
Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, swalayan itu terletak tidak jauh dari rumah Hazim, jadi tidak membutuhkan banyak waktu untuk sampai ke rumah itu.
Sesampainya di rumah Hazim, Shiza melihat dengan takjub, rumah itu terlihat asli dengan ada nya taman kecil di halaman depan, dan juga ada kolam ikan kecil.
"Bagaimana sayang? Kau menyukai nya?" tanya Hazim.
"MasyaAllah,, iya suka! Suka sekali," jawab Shiza dengan tidak memalingkan pandangan pada rumah barunya.
"Alhamdulillah kalau kau menyukai nya, semoga kau betah tinggal disini," ucap Hazim.
"In syaa Allah dimana pun Shiza tinggal selama ada kakak di samping Shiza, Shiza akan selalu betah," Shiza mengatakan itu sambil malu-malu dan menundukkan wajahnya.
"Wahh betul nih?" Hazim tertawa karena senang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut istri nya.
Shiza hanya mengangguk pelan menyembunyikan wajahnya yang sudah sangat memerah.
"Masuk yuk... Sudah mau adzan maghrib," ucap Hazim.
Mereka memasuki rumah baru mereka. Rumah itu memiliki 5 kamar, 1 kamar utama, 2 kamar anak, 1 kamar tamu, 1 kamar pembantu.
Hazim menunjukkan kamar mereka.
"Itu lah kamar kita sayang, aku akan ke dapur membereskan belanjaan kita, kau beristirahat lah sebentar," ucap Hazim.
"Jangan, biar aku saja yang membereskan belanjaan kita," larang Shiza.
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa, kau mandilah dan bersiap untuk sholat Maghrib, setelah selesai membereskan ini aku juga akan mandi," ucap Hazim kepada Shiza dengan lembut.
"Baiklah," Shiza menuruti apa kata suami nya dan masuk ke kamar mereka. Shiza membawa koper yang berisi baju-baju yang dia bawa. Baju-baju Hazim sudah tertata rapi di lemari nya, mungkin Hazim sudah menyiapkan jauh hari sebelum mereka pindah ke rumah ini.
Shiza pun bergegas mandi, kemudian dia memakai mukena yang dia bawa dan menuju ruang ibadah. Shiza terlihat sedang duduk bersimpuh membelakanginya.
Mendengar langkah kaki memasuki ruangan itu Shiza pun menoleh melihat ke arah pintu.
"Subhanallah..." seru Hazim spontan menghentikan langkah nya saat pertama kali melihat wajah istri nya.
"Kenapa Kak?" tanya Shiza panik, dia belum menyadari alasan kenapa Hazim terlihat kaget melihat nya.
"Kau sangat cantik, bidadari surga ku," sambung Hazim.
Shiza lagi-lagi menunduk malu, dia merasa panas menjalar di wajahnya, dia merasa malu sekaligus bahagia di waktu yang sama. Dia bahagia suami nya menyukai wajahnya, kekhawatiran sebelum nya tentang kemungkinan suaminya tidak menyukai wajah nya pun sirna seketika.
Setelah menyelesaikan sholat maghrib mereka melanjutkan dengan berdzikir dan bertadarus sembari menunggu adzan Isya. Kebiasaan itu memang sudah bertahun-tahun mereka lakukan di pesantren. Jangka waktu magrib dan isya sangat pendek jadi mereka memanfaatkan nya dengan membaca Ayat suci Al-Quran. Setelah masuk waktu Isya mereka pun kembali berjamaah.
Shiza menuju ke dapur berniat memasak sesuatu makan malam mereka.
"Masak apa ya, Kak Hazim suka nya apa ya?" Shiza bermonolog lirih, namun Hazim yang telah duduk di meja makan mendengar kebingungan Shiza.
"Aku bisa makan apa saja, apalagi di masakkan istri secantik kamu," ucap Hazim menggoda Shiza.
Refleks Shiza menengok ke arah Hazim, kemudian tersipu dan tersenyum.
__ADS_1
"Udah ah gombal nya, dari tadi Kak Hazim bikin Shiza malu," ucap Shiza.
"Loh itu kenyataan sayang, dari awal aku sudah mengira bahwa kamu cantik tapi ternyata tebakan ku salah.." ucap Hazim sebelum dia menyelesaikan perkataan nya.
Shiza kaget dan menghentikan tangan nya menggantung di udara saat akan membuka freezer di lemari pendingin ya tapi belum sempat Shiza mengucapkan sesuatu Hazim sudah terlebih dulu melanjutkan ucapan nya.
"Ya aku salah, kamu bukan cantik, tapi sangaaat cantik, sampai mata ku tidak rela berpaling dari wajah mu," lanjut Hazim.
Entah sudah berapa kali wajah Shiza memerah,
'Kak Hazim betul-betul bikin jantung aku tidak sehat, aduh rasanya jantung ku seperti mau copot' Batin Shiza.
Shiza pun menyiapkan makan malam untuk suami nya. Semur ayam, tumis sayur kangkung, ikan goreng, tempe&tahu goreng, dan sambal terasi.
Shiza menghidangkan semua makanan itu di hadapan sang suami dengan tatapan suaminya yang terus mengikuti gerakannya saat menyiapkan makan malam.
"Sudah liatin nya, nanti bosan loh," gurau Shiza.
"Aku tidak akan pernah bosan melihat mu, bahkan seumur hidupku aku yakin tidak akan bosan," jawab Hazim.
Shiza pun tersenyum, sembari menyendokkan nasi ke piring suami nya.
Selesai makan malam mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mereka. Shiza yang tiba-tiba teringat bahwa ini malam pertama mereka, dia mendadak gugup, walaupun ruangan itu ber AC tidak menghentikan keringat mengalir di dahi Shiza.
"Hmmm... Kak, Shiza mau mandi dulu ya, Shiza gerah.." ucap Shiza dengan penuh kegugupan.
__ADS_1
Hazim pun mengangguk. Sejujurnya Hazim pun merasakan kegugupan yang sama dengan istri nya. Namun dia berusaha untuk tenang.