Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 121


__ADS_3

Thomas tidak tahu harus bagaimana, dia mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin dekat.


Secara refleks memeluk Winda dengan sangat erat.


Tubuh Winda memancarkan aroma harum yang lembut dan menyerbak masuk ke dalam hidung Thomas.


"Buset, kalaupun kita mati sekarang harusnya mati yang terhormatlah, tapi bau ini enak juga ya..."


Thomas menghirup aroma tubuh Winda dalam-dalam sekali lagi.


Winda merasa malu juga kesal.


Pria ini terlihat begitu jujur, namun pada saat genting seperti ini malah melecehkannya, sayangnya dia tidak bisa melakukan apapun sekarang.


Orang itu bisa terbang dan menembus tanah, apakah dia benar-benar manusia?


Astaga... apa yang terjadi pada dunia ini.


Apakah nyawanya akan berakhir malam ini?


Winda melirik Thomas dengan tatapan penuh keluh, lalu menghela dan memejamkan matanya, biarkan nasib yang menentukan.


Dibawah bantuan cahaya bulan, Thomas sudah bisa melihat sepasang kaki yang ada diluar sana.


Matanya membelalak besar dengan tubuh yang membatu.


Kematian hanya berjarak satu milimeter darinya.


Dihadapan pendekar tangguh Keluarga Simatan dia bagaikan seekor semut.


Thomas mengira dia akan mati.


Membuatnya berpikir banyak hal tanpa sadar, namun sebelum mati ada Winda yang cantik menemaninya, membuatnya merasa jauh lebih tenang.


Baiklah, sebenarnya dia bukan orang yang jahat.


Kalau bisa menggunakan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa Winda, dia pasti tidak akan ragu melakukannya, bukan karena dia sangat gentleman, namun satu orang yang mati jauh lebih baik daripada dua orang yang mati.


Thomas menggeser tubuhnya keluar untuk mencegah Winda ketahuan.


Dan pada saat bersamaan orang diluar sana berseru, "Gawat! Sudah ngejar sampai kesini!"


Sebuah angin kencang berhembus, dan sepasang kaki itu menghilang dari hadapan Thomas.


Pada saat ini Thomas merasa sangat lega, namun dia tetap tidak berani gegabah.


Ucapan yang dikatakan pendekar tangguh Keluarga Simatan sebelum pergi membuat Thomas kembali menegang dalam sekejap.


Kalau mendengar ucapannya, Pil penyebrang meridian ini kemungkinan pil obat milik Keluarga Hermawan, namun dia tidak pernah mendengar bahwa ini adalah daerah kekuasaan Keluarga Hermawan!


Sekarang dia memiliki Pil penyebrang meridian, kalau sampai ketahuan, tidak perlu dibayangkan lagi, dia tidak akan berakhir selamat juga.


Meskipun secara status dia adalah caln suami Jenika Hermawan.

__ADS_1


Tidak lama berselang, sepertinya ada angin-angin yang berhembus dan lewat di atas kepalanya, lalu tidak ada suara apapun lagi.


Namun demi keselamatan, Thomas tetap tidak berani keluar dari lubang.


Sampai satu jam berlalu, Thomas baru berkata dengan ragu, "Bagaimana kalau kita keluar dan melihat?"


Ada begitu banyak hal yang terjadi, namun baru 3 jam berlalu.


Sekarang jam 9 malam, kalau mau menunggu sampai pagi, paling tidak masih membutuhkan 8 jam lagi.


Malam yang panjang di dalam lubang tebing bukanlah pilihan yang bijak.


Thomas berpikir, selagi ada kesempatan, segera pergi ke sebuah tempat untuk bersembunyi.


Tidak ada yang tahu orang yang mengejar itu akan kembali kapan.


Tempat ini dekat dengan tempat pendekar Keluarga Simatan dan pendekar Keluarga Hongari bertarung, kemungkinan besar mereka akan kembali untuk mencari saat pengejaran mereka tidak membuahkan hasil.


"Aku, aku tidak berani keluar." Winda menolak pelan.


Namun dia juga tahu, kalau Thomas keluar, dia tidak akan berani seorang diri didalam sana.


"Kita harus pergi, berada di sini lebih bahaya lagi, kalau sampai mereka kembali, maka habislah kita!"


Setelah dibujuk oleh Thomas, akhirnya Winda mengangguk dan setuju.


Mereka berdua keluar dari lubang bersama, bulan purnama sudah tertutup awan hitam, untuk sementara tidak akan terbuka.


Thomas menarik Winda berjalan meninggalkan lereng, dan yang ada didepan mereka adalah hutan tidak berujung yang sangat rindang.


Sekeliling mereka tidak ada jalanan yang langsung menuju ke jalanan gunung, sebenarnya asalkan tidak ada ada yang menghalangi, jika mereka tetap berada di lereng gunung ini sepanjang malam, maka besok pagi mereka akan bisa ditemukan oleh turis.


Namun dia tidak punya pilihan lain sekarang, demi keselamatan, dia hanya bisa menyusuri hutan ini, kemungkinan besar mereka bisa mencapai salah satu area wisata.


Dengan demikian dia dan Winda akan bisa mendapat pertolongan.


Dia adalah orang yang baru saja berlatih jurus tenaga dalam, sama sekali tidak punya modal untuk bertarung melawan seorang pendekar kuat.


Sepanjang perjalanan, Thomas memungut sebatang ranting sepanjang satu meter lebih untuk menjadi tongkat pendakian, lalu berjalan begitu saja ke dalam hutan rimba bersama Winda.


Hutan di malam hari mungkin tidak akan menemukan binatang liar, namun ada serangga beracun, ular juga tikus yang sesekali lewat dihadapan mereka berdua, membuat Winda terus menjerit ketakutan.


Namun jalan dimalam hari memang tidak bisa cepat, sampai tengah malam, Winda sudah tidak sanggup berjalan lagi.


Berkeliling seharian sudah menguras tenaga Winda sampai hampir habis.


"Baiklah, kita istirahat dulu di sini semalam, kalau tidak mau gimana lagi, kamu istirahat dulu dua jam, nanti gantian aku yang istirahat dua jam, gimana? Kalau kita tidur dua-duanya, kemungkinan kita akan digondol binatang buas saat sedang tidur pulas."


Thomas tidak sedang menakuti Winda, di hutan belantara seperti ini, ada begitu hal yang tidak diketahui, dan itu paling berbahaya.


"Tapi, aku, aku tidak bisa tidur..." ucap Winda dengan ragu.


Thomas langsung berkata tanpa pikir panjang, "Kalau begitu gampang, sekarang kamu tidak bisa tidur, bukan berarti nanti kamu tidak bisa tidur, aku tidur duluan dua jam, nanti kamu bangunkan aku, gantian kamu yang tidur, gimana?"

__ADS_1


"Ya sudah." Winda mengangguk.


"Hm, kita harus berdekatan, jadi kalau ada apa-apa kita bisa memberitahu dengan cepat."


Mereka berdua berdiskusi sejenak dibawah sebatang pohon, lalu Thomas berbaring dan bekata pada Winda dari jarak yang dekat, "Ingat lihat atas kepala, macan tutul bisa memanjat pohon."


"Baiklah, kamu tidurlah." ucap Winda dengan tegang.


Aingin malam berhembus membuat dahan pohon bergoyang da menimbulkan suara gesekan.


Serangga bernyanyi dibalik bebatuan.


Ada juga serangga yang agak banyak jumlahnya merayap di dahan dan membuat daun bergerak.


Sehingga, begitu Thomas berhenti bicara, seluruh hutan seolah menjadi begitu ramai.


Suasana yang begitu aneh mendera seiring dengan kabut yang membuat pandangan kabur.


Kedua tangan Winda memegang tongkat pendakian dari batang kayu sambil mengamati sekeliling dengan waspada, bagaikan seekor burung kecil yang ketakutan.


Namun tidak sampai dua menit terdengar suara dengkuran.


"Bocah ini, disaat seperti ini bisa-bisanya dia tidur!"


Begitu membayangkan selama dua jam kedepan dia harus menghadapi hutan rimba ini seorang diri, membuat Winda merasa begitu ketakutan.


Detik demi detik berlalu, waktu mengalir dengan cepat, namun bagi Wiinda rasanya seperti berabad-abad.


Akhirnya dua jam berlalu.


Jam tangan digital Thomas bergetar dan membangunkannya.


"Sudah, sekarang gantian kamu yang tidur, aku akan melindungimu." ucap Thomas.


Setelah merasakan ketegangan selama dua jam, Winda langsung merasa mengantuk karena sekarang dia bisa merasa lebih tenang.


Dia juga tidak lagi bertahan, dia mengikuti cara Thomas, bersandar pada Thomas dan dahan pohon.


Lalu dia tertidur dengan pulas.


Begitu Thomas melihat Winda tertidur, dia mengeluarkan bungkusan tadi dari dalam ranselnya, dia mengeluarkan sebuah kotak kayu yang hanya sebesar asbak dan memperhatikannya.


"Apakah ini Pil penyebrang meridian itu? Kebetulan aku bisa menggunakannya, ditambah lagi akan berbahaya jika terus membawanya, bagaimana kalau...?"


Begitu pemikirani ni muncul, maka tidak ada yang mampu menghalanginya lagi.


Bagi Thomas, Pil penyebrang meridian ini sudah jatuh ketangannya, meskipun dia ingin menyerahkannya, itu juga akan sulit untuk dijelaskan.


Meskipun bisa pun, kedua pendekar dari Keluarga Hongari dan Keluarga Simatan pasti akan membuat perhitungan dengannya.


Cara yang paling baik adalah...


Thomas sempat merasa ragu.

__ADS_1


__ADS_2