Kecantikan Dibalik Cadar

Kecantikan Dibalik Cadar
Bab 19


__ADS_3

  Tepat pukul 9 pagi Hazim dibawa ke ruang operasi, Naziya dan Shiza menunggu Hazim dan duduk di ruang tunggu di depan ruang operasi.


  Shiza mengambil AlQuran kecil yang selalu ada di tas nya dan mulai membaca dengan pelan. Dia tidak ingin duduk diam dengan cemas menunggu detik demi detik suami nya yang tengah di operasi.


  Bahkan ketika kedatangan Zayn, Zerina, dan Jacelyn pun tetap tidak menghentikan diri nya yang terus mengaji.


  Zayn menghampiri Naziya dan memeluk nya.


   "Bagaimana Xavier?" tanya Zayn.


   "Sudah hampir 3 jam dan mereka belum juga selesai," jawab Naziya. Zayn mengangguk.


   "Bersabarlah, semua akan baik-baik saja," ujar Zayn menenangkan istri nya yang terlihat cemas.


  Zerina melirik ke arah Shiza, dia masih tidak habis pikir, bagaimana bisa kakak nya menikah dengan gadis seperti Shiza, jika di bandingkan dengan Jacelyn, mereka sangat jauh berbeda. Jacelyn mempunyai body yang aduhai seperti gitar Spanyol, bahkan Zerina saja sering merasa iri jika melihat body calon kakak ipar nya itu. Belum lagi gaya Jacelyn yang sangat fashionable, wajahnya yang terlihat glowing bahkan rambutnya selalu berubah gaya dan warna mengikuti tren. Lalu bagaimana bisa kakak nya menikahi perempuan seperti Shiza? Dengan baju longgar kebesaran di badan nya, bahkan muka nya pun di tutupi oleh cadar. Entah seperti apa wajahnya.


'Jika dia memang cantik pasti lah tidak akan menutupi wajahnya, atau jangan-jangan wajahnya penuh dengan jerawat,' Zerina pun bergidik ngeri membayangkan seberapa buruk nya wajah Shiza sampai dia menutupi wajahnya dengan kain.

__ADS_1


  Saat masuk waktu Dzuhur Shiza pun berdiri dan berjalan ke arah keluar menuju mushola yang di sediakan oleh Rumah Sakit.


   "Lihatlah tante, bahkan perempuan itu tidak mau menunggui Xavier sampai selesai operasi, dia malah pergi entah kemana," Jacelyn mulai menjalankan rencananya membuat Shiza jelek di mata keluarga Xavier.


  Naziya menghela nafas, sesungguhnya dia sedang tidak ingin memikirkan hal-hal lain selain kesembuhan anak nya.


   "Mungkin dia lapar, aku lihat dia sedari pagi belum makan membantu Hazim untuk mempersiapkan operasi," ujar Naziya.


   Zayn, Zerina, dan Jacelyn pun serentak melihat ke arah Naziya.


   "Sejak pagi ini, Hazim sendiri yang meminta nya, dia mengijinkan kita membantu nya untuk kembali mengingat masa lalu nya, tetapi dia meminta untuk memanggilnya dengan nama Hazim, aku pikir nama itu juga tidak jelek dan yang paling penting, aku senang Hazim mau menerima kita, itu dulu yang terpenting. Karena bagaimana kita akan membantu Hazim mengingat kita kalau dari awal dia sudah menolak kehadiran kita semua," ucap Naziya dengan tegas.


  Zayn dan Zerina pun mengangguk mengerti, hanya Jacelyn yang terlihat tidak Terima dengan nama kekasih nya yang di ganti.


   "Tapi tante akan bantu aku kan untuk membuat Xavier kembali kepada ku?" ujar Jacelyn.


   "Jacelyn, terus terang tante masih tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, apa pun keputusan Hazim tante akan mendukung nya, tante sudah pernah merasakan sakitnya kehilangan anak tante, tante tidak mau kehilangan dia lagi apalagi karena tante tidak mau mendukung keputusannya, itu akan lebih menyakitkan," terang Naziya.

__ADS_1


  Hal itu tentu saja membuat Jacelyn meradang, tapi dia menahan amarahnya. Tadi nya dia berpikir Naziya akan tetap mendukung hubungan nya dengan Xavier.


'Oke kalau begini, berarti tugas ku yang harus membuat Xavier kembali lagi kepada ku, aku harus melakukan apapun dan dengan segala cara apapun untuk merebut kekasih ku kembali, Xavier hanya milik ku, bukan milik perempuan itu,' batin Jacelyn.


  Beberapa saat kemudian Shiza pun kembali ke ruangan itu, Jacelyn pun mendekati Shiza.


   "Dari mana kamu? Bahkan dalam keadaan seperti ini pun kamu sempat-sempat nya pergi meninggalkan Xavier yang tengah memperjuangkan hidup nya di meja operasi," tanya Jacelyn sambil bersedekap tangan di dada nya.


   "Bukan urusan anda!" jawab Shiza tenang.


   "Kamu..." jawab Jacelyn dengan marah tetapi Zayn memanggilnya.


   "Jacelyn, tenanglah, ini Rumah Sakit, tolong jangan membuat kegaduhan," ujar Zayn dengan tegas.


  Jacelyn pun lagi-lagi harus menyimpan kemarahannya, dia pun memberengut sebal dan menghentakkan badan nya duduk di kursi di sebelah Zerina.


  Shiza kembali menyibukkan diri nya dengan mengaji, karena dengan membaca ayat-ayat suci dia merasakan ketenangan, dan saat ini itu hal yang sangat dia butuhkan.

__ADS_1


__ADS_2