Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Maaf Yang Tidak Dibutuhkan


__ADS_3

 “Salah paham? Masih ada salah paham apa lagi? Bos Santo, bantu atau tidak tergantung dirimu! Kalau kamu membantu, aku Martin Ningrat akan sangat berterimakasih padamu, kalau kamu tidak membantu, maka kali ini aku pasrah!”


Martin berkata dengan wajah begitu kesal, matanya terus menatap lurus ke arah Thomas.


Kalau sorot mata bisa membunuh orang, mungkin Thomas sudah habis tercabik oleh sorot matanya. Saat ini Martin sungguh menyesal dan benci, kalau tahu hasilnya begini, dibunuh pun dia tidak akan meminta bantuan Thomas!


“Ini benar-benar salah paham, aku menyuruhmu pergi ke dinas terkait melaporkan Bright Property, ini hanya niat baikku.” Ucap Santo sambil tersenyum.


“Niat baik? Haha, Bos Santo, ucapanku ini cukup lancang…” Martin tertawa dingin, lalu menarik nafas, “Apakah kamu dan si anak haram itu menganggapku idiot?”


“Begitu aku melapor, maka aku akan langsung menerima pembalasan Bright Property! Ini sama saja kamu menyuruhku mengantarkan nyawa!”


Santo mengetuk meja perlahan lalu berkata dengan datar, “Martin, aku Santo Cendana tidak berani bicara di bidang lain, namun ini adalah Kota Jakarta, ucapanku masih memiliki kuasa. Kalau aku menyuruhmu pergi, maka itu artinya aku akan menyiapkan koneksiku, mereka akan memandangku, sehingga tidak akan berani membocorkan hal ini pada Direktur Bright Property, pada saat itu proyeknya akan dihentikan, bukankah surat kontrakmu setara dengan tidak berlaku?”


......


......


Martin tercengang, Milan juga tercengang.


Benar juga! Bukankah hanya seperti itu saja! Bukankah masalah kontrak akan terselesaikan dengan mudah?


Tiba-tiba Martin kembali bersemangat!


Meskipun acara makan kali ini menghabiskan uang 400 juta, namun pantas! Bukankah kontraknya tidak berlaku adalah hasil terbaik yang diinginkan?


Sebelum proyeknya dimulai sudah dihentikan, sehingga dia tidak perlu menanggung tanggung jawab hukum apa pun, kalaupun ada masalah, itu adalah masalah Bright Property!


Asalkan kontraknya tidak berlaku, maka kontrak selanjutnya dia anggap tidak ada, dan pada akhirnya mengakhiri hubungan kerja sama dengan Ivan!


Tiba-tiba Martin tertawa dengan keras, dia juga berdiri dari posisi berlutut, lalu menuangkan segelas wine.


Dia berkata dengan wajah cerah, “Bos Santo! Terima kasih banyak! Mari, aku bersulang untukmu!”


Namun.


Santo sama sekali tidak terlihat ingin menggubrisnya, bahkan ekspresi pun tidak berubah, dia hanya menoleh dan melihat ke arah Thomas, lalu berkata sambil tersenyum, “Thomas, hati manusia di dunia ini tidak ada yang bisa menebaknya, ada banyak orang yang hatinya lebih kejam dan busuk dari binatang, namun orang sepertimu sangatlah sulit ditemukan, aku sangat kagum padamu. Kelak kalau kamu masih membutuhkan bantuan, temui aku kapan pun kamu butuh.”


“Kan Santo, aku sungguh tidak berani menyusahkanmu.” Ucap Thomas dengan senyum ketir.


Ekspresi Santo langsung menjadi tegas, lalu berkata dengan tidak senang, “Thomas, omongan macam apa itu! Masalah kecil seperti ini, kamu mencariku berarti kamu memandangku!”

__ADS_1


Ucapan ini bukan karena Santo sedang basa basi. Tapi karena dia sudah menebak siapa Thomas.


Kalau Thomas memanfaatkan kekuatannya, untuk membereskan masalah Martin, maka itu jauh lebih cepat dari pada dia mengurusnya sendiri!


Sehingga jelas-jelas masalah ini bisa Thomas selesaikan dengan mudah, kenapa harus mencarinya?


Ini mungkin karena dia ingin memanfaatkannya untuk mengetahui sifat asli Keluarga Ningrat! Ini artinya apa? Ini adalah kepercayaan terhadap Santo!


Santo bahkan merasa sangat senang, mana mungkin dia akan merasa direpotkan?


Mengenai Thomas, meskipun dia tidak berpikir demikian, namun dia bisa merasakan ketulusan Santo.


“Baiklah, kalau begitu kelak ada masalah aku akan terus mengganggu Kak Santo!” ucap Thomas sambil tersenyum lebar, dia juga mengangkat gelas winenya dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan.


“Haha! Bagus!” Santo juga langsung menghabiskan miliknya, lalu berdiri dan berkata, “Kalau begitu cukup sampai di sini, kamu dan Nona Luna, beserta nyonya makanlah yang banyak, apa pun yang kalian butuhkan silahkan hubungi resepsionis, juga boleh menghubungiku, aku masih ada sedikit urusan, aku pergi dulu.”


Santo sama sekali tidak melupakan keberadaan Luna dan Silvia, dia menyapa satu per satu, juga mengangguk sambil tersenyum ke arah Dimas, setelahnya dia berbalik dan pergi.


 Namun tepat pada saat ini Luna membuka suara.


“Bos Santo, tunggu sebentar, barusan ada yang memakimu, dan kayaknya, masih belum minta maaf loh!” Luna sengaja mengatakannya dengan nada yang begitu sinis.


“Hee!” ekspresi wajah Martin langsung berubah!


Sehingga dia segera bangkit berdiri lalu menampar pelan wajahnya dua kali, lalu berkata sambil tersenyum, “Mulutku ini ya, kalau sudah panik langsung gak ada remnya, aku pantas dipukul, benar-benar pantas dipukul! Tetapi ketika itu, Bos Santo, Thomas, kalian seharusnya mengingatkanku dulu, bukankah ini sama saja dengan mempermalukanku!”


Santo melirik Martin dengan tatapan merendahkan. Sementara Thomas hanya tersenyum acuh.


“Cuih! Martin, kalau berdasarkan ucapanmu, itu artinya kamu ingin menyalahkan kakakku dan Bos Santo?” Luna langsung tertawa dengan sinis, lalu berkata dengan nada menyindir, “Udahlah Martin, hati nurani kalian sekeluarga sudah dimakan anjing, anak haram? Bajingan? Kakakku bahkan tidak mempedulikan harga dirinya lagi demi masalah sepelemu ini, datang kemari untuk memohon pada Bos Santo, lalu ini balasanmu? Hahahaha!”


“Sudah, sudah, Nona Luna, cukup. Aku juga memandang kakakmu sehingga tidak membutuhkan permintaan maaf apa pun.” Ucap Santo sambil tersenyum.


Dia cukup suka dengan Luna yang berlidah tajam ini.


Begitu Santo pergi, seluruh ruang VVIP1 seketika menjadi begitu hening, bahkan suara jarum yang jatuh pun akan bisa terdengar.


Setelah sesaat, Milan tertawa dengan garing, “Thomas, sebenarnya masalah ini harus menyalahkanmu…”


“Hmm? Lalu?” tanya Thomas sambil bertanya dengan nada sinis.


“Tapi apa yang kalian katakan tidak salah, masalah ini memang salahku, kalau ketika itu aku tidak kepo, mungkin tidak akan menjadi seperti ini, ini salahku.”

__ADS_1


Kali ini, Thomas sepenuhnya mengoreksi diri. Dia bukan baper, melainkan ini kata hatinya.


Milan sangat tidak senang dengan sikap Thomas. Dia dan Martin memang salah paham terhadap Santo.


Namun ada apa dengan Thomas dan Luna? Sama sekali tidak tahu memaafkan orang, lalu mereka masih mau mempermalukan keluarga mereka dengan masalah ini?


Biasanya Milan selalu bersikap angkuh di hadapan anggota Keluarga Widjaja, sekarang situasi berbalik, dia harus bicara dengan lemah lembut, membuat sekujur tubuhnya terasa tidak nyaman.


“Thomas, Luna juga, kalian berdua apa gak keterlaluan bicaranya, jelas-jelas ini salah paham, memangnya kalian berniat mempermasalahkan hal ini selamanya? Keluarga kami juga sudah mengeluarkan uang 400 juta untuk menyelesaikan masalah ini, dan kami bahkan tidak mengatakan apa pun!”


Milan merasa dirinya sedang membicarakan reality. Namun sebenarnya, dalam hatinya ada kebencian yang sudah menumpuk, bantuan macam apa yang membutuhkan 400 juta sebagai tumbalnya?


Bukankah ini sama saja melempar batu ke dalam sumur! Martin yang berada di samping juga diam saja. karena dia juga berpikir demikian.


Namun ucapan ini tidak bisa dia katakan, karena dia yang meminta bantuan orang lain.


Berbeda dengan Milan, dia adalah seorang wanita, meskipun mengatakan hal yang tidak pantas dikatakan, dia hanya perlu bersuara dan menghentikannya.


Dia tidak bisa mengatakannya, namun hanya mendengarnya saja sudah melegakan! Masalah sudah selesai sekarang, lalu? Dia tidak bekerja, itu sama dengan tidak ada pemasukan, lalu uang simpanannya sudah mengkerut setengah! Dia juga merasa sangat kesal!


“Milan! Masalah ini Martin yang memulainya, kalian meminta bantuan kakakku, mentraktir makan, memangnya kalian masih punya muka meminta kakakku yang mengeluarkan uang?” Luna sungguh kesal sampai ingin tertawa, tiba-tiba dia merasa pasangan suami istri ini benar-benar pasangan suami istri ajaib yang sulit ditemukan dalam ribuan tahun lamanya!


 “Siapa, siapa bilang? Kami tidak meminta Thomas yang mengeluarkan uang! Tetapi makanan kali ini menghabiskan uang 400 juta! Bukankah ini sama saja dengan sengaja membuat kami mengalami kerugian besar! Kenapa harus memesan ruangan yang begitu mahal, memangnya tidak boleh yang lebih murah? Coba jelaskan padaku!”


Saat ini Milan sungguh dilahap emosi, hatinya sedang meneteskan darah. Ini adalah tabungan hari tua yang dia kumpulkan bersama Martin dengan susah payah!


Thomas tersenyum, lalu berdiri, “Sudahlah, tadinya gue gak mau banyak ngomong, tetapi gue ngerasa perlu ngomong beberapa patah kata.”


Awalnya dia mengira masalah ini akan berakhir begitu saja, siapa yang menyangka ucapan Milan semakin lama semakin keterlaluan, Martin juga diam saja.


Thomas merasa dirinya sudah terlalu meremehkan rasa tidak tahu malu keluarga ini.


“Sejak awal sampai akhir, pada dasarnya memang harus begini, Martin membuat masalah, kalian bertiga datang meminta bantuanku, iya kan?”


Tidak ada yang bersuara.


“Lalu mentraktir makan, menghabiskan 400 juta, di tengah-tengah terjadi salah paham, gue sama Kak Santo gak ada angin gak ada hujan dimaki orang, iya kan?”


Tidak ada yang bersuara juga.


“Bantuan, sudah kuberikan, masalah, juga sudah hampir selesai, iya kan?”

__ADS_1


Tetap tidak ada yang bersuara.


“Pada akhirnya kalian merasa tidak adil, merasa uang ini dihamburkan dengan sia-sia, sehingga melimpahkan semua kekesalan padaku, iya kan?”


__ADS_2