
Hazim pun tertidur setelah diberikan suntikan obat oleh dokter nya. Shiza tarus di samping Hazim, sampai kemudian Naziya memanggil nya.
"Shiza, boleh aku bertanya sesuatu? Kemarilah, duduk disamping ku," ucap Naziya.
Shiza pun menuju sofa yang tengah di duduki Naziya dan duduk di samping nya. Naziya memandang Shiza dengan hangat.
"Ceritakan pada ku bagaimana kalian bertemu? Dan berapa lama kalian pacaran hingga memutuskan untuk menikah?" tanya Naziya kepada Shiza.
"Pacaran? Di dalam hidup ku tidak pernah mengenal apa itu hubungan pacaran," jawab Shiza.
__ADS_1
Naziya pun mengernyitkan alis nya, dia bingung dengan jawaban Shiza.
"Lalu bagaimana bisa kalian tiba-tiba menikah?" tanya Naziya dengan ekspresi membingungkan. Shiza pun mulai menceritakan awal mula mereka bertemu.
"6 tahun yang lalu ayahku menemukan Kak Hazim dalam keadaan terluka. Lalu ayahku pun membawanya ke pesantren kami, kami hidup berdampingan selama bertahun-tahun. Kak Hazim orang yang sangat peduli dengan sekitar, bahkan dia membantu ayahku untuk mengembangkan pesantren, dia orang yang baik, tekun dan juga pintar. Semua orang pesantren menyukainya hingga beberapa minggu yang lalu dia mengajakku untuk ta'aruf," ucap Shiza menjelaskan nya kepada Naziya.
"Ta'aruf adalah perkenalan atau bisa dibilang saling mengenal yang dianjurkan dalam Agama Islam, yang artinya saling mengenal sebelum menuju ke jenjang pernikahan. Ta'aruf dilakukan sebelum Khitbah. Khitbah ialah meminang atau melamar atau bisa juga menawarkan diri untuk menikah," ujar Shiza.
"Lalu kalian menikah begitu saja?" tanya Naziya.
__ADS_1
"Iya, kami menikah dengan doa restu dari kedua orangku, maafkan aku saat itu aku tidak tahu bahwa Kak Hazim masih mempunyai orang tua, sehingga kami menikah tanpa meminta restu kalian," jawab Shiza dengan menunduk merasa bersalah.
"Tidak, itu semua bukan salah kalian, walaupun terlambat, aku ingin kamu tahu bahwa aku sudah merestui kalian," ujar Naziya. Naziya tersenyum dan langsung memeluk Shiza, dia sangat menyukai Shiza, perempuan bercadar yang kini telah menjadi menantu nya.
Satu hal yang Naziya tidak habis pikir, sebelum kecelakaan itu terjadi, Hazim adalah seorang pria yang sangat keras kepala, arogan dan terkenal dengan sifat nya yang dingin. Dia sangat berambisi dalam bisnisnya dan dia adalah orang yang akan tega menyingkirkan siapapun yang berniat menghalanginya. Sedari kecil putra nya itu juga tidak terlalu mendalami agama. Selama ini hanya Jacelyn yang bisa meluluhkan hati nya. Walaupun dikelilingi banyak wanita cantik didalam bisnisnya dia tidak pernah tergoda dan tetap setia dengan Jacelyn. Dia tidak menyangka ternyata Shiza lah yang pada akhirnya berhasil memenangkan hati Hazim, bahkan dia juga berhasil mengubah semua sifat jelek Hazim. Hazim yang dia kenal kini terlihat mempunyai hati yang sangat lembut, semua orang yang melihat mereka pun tahu bagaimana Hazim menyayangi Shiza walau hanya dari sorot matanya saat memandang Shiza.
"Kenapa kamu bercadar? Apakah dalam islam juga mewajibkan untuk menutup wajah mu?" tanya Naziya.
"Yang di wajibkan dalam agamaku adalah menutup aurat, rambut adalah aurat bagi perempuan, jadi yang di wajibkan dalam islam adalah berhijab. Cadar adalah sebuah pilihan, dan sedari kecil keluarga ku memilih untuk memakaikan cadar ini. Seiring berjalannya waktu aku pribadi pun akan lebih nyaman saat memakai cadar, jadi ini juga merupakan pilihan ku untuk menutup wajahku," ucap Shiza. Naziya pun tersenyum.
__ADS_1