
Jendela mobil turun perlahan, memperlihatkan wajah Jacquin yang memperlihatkan ekspresi bingung.
“Martin?”
Jacquin pernah bertemu dengan Martin, dia tahu kejadian Ivan yang nyaris mati ditikam juga ada hubungannya dengan pria ini.
Termasuk memanfaatkan kontrak kerjasama untuk memeras Bright Property sebanyak 2 Triliun.
Para preman yang bersama dengan Ivan hari itu menceritakan kronologi kejadian hari itu.
Dia sangat marah, rasanya dia ingin sekali mematahkan kaki dan tangan Martin.
Namun Jacquin bukan wanita yang memperlihatkan gejolak ekspresi di wajahnya.
Sebelum jendela mobil diturunkan, ekspresi dinginnya penuh dengan kemarahan, setelah kaca mobil diturunkan, dia langsung memperlihatkan ekspresi “aku tidak tahu apa-apa”.
Jacquin tahu, Martin masih berani muncul di hadapannya sekarang pasti karena ada sesuatu.
“Nyonya Direktur, mengenai masalah Tuan muda Ivan, saya merasa sangat menyesal, situasi saat itu terlalu berbahaya…”
“Sudah, cukup…” Jacquin mengibaskan tangannya, lalu melirik wajah Martin yang babak belur, “Ada urusan apa kamu datang kemari?”
Martin membungkuk dan berkata, “Oh iya, benar, tadinya saya ingin menemui Direktur, mengenai pelaku yang melukai tuan muda, kejadian ini tidak sesederhana itu…”
“Hm… naiklah.”
Mobil Benz tidak masuk ke basement, setelah Martin naik ke atas mobil, mobil langsung ke jalanan yang tadi dilalui.
Martin yang duduk di dalam mobil tidak hentinya menggosok tangannya, dia terlihat sangat gugup, karena dia tidak tahu Jacquin akan membawanya kemana.
Namun dia juga tidak terlalu khawatir.
Alasannya menemui Jacquin adalah untuk bernegosiasi, dia sudah bekerja dibidang pemasaran selama belasan tahun, dia adalah seorang negosiator ahli.
Apalagi dia tidak datang dengan tangan kosong.
Mobil Benz perlahan masuk ke sebuah parkiran basement Kasino Lotte, dan pada saat ini, Jacquin mengeluarkan ponselnya menelepon sebuah nomor.
“Kak, aku menemukan hal baru, aku akan ke ruang kerjamu sekarang.”
Setelah mengatakan ini, Jacquin langsung menutup teleponnya.
Lalu Jacquin turun dari mobil, membawa Martin masuk ke dalam lift, naik ke lantai teratas Kasino Lotte, tiba di depan sebuah ruangan, dia membuka pintu.
“Masuklah.”
“Oh, iya, iya.” Martin segera mengangguk lalu ikut masuk.
Ruang kerja ini didesain dengan tema liar.
Misalnya keempat sofa terbuat dari kulit beruang, langit-langit bergaya retro, ada belasan kepala binatang buas yang digantung di dinding.
__ADS_1
Lemari bar yang ada disamping penuh dengan alkohol yang mahal dan bermerk, sementara keempat sudut meja kerja dihiasi oleh list berukiran emas.
Seorang pria paruh baya yang gagah mengenakan kemeja abu-abu, ada tiga butir kancing di bagian dadanya, entah memang sengaja dibuka atau malah dikancingkan, memperlihatkan belasan bekas luka pisau yang begitu mengerikan, tanpa sadar, Martin merasakan tekanan yang begitu besar dari pria ini.
Terutama sorot matanya, meskipun hanya diliriknya sekilas, Martin sudah merasa nafasnya tercekat.
Hal pertama yang muncul dalam pikiran Martin yaitu pria ini mungkin bisa membunuh orang kapan pun!
Saat ini, dia mulai menyesal, kalau tahu begini hasilnya, seharusnya dia lanjut menunggu Adrian, bukannya ikut Jacquin ke tempat ini.
Jacquin melirik Martin yang terlihat begitu tegang dengan sinis lalu berkata dengan nada datar, “Kak, dia ini pacar ayah Ivan.”
“Oh? Gitu?” Markus mengangguk, lalu mengangkat ponsel bergaya klasik di mejanya, “Halo, Bon, ke ruangan gue sebentar.”
Lalu, Markus menuangkan segelas XO, dia mencicipi dengan perlahan sambil memperhatikan Martin dengan penasaran.
Kronologi kejadian dari awal sampai akhir, yang diketahui Markus jauh lebih banyak daripada Jacquin.
Bisa dikatakan kejadian Ivan ini dipicu oleh Martin yang ada di hadapannya ini, dia juga salut pada keberanian Martin, beraninya dia menemui Jacquin.
Dia adalah pemain lama, tentu saja dia tahu apa tujuan kedatangan Martin kali ini.
“Martin ya, lu tahu siapa gue?” tiba-tiba Markus bertanya.
“Aaa… Hmmm.. kamu, kamu?”
Martin hanya tersenyum dan mengulurkan tangan mengusap keringat dingin.
“Orang-orang manggil gue Bos Markus.”
Bos Markus, siapa yang tidak kenal?
Dia adalah satu-satunya orang yang tidak takut pada Santo!
Kalau hanya begitu saja itu masih bukan hal besar, namun kedudukan Bos Markus yang sekarang adalah hasil dari pertarungannya seorang diri.
Dua puluh tahun yang lalu, Markus membereskan seluruh kekuasaan mafia dalam semalam, konon malam itu darah mengalir bagaikan sungai, bahkan karena hal itu seluruh akses keluar kota sampai ditutup!
Katanya nyawa yang dia renggut tidak terhitung jumlahnya, dia merupakan seorang dewa pembunuh sejati!
Martin ketakutan sampai gemetar, karena gemetar hebat membuatnya terduduk di lantai.
Kalau dia tahu lebih awal, Bos Markus memiliki hubungan yang erat dengan Bright Property, memberikannya 100 nyali pun dia tidak akan berani memeras uang dua triliun dari Bright Property!
Dan mengatakan semua ini sekarang sudah terlambat, Martin merasa seperti musibah yang sudah ada didepan mata.
“Bo, Bos ma! Aku salah… aku benar-benar salah…” wajah Martin pucat bagaikan kertas dan berkata dengan tubuh yang gemetar hebat.
Dan pada saat ini, pintu terbuka, Bon berjalan masuk.
“Bos Markus, ada apa?”
__ADS_1
Bon yang biasanya begitu sombong, malah menundukkan kepalanya dengan begitu rendah, bahkan bernafas pun takut.
Markus tersenyum, lalu menoleh dan bertanya, “Martin, lu nyari adik sepupu gue Jacquin, emang ada kabar baik apa yang lu bawa?”
“Kabar, kabar baik… iya! Saya membawakan sebuah kabar baik untuk Anda!”
Martin gemetar sejenak, dan tiba-tiba sadar, dia memiliki sebuah kabar yang bisa membuatnya menjadi orang kaya, dan ini adalah jimat pelindung Martin satu-satunya!
Kaya raya, Martin tidak berani membayangkannya sekarang.
Satu-satunya yang terpikirkan olehnya saat ini adalah bagaimana cara agar bisa pergi dari tempat ini dalam keadaan hidup.
“Silahkan.”
Markus hanya melontarkan satu kata, namun Martin malah merasakan guncangan yang begitu hebat.
“Bos Markus, kejadiannya begini, pelaku yang melukai Tuan muda Ivan adalah teman kuliah putriku… adalah kekasih Thomas! Bos Markus, sebenarnya dulu Thomas ini orang miskin, tapi enggak tahu kenapa tiba-tiba dia jadi kaya…”
“Oh? Benarkah?”
Mendengar tentang uang, langsung membuat Markus tertarik.
Begitu melihat reaksi Markus, Martin tahu kesempatan datang, dia berusaha fokus dan berkata, “Iya, sangat kaya! dia memberikan dana bantuan pada Universitas Trijaya sebanyak 2,2 triliun, aku mendengar dari putriku kalau dia menaiki mobil yang harganya diatas 2 triliun, di dalamnya dihiasi oleh emas dan permata…”
“Tetapi Thomas adalah seorang anak berbakti, asalkan anggota keluarganya…”
“Cukup.” Markus mengangkat tangannya dan memotong ucapan Martin.
Sebenarnya dia sudah tahu apa yang ingin Martin katakan, dan dia tidak ingin mendengarnya, lebih tepatnya dia tidak ingin Martin mengatakannya.
“Begini saja Martin, mulai sekarang gue akan membuat satu perkumpulan cabang lagi, dan elu adalah ketua perkumpulan cabang di perkumpulan cabang itu.” Markus tersenyum lalu berkata, “Dan pada saat bersamaan, gue akan mengutus anak buah yang cukup buat elu, mulai sekarang lu bekerja buat gue, gimana?”
Meskipun dia bicara demikian, namun dia sebenarnya memiliki rencana sendiri.
Sebenarnya tidak ada hal yang terlewatkan olehnya, termasuk Thomas yang memberikan donasi untuk Trijaya, kejadian mobil NSX Ivan yang digilas.
Sejak saat itu, dia sudah mengutus anak buah untuk mengumpulkan semua informasi tentang Thomas.
Namun pada akhirnya dia sama sekali tidak mendapatkan kabar apapun.
Dan Markus bukan orang yang penakut dan ragu dalam bertindak.
Alasan dia membuat perkumpulan cabang untuk Martin adalah agar Martin memiliki kekuatan yang cukup, agar dia bisa melakukan hal yang tidak bisa dia lakukan sendiri, misalnya menghadapi Thomas.
Kalau bisa memeras uang dalam jumlah besar dari Thomas, tentu saja itu akan jauh lebih baik lagi, namun kalau sampai kekuasaan yang ada dibalik Thomas muncul, dan Markus tidak mampu melawannya..
Maka pada saat itu Martin lah yang akan dia dorong keluar sebagai tumbal, dia juga memiliki alasan untuk menjalin relasi dengan kekuatan yang ada di balik Thomas.
Ini juga alasan mengapa dia tidak ingin Martin mengatakan rencananya.
Dan cukup membuktikan kelihaian serta juga trik Markus yang luar biasa. Jadi bukan hanya mengandalkan kepalan tangan dan asal nekat saja.
__ADS_1
“Haa… apa?”
Martin terkejut, dia sama sekali tidak menyangka Markus bukan hanya tidak mencabut nyawanya, malah memberikannya posisi sebagai Ketua perkumpulan cabang.