
Dijalan pun Shiza lebih banyak diam, dia baru pernah berduaan dengan lelaki sebelum nya. Suasana canggung mengiringi perjalanan mereka.
"Sudah jangan bersedih ya, kapan pun kamu kangen dengan Abi dan Umi, kamu boleh mengunjunginya," perkataan Hazim memecah keheningan di antara mereka.
Shiza pun mengangguk dan tersenyum melihat suami nya.
Jantung Shiza sangat berdebar, dia masih bingung bagaimana dia nanti akan hidup berdua dengan Hazim, sungguh belum pernah terbayangkan dia akan serumah dengan orang lain selain Abi dan Umi nya, apalagi sekamar. Bagaimana nanti apabila Hazim tidak menyukai wajahnya, dia tidak pernah memperlihatkan wajahnya pada siapapun kecuali Abi dan Umi nya. Walaupun Umi nya selalu bilang bahwa dia sangat lah cantik, tetap saja Shiza tidak tahu apakah nanti Hazim akan kecewa melihat nya. Padahal itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Wajah Shiza cantik bahkan sangat cantik, mata indah dengan hidung mancung dan bibir tipis merah menantang, kahalusan wajahnya menyempurnakan kecantikannya. Shiza tidak pernah memakai make up apalagi skincare, dia hanya selalu membasuh wajahnya dengan air wudhu, sholat 5 waktu dan sholat-sholat sunnah selalu dia jalani sehingga setiap hari bisa berkali-kali dia membasuh wajahnya dengan air wudhu. Itulah kunci kenapa wajahnya sangat halus bersinar.
Setelah 30 menit berkendara mereka berhenti di sebuah swalayan.
"Kita berbelanja bahan makanan dulu ya, maaf kemarin aku belum sempat mengisi lemari pendingin," kata Hazim sambil meringis. Memperlihatkan gigi gingsulnya dan hal itu membuat Shiza kembali berdebar. Sungguh tampan suaminya apalagi saat tersenyum dan tertawa seperti sekarang.
__ADS_1
"Ayo.." lanjut Hazim melihat Shiza tetap tidak bergeming memandangnya.
"Eeh iya ayo.. Maaf tadi aku melamun," jawab Shiza.
"Melamun atau mengagumi ketampanan suamimu ini? Hahaha," Hazim sukses membuat muka Shiza semakin memerah dan menunduk malu.
"Ayo nanti keburu magrib, aku ingin segera melaksanakan shalat jamaah pertama kita dimana aku menjadi imam mu nanti," lanjut Hazim kemudian.
Mereka beriringan memasuki swalayan, Hazim mendorong keranjang belanjaan dan Shiza mengambil apa saja yang mereka butuhkan. Bahan makanan, minuman, buah termasuk perlengkapan mandi. Setelah dirasa cukup mereka pun ke arah kasir akan membayar belanjaan nya. Sepanjang mereka di swalayan banyak perempuan muda dan ibu-ibu yang berbisik sambil melihat ke Hazim, ketampanan nya memang selalu membuat siapa pun yang melihat nya akan mengagumi wajah tampan nya. Hal itu tak luput dari penglihatan Shiza yang sedikit membuat Shiza tidak nyaman, dia seakan tidak rela orang lain mengagumi wajah suami nya.
'Apa ini yang nama nya cemburu, kenapa aku merasa kesal melihat perempuan-perempuan itu melihat wajah suami ku sampai lupa berkedip,' batin Shiza sambil memanyunkan bibir nya di balik niqab yang dia pakai.
__ADS_1
Shiza yang tidak sadar menghentikan langkah nya membuat Hazim pun menoleh pada nya dan melihat dengan tatapan bertanya.
"Ada apa sayang?" tanya Hazim.
Shiza pun kaget dan mata nya membesar sebagai ungkapan kaget dengan apa yang di dengarnya.
'Sayang? Dia memanggil ku sayang? Apa aku tidak salah denger ya,' lagi-lagi Shiza hanya membatin.
"Kenapa? Apa tidak boleh aku memanggil SAYANG pada istri ku sendiri?" Hazim menjawab seolah tahu apa yang ada dipikiran Shiza.
"Ehmmm... B-boleh," Shiza menjawab dengan sebelumnya berdehem, dia merasa tiba-tiba tenggorokan nya menjadi kering. Dia berharap bunyi debaran jantung nya tidak sampai ke telinga suami nya, pasti akan sangat memalukan jika itu terjadi.
__ADS_1