
Shiza masuk ke kamar mandi, dia pun memegangi dadanya yang sangat berdebar.
'Bagaimana ini, aku harus melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri yaitu melayani suami, tapi kenapa jadi berdebar tak karuan seperti ini?'
Beberapa saat berlalu namun Shiza masih belum juga keluar dari kamar mandi. Karena khawatir istrinya akan sakit jika mandi yang terlalu lama Hazim pun mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok
"Shiza, kamu tidak apa-apa? Sudah malam jangan terlalu lama mandi, nanti kamu sakit" Hazim berseru dari depan kamar mandi mereka.
"I-iya Kak.. Sebentar lagi Shiza keluar," jawab Shiza dari dalam kamar mandi.
"Aduuh bagaimana ini, jantung bersahabatlah, jangan terlalu berdebar seperti ini" Shiza bergumam sembari mondar-mandir dikamar mandi. Dia pun akhirnya bertekad harus bisa melayani suaminya dengan baik, jangan sampai membuat suaminya kecewa.
"Bismillah.." ucap Shiza yang kemudian membuka pintu kamar mandi.
Hazim yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku pun melihat ke arah Shiza. Gadis itu memakai gaun malam dengan rambut tergerai, walau gaun malam itu tidak tipis tapi cukup memperlihatkan lekuk tubuh Shiza. Hazim pun menelan salivanya untuk kesekian kalinya takjub melihat salah satu ciptakan Tuhan yang begitu indah.
Hazim mendekat pada Shiza, reflek Shiza pun memundurkan langkah nya. Hazim yang melihat itupun menghentikan langkahnya.
"Aku akan menunggu jika kamu belum siap sayang," ucap Hazim dengan lembut.
__ADS_1
Shiza terkesiap mendengar ucapan suaminya, kemudian dengan cepat dia menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah siap!" Sedetik kemudian Shiza pun memukul pelan jidatnya merutuki suaranya kenapa justru seolah dia yang sangat menginginkan.
Hazim terkekeh melihat kekonyolan istrinya itu.
"Kita sholat dulu yuk, semoga Allah memberikan keturunan yang baik untuk kita," ucap Hazim dengan lembut.
Shiza pun mengangguk, Shiza duduk di tepi tempat tidur sambil meremas baju tidurnya. Hazim pun mendekati Shiza. Perlahan dia memegang tangan istrinya yang ternyata sangat dingin. Dia meremas tangan Shiza ingin menenangkan dan sedikit memberi kehangatan. Hazim menarik dagu Shiza untuk menghadap kepada nya.
Shiza memejamkan mata pasrah saat Hazim mencium kening nya. Detik berikutnya Shiza merasakan bibir Hazim di bibir nya, Shiza membuka sedikit bibir nya memberikan akses lebih pada bibir Hazim untuk menyesap dan mengeksplor dengan lidah nya. Ciuman itu pun berlanjut dan menuntut lebih, perlahan Hazim membuka kimono Shiza hingga tanpa sadar kimono itu telah benar-benar lepas dari tubuh nya.
"Aahhh.." desah Shiza.
Perbuatan Hazim membuat Shiza tanpa sadar mengeluarkan erangan kenikmatan, mendengar itu membuat Hazim semakin ingin membuat Shiza menyuarakan ******* demi ******* merdu dari bibirnya.
Mereka pun hanyut dalam kenikmatan, bersama menghirup wangi surga dunia, terbang tinggi melayang meraih puncak asmara.
Bukan hanya sekali Hazim menghajar Shiza, malam itu berkali-kali mereka mereguk indahnya jalinan kasih mereka. Hingga menjelang subuh mereka terbaring terkuai lemas. Shiza memeluk dengan kepalanya bertumpu pada dada bidang suaminya. Dibalik selimut itu tak ada sehelai benang pun yang melekat pada dua insan yang baru saja memadu kasih itu.
Shiza melihat jam di dinding kamar itu.
__ADS_1
'Jam 3 pagi, sebaiknya aku mandi dulu setelah itu baru membangunkan Kak Hazim untuk mandi Sholat Shubuh,' batin Shiza.
Dia pun melihat wajah suaminya yang langsung terlelap kecapean. Dengan perlahan dia turun dari tempat tidur, namun baru beberapa langkah Shiza terjatuh, dia merasakan sakit di pangkal paha nya sehingga tanpa sengaja dia pun sedikit berteriak.
"Aduhhh.." ucap Shiza sedikit berteriak.
Hazim yang mendengar teriakan Shiza pun langsung terbangun dan mendapati istrinya jatuh dilantai menahan sakit.
"Sayang.. Kamu tidak apa-apa?" tanya Hazim sedikit khawatir dan bangun dari tempat tidur untuk mendekati Shiza.
Shiza pun hanya meringis menahan sakit, dia malu mengakui bahwa pangkal paha nya terasa sangat perih.
"Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Hazim, Shiza pun mengangguk.
"Ayo sayang..." Hazim mengangkat tubuh Shiza dan menggendongnya. Shiza pun mengalungkan tangannya ke leher Hazim dan membenamkan wajahnya ke dada suaminya itu, dalam keadaan sadar seperti ini dia masih merasa malu Hazim melihat nya telanjang bulat.
Hazim mendudukkan Shiza dikursi yang ada di kamar mandi kemudian mengisi bathtub dengan air hangat. Setelah di rasa cukup Hazim kembali menggendong Shiza dan menurunkan di dalam bathub.
"Kamu bisa sendiri? Atau mau aku mandikan sayang?.." tanya Hazim.
"Aku bisa sendiri, Terimakasih," Shiza menjawab dengan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang dia yakin sudah sangat merah karena malu.
__ADS_1