
Pembicaraan mereka pun terjeda saat Umi Fatimah meletakkan teh hangat dimeja depan kedua lelaki tersebut, Umi Fatimah melihat sejenak ke arah Hazim, tersenyum dan mengangguk dengan pandangan seolah-olah berkata,
'Berjuanglah, Aku merestuimu'.
Shiza yang baru pulang dari Masjid juga tidak sengaja mendengar percakapan Abi dan Hazim dibalik pintu. Dia merasa senang Halim membuktikan keberanian nya menemui Abi dan memohon untuk berta'aruf dengan nya. Namun dia juga bimbang karena Abi akan menimbang terlebih dahulu mana yang akan Abi terima. Shiza mengenal Daffa dari kecil, Daffa orang yang baik, mengerti agama, keturunan yang jelas, sarjana tamatan Kairo, dan merupakan penerus pesantren Ustadz Daus, Ayahnya. Namun entah mengapa jauh dalam lubuk hati Shiza menginginkan permohonan Hazim lah yang akan diterima Abi. Sebagai anak yang berbakti pastinya Shiza akan tetap menerima apapun keputusan Abi nya, karena Shiza yakin keputusan Abi adalah yang terbaik untuk nya.
Setelah Hazim pulang, Abi Halim pun memanggil Shiza untuk membicarakan perihal permintaan ta'aruf.
"Shiza anakku, kemari nak Abi ingin bicara," panggil Abi Halim.
"Ya Abi," sahut Shiza.
Shiza duduk didepan Abi Halim, bersiap mendengarkan apa yang akan disampaikan Abi nya.
"Kemarin Abi berkunjung ke pesantren Ustadz Daus, Beliau ingin kau dan Daffa berta'aruf nak.. Tetapi hari ini Hazim juga menyampaikan keinginannya berta'aruf denganmu, Bagaimana menurut pendapat mu nak?" Tanya Abi Halim kepada Shiza.
Shiza diam sejenak kemudian berucap halus,
"Shiza menyerahkan semua keputusan di tangan Abi, Shiza yakin Abi akan mengambil keputusan yang terbaik untuk Shiza," ucap Shiza.
Abi Halim mengangguk mengerti,
"Nanti malam Abi akan shalat istikharah, meminta petunjuk kepada Allah, Abi takut salah mengambil keputusan yang pasti nya akan Abi sesali seumur hidup Abi," ucap Abi Halim.
"Baik Abi, In syaa Allah Shiza akan selalu mengikuti apa yang menjadi keputusan Abi," ucap Shiza.
Dikamarnya Hazim mencoba memejamkan mata tetapi kekhawatiran nya tentang keputusan Abi Halim terus ada dipikirannya, berdoa dan berusaha sudah dia lakukan, sekarang dia hanya bisa pasrah, mencoba menguatkan hati nya untuk mendengar apapun keputusan ayah dari gadis yang dia harapkan untuk mendampingi hidupnya.
Hazim sangat mengagumi Shiza, walaupun tidak pernah dia melihat wajah Shiza, namun dia tahu, Shiza memiliki inner beauty yang luar biasa, kesabaran dalam menghadapi murid-murid saat mengajar mengaji, walaupun dia anak dari pemilik pesantren dia tidak pernah menyombongkan diri, dia sering membantu pengurus pesantren dalam hal memasak untuk makan anggota pesantren, bahkan tidak segan dia membersihkan daun-daun yang berguguran mengotori halaman pesantren. Hazim hanya meyakini bahwa Shiza adalah sosok sempurna untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anak nya nanti tanpa memikirkan bagaimana rupa fisiknya.
Shiza terbangun disepertiga malam, segera ambil air wudhu dan menunaikan ibadah sholat tahajjud, dia berdoa memohon diberikan yang terbaik untuk kehidupan yang kelak akan dia jalani.
"Assalamu'alaikum.." ucapnya sembari mengetuk pintu rumah bercat biru muda itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam," Umi Fatimah menjawab salam Hazim sembari membuka pintu dan mempersilahkan masuk.
"Abi Halim ada Umi?" tanya Hazim.
"Ada Nak, mari masuk.. Silahkan duduk, Umi panggilkan Abi dulu ya," ucap Umi Fatimah.
"Iya Umi.. Terimakasih," jawab Hazim.
Tak berselang lama Abi pun keluar dan duduk di hadapan Hazim.
Hazim berdiri sembari mencium tangan Abi Halim, kemudian dipersilahkan duduk kembali oleh Abi Halim.
"Begini Nak Hazim.." ucapan Abi Halim terpotong karena mendengar suara salam dari luar.
"Sepertinya ada tamu, tunggu sebentar ya Nak.." ucap Abi Halim.
Abi Halim pun berdiri untuk membukakan pintu rumahnya.
"Assalamu'alaikum," seru orang yang kemudian diketahui ternyata Ustadz Daus Dan Daffa anaknya.
"Iya, maafkan aku, aku diminta anakku Daffa untuk menemani nya datang kemari, rupanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu calon istri nya," ucap Ustadz Daus disertai candaan namun berhasil membuat wajah Hazim pucat dipenuhi kekhawatiran.
"Ayo silahkan duduk," ucap Abi Halim.
Hazim pun turut bangun dan mencium tangan Ustadz Daus. Sementara di ruangan sebelah Shiza duduk dengan ditemani Umi Fatimah, jantung Shiza berdetak cepat menanti jawaban dari Abi nya permintaan siapa yang akan diterima.
"Apa kabar Nak Hazim?" Tanya Ustadz Daus. Hazim dan Ustadz Daus pernah bertemu beberapa kali di acara kajian. Ustadz Daus pun tahu sejarah bagaimana Hazim tinggal di pesantren sahabat nya Abi Halim.
"Alhamdulillah, baik Ustadz," jawab Hazim.
Mereka pun kembali duduk.
"Bagaimana sahabat ku? Apakah sudah ada jawaban mengenai permintaan kami kemarin tentang Shiza?" Tanya Ustadz Daus.
__ADS_1
Abi Halim terdiam sejenak.
"Begini Ustadz, anakku Shiza mendapat permintaan ta'aruf dari 2 pihak..." jawab Abi Halim.
"Siapa yang ingin berta'aruf juga dengan Shiza?" Daffa memotong penjelasan Abi Halim.
Ustadz Daus memegang tangan Daffa untuk menenangkan anaknya yang terlihat sudah tidak sabar mendengar jawaban Abi Halim.
"Nak Hazim yang ingin berta'aruf dengan Shiza..." ucap Abi Halim.
Pandangan Ustadz Daus dan Daffa pun serentak melihat ke arah pemuda yang sedari tadi duduk dengan tenang.
Daffa tersenyum dengan sinis, Daffa yakin Abi Halim tidak mungkin lebih memilih orang yang tidak jelas asal usul nya untuk Shiza.
"Abi Halim jangan bercanda, bagaimana mungkin aku bisa dibandingkan dengan dia, Abi Halim tahu siapa aku, siapa ayah ku dan bagaimana kehidupan kami, sedangkan dia..." Daffa tidak meneruskan jawabannya hanya melirik kepada Hazim dengan pandangan meremehkan.
"Bismillahirrahmanirrahim... Saya Abi Halim memutuskan untuk menerima permintaan Ta'aruf dari Hazim Sadid Al-Karim untuk anakku Rafania Shiza Farzana," ucap Abi Halim dengan keputusan yang sudah dia ambil.
Hazim tertegun dengan jawaban Abi Halim, tidak menyangka dengan apa yang didengar nya, lalu mengucap Hamdalah, merasa sangat bersyukur karena telah diberi kesempatan ini, dia berjanji dalam hati akan melalui tahap-tahap ta'aruf dengan sepenuh hati hingga akhirnya berhasil meminang Shiza, gadis impian nya.
Shiza pun yang ikut mendengar jawaban Abi Halim langsung memeluk Umi Fatimah saking bahagia nya, Shiza pun mengucap syukur dan berdoa semoga dilancarkan tanpa halangan apapun sampai akhirnya menjadi istri Hazim.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa Abi Halim justru menerima permintaan dia? Ini sungguh suatu penghinaan, aku yakin kalian akan menyesal nantinya," seru Daffa dengan penuh emosi sembari meninggalkan ruangan itu.
"Maafkan anakku Daffa, dia terbawa emosi sehingga tidak berfikir secara jernih, hati nya tertutupi oleh kekecewaan," terang Ustadz Daus yang kemudian dijawab dengan anggukkan kepala oleh Abi Halim. Kemudian Ustadz Daus pun segera berpamitan dan menyusul Daffa yang sudah terlebih dahulu keluar.
"Terimakasih Abi untuk kepercayaan Abi, saya berjanji akan menjadi suami yang baik apabila berjodoh dengan Shiza," ucap Hazim.
"Shiza anakku kemarilah..." Abi Halim memanggil Shiza untuk mendekat.
"Baik Abi.." Jawab Shiza.
"Abi telah memutuskan menerima permintaan Ta'aruf Hazim untukmu Nak, selanjutnya kalian bisa mulai saling mengenal satu sama lain, katakan bila kalian akan bertemu dan berbicara, pastikan ada orang lain yang menemani kalian," ucap Abi Halim dengan penuh nasehat yang sebagai mana diajarkan dalam agama Islam.
__ADS_1
Seminggu telah berlalu sejak diterimanya permintaan Hazim, kini saatnya menentukan waktu khitbah (Lamaran).
"Abi, 3 hari lagi saya akan melamar Shiza, in syaa Allah saya siap untuk membahagiakan Shiza," ucap Hazim dengan penuh keyakinan.