
lagi.
Meskipun paginya dia buat sangat kesal oleh Ivan, namun dia langsung mendapati kenyataan bahwa Thomas adalah seorang konglomerat.
Ini sungguh sebuah kejutan yang besar!
dan yang terpenting adalah, sejak naik mobil sampai sekarang, Thomas sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi penolakan, dan itu artinya, dia sudah selangkah lebih dekat pada rencananya.
Kalau Thomas benar-benar seorang konglomerat super kaya, dia akan dengan senang hati menjadi calon istri Thomas yang sebenarnya.
Dan tepat pada saat dia sedang mengkhayal dengan indah, ponselnya berdering.
Begitu melihat, itu telepon dari Martin.
“Halo? Pa, ada apa?”
Dalam hati Wanda berpikir, kemungkinan telepon ini berhubungan dengan Ivan, mungkin saja Ivan melihatnya naik ke mobil Thomas, sehingga dia menelepon untuk menanyakan hal ini.
Namun tebakannya hanya betul setengah, telepon dari Martin ini memang berhubungan dengan Ivan, namun bayangan Wanda terlalu jauh.
“Wanda, kamu sedang bersama dengan siapa?”
Beberapa waktu yang lalu, Martin mengetahui Wanda terkadang bolos kuliah, dia menebak pasti karena pergi berkencan dengan Ivan, sehingga dia mengabaikannya.
Kali ini dia juga berjaga-jaga ada Ivan di samping dan menguping, sehingga dia bertanya seperti ini.
“Thomas.” Jawab Wanda dengan santai.
Karena masalah ini sudah tidak bisa ditutupi, dia juga tidak takut Martin tahu, setelah pulang, tentu saja dia akan menjelaskan pada Martin.
“Aah… benarkah? Bagus sekali!” Martin merasa begitu senang.
Bahkan Tuhan juga membantunya, apa pun yang dia inginkan langsung datang!
Wanda tercengang, lalu bertanya, “Pa, ada apa?”
“Ah, iya benar, ada hal penting yang ingin papa bicarakan denganmu, begini…”
Lalu Martin menceritakan tentang surat kontrak dengan singkat sekali lagi, dan menghancurkan kesan baik tentang Ivan yang sudah nyaris tidak ada itu.
Wanda terus mendengarkan tanpa bersuara, amarah dalam hatinya, kalau bukan karena ada Thomas di sampingnya, dia sudah pasti akan memaki bagaikan orang gila di sana!
Ternyata ini adalah tujuan lain Ivan mengejarnya!
__ADS_1
Ini sama saja menghancurkan keluarganya!
Begitu membayangkan ini, dia sungguh merasa trauma, untungnya Martin menyadarinya lebih awal, kalau tidak dirinya akan terjerumus!
“Wanda, satu-satunya orang yang bisa membantu papa adalah Thomas… bisakah kamu membantu papa memohon padanya? Kalau sampai ayah masuk ke dalam penjara, bagaimana nasib kamu dan mamamu!”
Martin berkata dengan begitu serius, airmatanya bahkan hampir menetes, dia benar-benar panik!
Penjara sudah pasti bukan tempat yang menyenangkan!
“Ini…” Wanda diam-diam melirik ke arah Thomas, lalu berkata dengan ragu, “Aku akan berusaha sebisaku.”
Hubungannya yang tegang dengan Thomas baru saja membaik, dia sungguh tidak yakin bisa membuat Thomas membantu mereka dan meminta bantuan Santo.
Berusaha sebisanya?
Begitu Martin mendengar ini langsung merasa tidak senang, dia tidak suka kata berusaha sebisanya, yang dia inginkan adalah kepastian!
Namun dia juga tahu, Wanda berkata demikian bukan karena tidak ingin membantu, tapi dia punya kesulitannya sendiri, pada kenyataannya tidak jauh berbeda dengannya.
Dia mengetatkan rahangnya dan menggunakan jurus terakhirnya, lalu berkata, “Begini, kamu pikirkan dulu caranya, pulang bersama dengan Thomas, satu jam lagi aku dan mamamu akan menyusul, ingat untuk menunda waktunya, sisanya kita jalankan sesuai keadaan!”
“Hm, baiklah.”
Setelah menutup telepon, Wanda langsung menundukkan kepala dan mengusap air matanya.
Siapa tahu Thomas sama sekali tidak memperhatikan gerakannya.
Lalu dia sengaja terisak untuk menarik perhatian Thomas.
“Kamu kenapa lagi?” Thomas langsung bertanya begitu melihat Wanda menangis.
Dia malas mengurusnya, namun karena menangis di atas mobilnya, kalau membiarkannya turun dengan keadaan seperti ini, mungkin akan langsung diserang oleh para netizen.
“Tidak apa Thomas, aku tidak ingin ke pantai, bagaimana kalau kamu membawaku ke rumahmu, tiba-tiba aku kangen sama Tante Silvia.”
Melihat perubahan Wanda yang begitu drastis, Thomas tidak banyak berpikir, “Mending jangan, beberapa hari ini sedang tidak terima tamu!”
Memang sedang tidak bisa terima tamu.
Kondisi kesehatan Silvia sedang membaik dengan pesat beberapa hari ini, dan ini baru berjalan setengah, masih ada waktu empat sampai lima hari lagi, maka Silvia akan pulih sepenuhnya!
Mau tidak mau harus diakui, teknik pengobatan Harris memang tidak main-main!
__ADS_1
Di waktu sangat menentukan ini, bagaimana mungkin dia membiarkan Wanda datang mengganggu Silvia.
Wanda tercengang dan memohon, “Tetapi… aku benar-benar kangen sama Tante Silvia…”
“Kalau gue bilang gak terima tamu ya gak terima tamu, lu mau ngomong apa juga gak guna.” Ucap Thomas dengan datar.
Namun nada bicaranya yang datar itu terdengar tidak bisa dilawan.
Wanda terkejut, dia sungguh tidak menyangka Thomas akan menjawab seperti itu, tentu saja dia tahu, hubungannya dengan Thomas sudah diambang pintu.
Kalau pada saat ini tiba-tiba menemui Silvia, memang terasa kurang tepat.
Tetapi dia tidak punya pilihan lain saat ini, dia sudah menyetujui ayahnya, apalagi masalah kontrak sudah tidak bisa ditunda lagi!
“Kenapa? Aku hanya ingin bertemu dengan Tante Silvia! Huh! Kalau kamu tidak mau pergi denganku, biar aku pergi sendiri!”
Dalam kondisi mendesak, Wanda hanya bisa menggunakan jurus andalannya, dia memasang wajah ngambek yang imut.
Jurus ini, baik untuk menghadapi Ivan, Thomas atau pria mana pun, pasti akan sangat mempan, dan ini sudah sangat terbukti.
Dan ternyata, begitu Thomas mendengarnya, dia tidak bisa duduk diam lagi.
Meskipun dia sangat tidak suka, namun dia tidak punya cara lain, kalau sampai Wanda datang sendiri, entah keributan apa yang akan dia buat.
Setelah berpikir sejenak, dia hanya bisa memperingatkan dengan tegas, “Wanda, boleh saja kalau mau, tapi lu harus menjamin gak akan membuat mama gue terlalu emosional, kalau gak jangan salahin gue ngusir lu keluar!”
Wanda langsung menjawab tanpa ragu, “Ok! asalkan kamu mengizinkan aku menemui Tante Silvia, aku tidak masalah!”
......
Sementara Martin, begitu dia menutup telepon, dia langsung tidak bisa duduk dengan tenang, dia menarik Milan yang sedang tidur siang dengan nyenyak.
Menyuruhnya segera berganti pakaian, lalu menariknya keluar rumah.
“Martin, ngapain sih! Kamu mau bawa aku kemana!” Milan sontak kesal karena tidurnya terganggu.
Namun ketika melihat ekspresi wajah Martin yang aneh, dia hanya bisa bertanya dengan menahan amarah.
Martin tidak peduli apa pun lagi, dia menceritakan semua yang berhubungan dengan Ivan dan juga surat kontrak, tentu saja dia juga menegaskan kalau Thomas adalah satu-satunya dewa penolong yang bisa membantunya.
Ini adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah, juga kejadian yang membuat Milan begitu shock.
Pasangan suami istri ini menuju pusat perbelanjaan dengan cepat, lalu membeli banyak bingkisan dan segera menuju ke rumah Thomas.
__ADS_1