
Tanpa terasa 2 minggu telah berlalu.
Pagi itu Shiza memakai kebaya putih yang sederhana tapi terlihat cantik bila Shiza memakai nya, walaupun tidak memperlihatkan lekuk tubuh Shiza dan niqab menutupi sebagian wajah Shiza namun siapapun yang melihat pasti akan berdecak kagum akan keindahan mempelai wanita.
Umi Fatimah sedang membetulkan pernak pernik hiasan di kerudung Shiza. Kemudian bulir bening mengalir dari mata Umi Fatimah. Shiza yang melihat dari kaca didepan nya bahwa sang Umi menangispun langsung berbalik melihat langsung Umi tersayang nya.
"Umi..." Ucap Shiza sembari mengusap pipi Umi Fatimah yang basah.
"Maafkan Umi ya sayang, Umi hanya terharu melihatmu, Umi merasa baru kemarin Umi mengandungmu, melahirkanmu, mengajarimu berjalan, semua itu masih terekam jelas seolah-olah baru terjadi kemarin. Tapi lihatlah sekarang, kau menjelma menjadi seorang putri yang sangat cantik. Dan akan menjadi seorang istri," Lagi-lagi mata Umi Fatimah tergenang.
Shiza pun langsung memeluk Umi nya, namun detik kemudian Shiza pun kaget dengan perkataan Umi nya lagi.
"Ehhh tidak... tidak.. Kau tidak boleh ikut menangis atau MUA itu akan mengomeli Umi membuatmu menangis hingga dia harus bekerja lagi membenarkan make up mu. Celak dimatamu itu sungguh sudah sangat indah. Jadi jangan coba-coba menangis atau Hazim akan kabur ketakutan melihatmu keluar dengan celak yang luntur dimatamu," gurau Umi Fatimah.
"Hahaha.. Umiii," jawab Shiza sambil mencubit sayang tangan Umi nya.
Abi Halim dan Hazim telah duduk berhadapan di meja akad. Acara akad nikah di adakan di aula pesantren.
"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinangan mu, Puteri ku RAFANIA SHIZA FARZANA dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 25 gr dibayar tunai," ucap Abi Halim.
"Saya Terima nikah dan kawinnya RAFANIA SHIZA FARZANA dengan mas kawin yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugrah," jawab tegas Hazim.
"Bagaimana hadirin, SAH!!" Tanya Abi Halim.
__ADS_1
"SAHHH!!!" Serentak orang-orang yang menghadiri acara sakral tersebut.
"Alhamdulillah," ucap Abi Halim.
Kemudian di lanjutkan dengan doa-doa bersama.
Shiza memasuki ruangan itu dituntun oleh Umi Fatimah. Hazim memandang istri nya dengan hangat. Shiza duduk di sebelah lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya. Kemudian Shiza pun mencium tangan nya. Dan Hazim mencium kening Shiza.
Umi Fatimah tak kuasa menahan tangis haru bahagia nya, putri kecil nya kini telah dipinang oleh orang lain.
Semua orang yang ada disitu terharu menyaksikan pernikahan Putri kesayangan dan kebanggaan mereka.
Mereka sangat menyayangi Shiza. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh semoga Shiza dilimpahi kebahagiaan.
Setelah selesai menikah Shiza yang sudah menyiapkan barang-barang miliknya bersiap untuk ikut ke rumah suami nya.
"Sudah siap?" Hazim bertanya dengan lembut pada Shiza.
"Iya sudah kak," jawab Shiza.
Umi Fatimah menangis dan memeluk Shiza seolah anaknya akan pergi jauh meninggalkan nya.
"Sudah Umi, Shiza hanya pindah ke kota. Shiza akan sering mengunjungi kita," Abi Halim menenangkan istri nya.
__ADS_1
"Tapi Umi pasti akan merasa kesepian, apa tidak bisa kalian tetap tinggal di sini?" Ucap Umi Fatimah dengan sedih.
Shiza pun melihat Hazim, tapi sebelum Hazim menjawab Abi Halim sudah lebih dulu berkata.
"Biarkan mereka menjalani hidup rumah tangga berdua Umi, mereka butuh lebih saling mengenal satu sama lain. Jangan buat Shiza bimbang dengan permintaan Umi," ucap lembut Abi Halim kepada sang istri nya.
"Iya maafkan Umi ya nak Hazim, Umi hanya sedih, sedari Shiza kecil tidak pernah seharipun kami berpisah, tolong jaga Shiza ya nak Hazim, ibu percaya kau akan membahagiakan anak Umi," pinta Umi Fatimah.
"In syaa Allah Umi, aku akan selalu menjaga perasaan Shiza, Shiza adalah anugerah terindah yang dipercayakan Allah kepadaku melalui Abi dan Umi," jawab Hazim.
Umi mengangguk menyetujui pernyataan Hazim. Mendengar hal itu membuat hati Umi Fatimah menjadi lebih tenang.
"Baiklah, doa Umi selalu menyertai kalian," ucap Umi Fatimah kemudian memeluk Shiza lagi.
Shiza mencium tangan Abi Halim.
"Berbaktilah kepada suamimu, selalu ingat semua yang telah Abi ajarkan kepadamu, sesungguhnya ridha seorang istri ada pada suaminya, raih lah surgamu melalui suamimu," pesan Abi Halim kepada Shiza anak semata wayang nya.
"Baik Abi, in syaa Allah Shiza akan selalu ingat pesan Abi dan Umi," jawab Shiza.
Hazim dan Shiza pun berpamitan, banyak anggota pesantren mengantar Shiza menuju mobil suaminya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Hazim dan Shiza pergi ya Abi.. Umi," Hazim berpamitan sampai ke depan mobil nya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh... Hati-hati nak!" Ucap Abi dan Umi Shiza.