
“Gue sangat kagum sama elu, punya keberanian, punya ambisi, juga punya trik, merupakan orang yang sangat sulit ditemukan. Martin, gue gak akan mempermasalahkan masalah yang sudah lalu, syaratnya lu harus bekerja buat gue, tapi lu tenang aja, gue Markus gak akan mengecewakan lu, gue kasih waktu 10 menit buat mikir.” ucap Markus dengan wajah tenang.
“Aaa… in, ini!”
Ucapan Markus ini membuat Martin semakin bersemangat sampai tidak tahu harus mengatakan apa.
Dia sudah hidup puluhan tahun, namun belum pernah mendengar ada orang yang berkata demikian padanya.
Bisa dibayangkan, ketika Martin mendengar ucapan ini, seberapa besar gejolak yang terjadi dalam dirinya.
Memang benar iya kan!
Siapa yang mengatakan kalau dia Martin tidak punya nyali, tidak punya ambisi, tidak punya trik? Akhirnya dia menemukan orang yang bisa menghargainya hari ini!
“Bos, Bos Markus! Anda serius? Tidak sedang bercanda denganku kan?!” Martin tetap tidak percaya.
“Orang mengagumi orang hebat, dan gue juga gak akan melepaskan orang hebat yang gue kagumi itu, tentu saja gue gak akan memaksa lu kalau lu gak bersedia, tetapi gue pengen lu tahu, ini mungkin bakal menjadi satu-satunya kesempatan dalam hidup lu, bekerja buat gue, gue gak berani menjanjikan hal lain, namun kekayaan lu sudah bisa dipastikan.” ucap Markus sambil tersenyum.
Ucapan ini sekali lagi menohok relung hati Martin.
Ikut Markus itu menandakan apa?
Kekuasaan, kekayaan, semua akan dia miliki hanya dalam satu malam!
“Gue mengelola 5 kasino illegal, gue bisa memberikan 5% saham buat elu, juga ada dua kasino legal yang bisa memberikan saham 20% untukmu.
Martin langsung tersadar dari lamunannya dengan kaget, dia mengangguk dan berkata dengan begitu senang, “Baik! Bos Markus! Baik! Aku Martin Ningrat mulai hari ini akan menjadi anggotamu, meskipun menyuruhku mendaki gunung pisau ataupun lautan api aku tidak akan mengerutkan alis sama sekali!”
“Bagus sekali, kalau begitu elu adalah Ketua Perkumpulan Naga Hitam.” Markus melirik Bon dan berkata, “Bon, lu akan menjadi Wakil Ketua Perkumpulan Naga Hitam, mulai hari ini elu harus patuh sama Ketua Martin, apapun yang dia katakan setara dengan apa yang gue katakan. Gue tahu ada sedikit konflik diantara kalian, tapi kalau lu berani tidak sopan sama Ketua Martin, gue tenggelamkan lu.”
Bon terkejut, dia segera mengangguk dan berkata, “Baik Bos Markus.”
Martin juga refleks melirik bon, begitu mengingat hari itu dia menghajarnya tanpa segan, membuat luka di sekujur tubuhnya berangsur nyeri.
“Hehe bagus sekali! Bon, Bon, tidak disangka elu bakal jatuh ke tangan gue…”
Membayangkan hal ini, Martin memperlihatkan senyuman yang begitu licik.
“Baiklah, Ketua Martin, biar Bon yang mengantarmu mengenal lingkungan sekitar, perusahaan akan menyiapkan sebuah mobil untukmu agar kamu bisa bepergian.”
Bos Markus mengibaskan tangannya dan meminta Bon membawa Martin keluar.
Saat ini Jacquin bertanya seperti yang sudah dia duga, “Kak, kamu melakukan ini…”
__ADS_1
“Markus berdiri dari kursinya dan merangkul Jacquin, satu tangan lainnya membuka tirai jendela.
Menatap keramaian, Markus menyeruput whiskeynya perlahan dan tersenyum, “Dek, bersiap-siap untuk menonton pertunjukan, meskipun si Martin ini adalah seorang manusia yang licik, namun kalau bisa dimanfaatkan dengan baik, maka dia akan menjadi senjata terbaik bagiku untuk menghadapi Santo Cendana…”
......
Thomas menggunakan Jurus pelindung meridian dan jiwa sebanyak beberapa kali.
Bagian meridian yang sudah rusak sebagian sudah pulih.
Harus diakui, di bawah bantuan Jurus pelindung meridian dan jiwa, meridian Thomas sudah melebar sebesar tusuk gigi, dan lebar meridian juga hanya terbatas sampai di sana.
Begitu dia membuka mata, dia langsung melihat Haris yang sedang menggeleng sambil menghela nafas.
“Tabib Dewa Haris, ada apa ini?” tanya Thomas dengan bingung.
Haris hanya menghela nafas berkali-kali, sorot matanya penuh dengan penyesalan, “Haih, jenius, jenius! Namun takdir mempermainkan orang, bakatmu merupakan sesuatu yang sangat langka untuk ditemui di dunia persilatan, kalau dulu kamu tumbuh besar di Keluarga Levian, maka kamu pasti akan menjadi orang tidak terkalahkan, sungguh sayang sekali…”
Thomas hanya bisa terdiam, yang Haris katakan, mana mungkin dia tidak paham, sebelumnya Dimas sudah mengatakan hal ini.
Energi murni bisa bergerak dengan sendirinya, dan sejak jaman dulu sampai sekarang hanya pernah ada satu orang yang seperti itu, dan Thomas adalah orang kedua yang bisa seperti itu.
Kabarnya, orang itu adalah seorang jenius di dunia persilatan ribuan tahun lalu, dan dia adalah pria yang pernah berdiri di puncak dunia persilatan di masa itu.
Dia baru masuk ke gerbang dunia persilatan, namun demi tetap bertahan hidup, dia terpaksa harus melatih Jurus pelindung meridian dan jiwa, dan selamanya memiliki keterbatasan.
Dimas yang melihat kekecewaan Thomas langsung tertawa dengan keras, lalu menepuk bahu Thomas.
“Tuan muda, meskipun kelalk tidak bisa berlatih tenaga dalam lagi, kamu tetap pria terkaya di dunia.
“… Dimas, kemampuanmu menghibur orang terlalu keren.” Thomas hanya bisa tersenyum pahit.
Dimas hanya terkekeh dan berkata, “Karena kenyataan tidak bisa diubah, maka pikirkan hal yang positif saja.”
“Ayo pulang.”
Thomas memutar bola matanya dan turun gunung terlebih dahulu.
Kembali ke villa, Haris membawa Silvia masuk ke dalam kamar.
Penyakit Silvia sudah pulih sebagian, sisanya tinggal dipulihkan oleh Haris dengan energi murninya.
Sementara Thomas, dia malah duduk di sofa sambil memejamkan mata dan beristirahat.
__ADS_1
Energi murni dalam tubuh sepertinya akan kembali memenuhi meridian, dia merasakan kecepatan energi murni yang bergerak perlahan melambat, tentu saja Thomas tidak perlu cemas energi murni akan meledakkan meridiannya sekali lagi, karena setelah dia melatih Jurus pelindung meridian dan jiwa, meridiannya sudah menjadi sangat keras.
Sebenarnya pertumbuhan energi murninya yang cepat, kalau sampai tersebar keluar, pasti akan membuat orang yang mendengar merasa ngeri, lalu…
Thomas menghela, dia merasakan kebencian takdir padanya, sudah memberikannya sebuah harapan, lalu mencekiknya dengan kejam.
Perasaan kecewa setelah mendapatkan sungguh membuat orang putus asa.
Begitu membayangkan Jenika berada jauh di atas sana, berkata padanya dengan nada bicara seperti biasanya, bahwa dia adalah manusia tidak berguna, membuat hati Thomas penuh dengan perasaan tidak rela.
Dia ingin menenangkan diri, ingin beristirahat sejenak, setelah perubahan yang terjadi di puncak gunung hari ini, dia sungguh tidak bersemangat.
Setelah kembali ke kamar, Thomas pergi ke toilet untuk buang air kecil terlebih dahulu, lalu berbaring di ranjang dan lanjut mengamati energi murni yang bergerak dengan sendirinya dalam tubuh.
Dia mengamati energi murni yang hampir penuh dalam meridian dengan tenang sebagai seorang penonton.
Wadah energi juga sudah sebesar keledai di bawah bantuan Jurus pelindung meridian dan jiwa.
Wadah sihir bertugas menampung, menghangatkan energi murni, katanya pada masa akhir pelatihan, dia akan berubah menjadi lautan energi…
Dan wadah energi yang begitu kecil ini sama sekali tidak cukup untuk menampung energi murni, kegunaannya sendiri paling kuat hanya sebatas tempat transit.
“Haah!” Thomas menghela dengan pasrah, lalu bergumam, “Kalau saja energi murni bisa disusutkan pasti bagus, bukankah dengan begitu semua masalah akan bisa terselesaikan…”
Tiba-tiba, Thomas berseru kaget, “Eh? Sepertinya.. ini, ini bukanlah tidak mungkin!”
Jurus pelindung meridian dan jiwa bisa mengeraskan meridian, dengan demikian dia tidak perlu khawatir mati karena meridiannya meledak, dan latihan ini akan membuat meridian tidak lagi bisa melebar, kalau energi murni bisa disusutkan, maka bisa menampung lebih banyak energi murni lagi. Dan pada saat yang bersamaan, energi murni yang sudah disusutkan. Dia bisa lanjut berlatih seperti biasa, meridian akan menjadi lebih keras lagi, lalu energi murni bisa disusutkan lagi…”
Dengan siklus ini, meridianku akan menjadi semakin kuat, bahkan sampai tahap yang tidak bisa dibayangkan, energi murni yang disusutkan akan menjadi semakin pekat…
Perlahan, kedua mata Thomas kembali berbinar.
“Jenius! Gue memang benar jenius!” Thomas begitu senang sampai berseru.
“Dimas! Tabib Dewa Haris! Gue punya ide!”
Mendengar teriakan Thomas yang begitu tajam, Dimas dan Haris langsung muncul dalam kamar Thomas dalam waktu singkat.
“Tuan muda, suara apa yang kamu gunakan?” tanya Dimas dengan heran.
Thomas terlalu bersemangat, dia langsung menjabarkan pemikirannya.
Namun Haris yang mendengar ini langsung tertawa sampai hampir menyembur.
__ADS_1