Kecantikan Dibalik Cadar

Kecantikan Dibalik Cadar
Bab 16


__ADS_3

  Shiza pun kemudian pamit keluar untuk mencari makanan, sejak turun dari pesawat pagi tadi dia belum makan apapun. Dia juga butuh mencari perlengkapan yang dibutuhkan beberapa hari kedepan untuk menemani suaminya di rumah sakit. Saat sudah jauh dari ruangan Hazim, tiba-tiba ponsel nya berdering. Dilihat nya nama Umi terpampang di layar ponsel nya.


   "Assalamu'alaikum Umi," ucap Shiza.


   "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh Nak, kalian sudah sampai di Bali nak? Umi tunggu kabar dari kalian, kata Abi mungkin kalian sibuk, tetapi Umi sudah tidak sabar mendengar kabarmu nak, apa Umi mengganggu mu?" tanya Umi Fatimah kepada Shiza.


   "Tidak Umi, Umi tidak mengganggu, hmm.. Kami baik-baik saja Umi," Shiza memutuskan untuk tidak dulu menceritakan semua ini kepada orang tuanya, dia tidak ingin membuat orang tua nya khawatir karena kondisi mereka yang sedang berjauhan.


   "Baiklah nak, Umi hanya ingin memastikan keadaan kalian, semoga segala urusan kalian dilancarkan ya nak.. Jangan lupa sering beri kabar pada Umi supaya Umi tidak khawatir," ujar Umi Fatimah.


   "Iya Umi, maaf tadi Shiza belum sempat memberi kabar, Umi juga baik-baik ya, jaga kesehatan. Sampaikan salam Shiza untuk Abi ya," ucap Shiza dengan penuh kerinduan.


   "Iya nanti Umi sampai kan, Assalamu'alaikum nak.." ujar Umi Fatimah.


   "Wa'alaikumussalam Umi," Shiza pun menutup telpon nya.

__ADS_1


'Maaf Umi, Shiza belum bisa menceritakan keadaan saat ini. Ya Allah ampuni hamba telah berbohong kepada Umi,' batin Shiza. Dia pun memejamkan mata barang satu detik untuk menenangkan hati nya.


'La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim,' saat ini dia betul-betul meminta kekuatan kepada Allah untuk bisa tegar menghadapi cobaan yang tengah menimpa nya.


  Setelah dia membeli makan dan perlengkapan baju yang di butuh kan, dia pun kembali menuju ke ruangan Hazim.


  Baru saja akan membuka pintu, ada sebuah tangan yang memegang bahu nya, Shiza pun berbalik dan mendapati wanita yang bernama Jacelyn.


   "Ya??" tanya Shiza.


   "Baiklah, tunggu di taman Rumah sakit itu, aku akan meletakkan barang-barang dulu di dalam," jawab Shiza. Jacelyn pun menyetujuinya.


  Shiza masuk ke ruangan Hazim, dilihat nya Hazim tengah tertidur, dengan perlahan Shiza meletakkan barang-barang yang tadi ia beli, kemudian mendekati suaminya, membenarkan selimut agar suaminya tidak merasa kedinginan. Dia menatap wajah suaminya, dia telah jatuh cinta sepenuhnya pada suaminya, kemudian dia pun teringat bahwa Jacelyn sedang menunggunya. Dia pun bergegas menemui Jacelyn ditaman yang ada di sekitar Rumah sakit itu.


  Shiza melihat Jacelyn duduk di bangku taman, Shiza pun melangkah mendekati bangku taman. Melihat Shiza mendekat, Jacelyn berdiri.

__ADS_1


   "Ada a...?" belum sempat Shiza menyelesaikan pertanyaan, Shiza di kejutkan Jacelyn yang bersimpuh di hadapan nya dan berkata dengan suara bergetar karena tangisan.


   "Aku mohon, kembalikan Xavier ku, aku mohon padamu, aku akan memberikan apapun yang kamu minta tapi kembali kan Xavier ku, aku mohon.." pinta Jacelyn dengan menangis tersendu-sendu.


  Jacelyn bersimpuh di hadapan Shiza, nada keputus asaan sangat terdengar jelas dari permohonannya.


  Tak bisa dipungkiri Shiza kasian melihat wanita yang saat ini tengah memohon kepada nya, ada sebersit pemikiran apakah dia harus mundur? Tetapi kemudian muncul bayangan bagaimana Hazim mengucapkan ikrar suci ijab kabul dengan Abi nya, dan itu membuat Shiza menepis pemikiran nya untuk mengambil langkah mundur.


   "Aku lah satu-satu nya perempuan yang berhak atas suami ku, jika kau adalah perempuan yang mempunyai harga diri, janganlah memohon apa yang bukan menjadi milikmu," ujar Shiza dengan tegas.


  Jacelyn tercengang dengan jawaban Shiza, dia tadi nya berfikir Shiza hanya lah perempuan desa dan lemah.


   "Aku menjalin hubungan menjadi kekasih Xavier jauh lebih lama di bandingkan dengan mu bahkan saat kamu baru mengenal nya," teriak Jacelyn.


   "Di antara 2 orang asing, tidak ada hubungan yang lebih tinggi dari pada pernikahan yang sah. Jadi aku tidak akan pernah ambil pusing untuk memahami sekuat apa (Hubungan) kalian," ucap Shiza dengan penuh ketenangan.

__ADS_1


   "Aku telah menyerahkan tubuh ku untuk Xavier, hubungan kami telah melampaui hubungan suami istri, bukan sekali atau 2×, kami sering kali melakukannya, perempuan seperti mu pasti tidak akan menerima pendosa seperti Xavier bukan?" ujar Jacelyn.


__ADS_2