan merasa bosan.
Shiza pun tersenyum dan mendekat kepada suaminya.
"Aku tahu itu, tetapi ini semua kan demi kebaikan kaka sendiri," ujar Shiza dengan lembut.
"Kamu.. Kamu lah kebaikan terbesar yang terjadi dalam hidupku," Hazim pun menarik tengkuk Shiza, mendekatkan wajahnya ke wajah Shiza dan mencium lembut bibir Shiza. Shiza pun membalas ciuman suaminya dengan kelembutan. Namun hanya sesaat, setelah itu dia melepaskan ciuman mereka.
"Sudah cukup, atau kamu tidak akan berhenti sampai di sini, aku harap kamu masih bisa mengingat bahwa saat ini kita masih berada dirumah sakit," Shiza tertawa sembari mengerling menggoda suaminya.
__ADS_1
Hazim pun tertawa, dan memeluk istri nya dengan sayang.
"Aku merindukanmu," dia berbisik tepat di dekat telinga Shiza.
"Ya, aku merindukanmu," balas Shiza dengan malu-malu.
"Apa? Benarkah? Coba katakan sekali lagi kalau kamu juga merindukan ku," Hazim pun menggoda Shiza, dia begitu gemas melihat muka istri nya yang memerah.
"Tidak, aku berbohong, aku sama sekali tidak merindukanmu," jawab Shiza mencebikkan bibirnya.
"Hahahaah... Kenapa kamu sangat lucu sayang, kamu benar-benar perempuan yang unik, ada suatu ketika kamu bersikap sangat tegas dan galak tetapi ada kalanya kamu sangat mirip gadis kecil yang akan merajuk jika tidak dibelikan permen," ucap Hazim dengan tertawa.
Shiza pun kini memanyunkan bibirnya dan mencubit perut Hazim.
__ADS_1
"Dan kamu tau, saat ini kamu sangat menyebalkan," ujar Shiza dengan sikap merajuk nya.
Mereka pun tertawa dan kembali berpelukan. Shiza merasa sangat nyaman saat dipeluk oleh suami nya. Dan bagi Hazim, wangi khas Shiza sudah menjadi candu baginya. Walaupun Hazim tau istrinya tidak pernah memakai wewangian apa lagi parfum mahal yang biasa dipakai oleh wanita-wanita diluaran sana. Tetapi wangi Shiza tetap menjadi yang terfavorit baginya.