
Jurus silat yang dilatih oleh Keluarga Hongari sangatlah hebat, kalau tidak mereka tidak mungkin menjadi bagian dari delapan clan tertinggi.
Terutama petarung kuat yang sudah mencapai tahap ketiga, setiap pukulan dan juga tendangan mengandung kekuatan yang begitu kuat, kalau menerima pukulannya secara langsung, akibatnya pasti akan berakhir menjadi setumpuk remah daging.
Kekuatan yang begitu arogan ini bukanlah tidak memiliki kelemahan, terlihat tidak memiliki kelemahan karena belum berhasil menemukan area mematikannya.
Namun area ini hanya diketahui oleh orang bersangkutan, dan setiap anggota Keluarga Hongari memiliki titik mematikan yang berbeda.
Tubuh manusia memiliki begitu banyak titik, ingin mengetahui posisi titik mematikan ketika bertarung hampir tidak mungkin dilakukan.
Ada dua macam kemungkinan, pertama mengamati terlebih dahulu, kedua terkena secara kebetulan.
Namun pertarungan ini terus diperhatikan oleh Barin, dia bisa melihat kalau Thomas menggunakan sebuah metode rahasia untuk menemukan titik mematikan lawan!
Curang! Sangat kejam!
Ini sudah bukan pertarungan energi murni siapa yang lebih kuat atau hebatnya ilmu silat lagi.
Barin tahu jelas, apa yang akan terjadi kalau sampai titik mematikan diketahui oleh lawan.
Begitu pikiran ini muncul, dia langsung kehilangan tekad untuk bertarung dengan adil.
Sehingga dia ingin menangkap Winda untuk mendesak Thomas memberitahunya, dia anggota keluarga bangsawan mana, kenapa bisa memiliki jurus yang begitu kejam dan licik!
Begitu mereka berdua bergerak, Thomas juga bergerak.
Dia menyadari Barin bergerak ke arah Winda, sehingga dia refleks menghadang di depan Winda.
Barin melihat Thomas melakukan gerakan yang begitu bodoh, untuk merubah jurusnya sudah tidak sempat lagi, sehingga dia hanya berusaha sebisa mungkin menahan tenaganya.
"Bamm!"
Dada Thomas terkena serangan, seketika tubuhnya terpental, Winda yang melihat Thomas semakin dekat dengannya, refleks mengulurkan tangannya ingin memeluk Thomas.
"Aaa!"
Namun mana mungkin Winda mampu menahan kekuatan serangan seperti ini.
Setelah dia memeluk Thomas, mereka berdua terhempas lalu menghantam batu pembatas bersamaan, kemudian karena gagal menjaga keseimbangan, terdengar suara jeritan, berikutnya terjatuh dari atas bukit yang tinggi.
......
Jalan setapak yang hening seketika menjadi hening, bahkan pemuda yang tadi sedang mengerang sekarang ikut terdiam.
Barin dan kawannya hanya bisa tercengang melihat ke tempat Thomas dan Winda terjatuh.
Sudah lama berlalu namun mereka masih belum kembali dari perasaan shock.
Ini sudah jauh diluar rencana mereka.
Mereka membunuh dua orang tanpa sengaja, bahkan mereka tidak tahu itu anggota keluarga mana.
Seorang pemuda tiba-tiba menggigil dan berkata dengan bibir pucat, "Kak Barin... kalau mereka..."
"Tidak mungkin! Bagaimana mungkin delapan clan terbesar memiliki ilmu silat yang begitu aneh! Sudah pasti dia ini anggota keluarga bangsawan kecil!"
Barin langsung mencari sebuah alasan untuk menutupi rasa takutnya, kemudian dia segera berjalan ke arah pagar pembatas, tebing yang tinggi tertutup oleh lapisan awan putih, sama sekali tidak bisa melihat posisi Thomas dan Winda yang terjatuh.
__ADS_1
"Kejadian hari ini tidak ada yang boleh membocorkannya, kalau tidak jangan salahkan aku tidak sungkan!"
Demi keselamatannya, Barin akhirnya memberikan peringatan.
Alasan Keluarga Hongari bisa mempertahankan ketenangan ini, ini karena mereka berkomitmen untuk tidak mencelakai anggota keluarga lain.
Begitu terjadi hal seperti ini, maka akan dianggap memancing permusuhan!
Tentu saja Barin sama sekali tidak beranggapan Thomas adalah bagian dari delapan clan tertinggi, melainkan dari beberapa keluarga bangsawan kecil, karena dia sama sekali tidak pernah mengetahui ada jurus semacam ini.
Sehingga dia mengambil kesimpulan kalau Thomas mungkin murid atau anggota keluarga bangsawan tersembunyi.
Bangsawan tersembunyi
..
Mata Baris berkedut, kalau benar begitu, sampai ketahuan dia yang membunuh Thomas hari ini, maka dia pasti akan menerima pembalasan dari keluarga bangsawan tersembunyi.
Mungkin mereka tidak akan mampu melawan Keluarga Hongari, namuun jika ingin menghadapi seorang family jauh...
Ini merupakan hal yang sangat mudah!
"Ayo! Kita harus segera meninggalkan tempat ini sekarang!"
Barin mengetatkan bibirnya dan memilih untuk tidak mengecek ke bawah bukit, meskipun Thomas dan Winda beruntung tidak meninggal, namun mereka sudah terlanjur mengikat dendam, jadi lebih baik biarkan mereka berjuang sendiri.
Apalagi jatuh dari tempat setinggi itu, meskipun tidak mati juga pasti akan cacat, sekarang sudah senja, mungkin saja malam ini mereka akan dicabik oleh binatang buas sampai tidak bersisa.
Ini juga hal yang ingin dilihat oleh Barin, pada saat itu tidak ada bukti dan saksi, ingin menginvestigasi juga sudah tidak mungkin lagi!
Sehingga mereka bertiga segera kabur menyusuri jalan pegunungan selagi tidak ada orang disekitar sana.
......
Rasa sakit menjalar di seluruh kaki dan tangannya, dia memegang sekujur tubuhnya, dan merasa lega ketika menyadari tubuhnya baik-baik saja.
Dia kembali mengingat momen ketika terjatuh.
Kalau bukan karena ada dahan pohon yang menopang dia dan Winda, mungkin sekarang mereka sudah hancur berkeping-keping.
Sungguh beruntung!
Tunggu... Winda...
"Winda?"
Thomas memanggil dengan suara lirih namun tidak ada yang menjawab.
Saat ini matahari sudah terbenam, diatas bukit sudah tertutup oleh kabut tebal, membuat sekeliling terlihat begitu buram.
Dia melihat kesekeliling, dan segera mendapati Winda yang terkapar diatas rerumputan yang berjarak sekitar dua meter darinya, Winda saat ini tidak bergerak sama sekali.
Thomas menahan rasa sakit dan merangkak ke arahnya.
Dia sudah tidak perduli lagi yang ada dihadapannya adalah seorang wanita, dia meemgang sekujur tubuh Winda untuk memastikan tidak ada luka serius di tubuhnya, baru memanggil Winda sambil mengguncang tubuhnya.
"Winda, Winda!"
__ADS_1
Ketika terjatuh dari bukit Thomas berbalik dan memeluk tubuh Winda, sehingga meminimalisir luka pada tubuh Winda.
Lengan dan wajahnya baik-baik saja selain beberapa luka lecet.
Karena mendengar suara Thomas, Winda juga kembali sadar.
"Thomas, kita masih hidup?" gumam Winda.
"Iya, kita tidak mati, masih hidup, tetapi kita harus segera meninggalkan tempat ini." ucap Thomas.
Lembah ini terlalu dalam, ditambah lagi diselubungi oleh kabut yang tebal, kalau berada disini sepanjanng malam, udara dingin dan lembab akan membuat mereka jatuh sakit.
Tadi dia mendapati ponselnya dan Winda rusak karena terjatuh, jika ingin meminta bantuan dari luar rasanya tidak mungkin, sehingga mereka harus mengandalkan kemampuan sendiri berjalan keluar dari lembah baru bisa mendapatkan pertolongan.
Dengan bantuan Thomas yang memapahnya, Winda berhasil bangkit berdiri, setelah memastikan bisa berjalan, Thomas menyarankan untuk berjalan mendaki lembah ke tempat yang lebih tinggi.
Matahari terbenam, cahaya di lembah menjadi sangat kurang.
Meskipun belum sampai tidak terlhat sama sekali, namun di tempat yang sepi seperti ini tetap saja menakutkan.
Winda bersandar pada Thomas agar bisa merasa lebih aman.
Dia tidak lupa, ketika terjatuh Thomas langsung memeluknya dan mengalami luka yang parah.
Bahkan ketika mendarat di tanah, Thomas membiarkan dirinya menjadi bantalan...
"Dasar bodoh, apakah dia tidak tahu melakukan hal itu bisa mebuatnya mati tertimpa?"
Dalam hati Winda muncul perasaan yang begitu rumit, dia diam-diam melirik Thomas dan entah kenapa dia tiba-tiba merasa tidak terlalu takut lagi.
Didalam lembah sama sekali tidak ada jalan, hanya dipenuhi oleh rumput liar yang menutupi bebatuan berbagai ukuran.
Kalau tidak sengaja menginjaknya, maka kaki akan mengalami cedera.
Sehingga Thomas meminta Winda memegang tas ranselnya, sementara dia memimpin di depan.
Mereka berjalan seperti itu selama setengah jam lamanya, akhirnya berhasil mencapai bagian lembah yang paling tinggi, kebetulan diatas tebing ada sebuah tempat yang cekung ke dalam, itu bukan gua, namun cukup untuk berlindung.
"Malam ini kita istirahat disini..." Thomas memegang tanah yang basah dengan senyum pahit.
Bukannya dia tidak bisa menyalakan api untuk menghangatkan tubuh mereka, meskipun dia bisa, di tempat yang begitu lembab pun tidak akan mungkin bisa menyala.
"Kita pakai semua baju untuk menghangatkan tubuh, suhu di malam hari mungkin akan sangat rendah."
Thomas berpesan sambil mengeluarkan baju dan celana dari dalam tas ransel, lalu memakainya satu per satu.
"Hm." Winda mengangguk dan melakukan apa yang Thomas perintahkan.
Setelah selesai mengenakannya, mereka berdua bersandar di dalam lubang cekung tersebut.
Begitu berhenti mereka langsung merasakan dingin.
Agar melupakan perasaan tidak nyaman ini, Winda mencari bahan obrolan, "Thomas, di tempat ini tidak akan muncul hewan buas ya kan..."
Ini juga hal yang paling dia khawatirkan.
"Uhm, katanya disini ada hewan liar, bahkan mencapai 200 spesies, mamalia, burung, amfibi, juga ikan..."
__ADS_1
Thomas berusaha memposisikan tubuhnya sedalam mungkin, lalu berkata dengan suara lirih, "Tentu saja ada macan tutul juga... namun kamu tenang saja, kemungkinan kita bertemu dengan macan tutul sangat rendah, kalau ada begitu banyak, maka dia tidak mungkin masuk daftar hewan yang dilindungi..."
"Krakk..."