Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Anak Tidak Tahu Balas Budi


__ADS_3

Sutrisno menyeringai dengan halus, kelihatannya Tuan muda Chandra dari Bright Property ini adalah tipe anak orang kaya yang angkuh dan sangat mendominasi, namun tidak memiliki wawasan. Sayangnya, yang telah dia singgung adalah orang dari Group Levian, namun dia bagaikan katak dalam tempurung uang merasa senang tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi


Ohya, sepertinya hari ini dia mengajukan dana pinjaman untuk dirinya sendiri? Sutrisno sontak mengetahui batasannya.


Dia menatap Thomas lagi dan hanya bisa menghela nafas. putra dari keluarga super kaya memang berbeda, meskipun sudah dicemooh tetapi masih bisa bersikap tenang, siapa yang bisa menandingi wibawa seperti ini?


Sebaliknya Martin. Ternyata putrinya pernah memiliki ikatan perjodohan dengan Tuan Thomas? Benar-benar tidak ditakdirkan hidup kaya, meski dipaksakan seperti apa pun juga tetap tidak akan menjadi memilikinya!


Dilihat dari sikap para tamu yang di ruangan VVIP tersebut, Sutrisno telah menyadari masalah yang terjadi di sini. Dan sekarang ini dia telah mendengar langsung Ivan mengusir Tuan Thomas, sehingga tidak ada gunanya juga dia tinggal di sini.


“Haha, karena Tuan Thomas sudah mau pergi, kalau begitu mari kita pergi bersama.” Sutrisno tertawa lebar, dia sama sekali tidak menoleh lagi ke arah Ivan dan yang lainnya.


Ivan dan Martin dibuat terkejut oleh perubahan situasi yang begitu mendadak, bukankah salah kenal orang? Kenapa sikap kepala cabang Anggoro malah ...


Thomas malah terlihat sungkan. Dia khawatir menyinggung Sutrisno dan Jony yang telah datang khusus untuk bertemu dengannya.


Sejak ayah asuhnya Tanto Widjaja meninggal, Thomas pun berhenti sekolah dan mulai bekerja, padahal dia baru berumur 20-an tahun, akan tetapi siapa yang tahu sudah berapa banyak penderitaan yang harus dia pikul.


Dia tidak punya teman meskipun sebenarnya dia bukan seorang penyendiri, tetapi semua ini disebabkan oleh latar belakang keluarganya. Penyebabnya karena dia miskin. Dan sekarang dia telah mendapatkan rasa hormat dari Sutrisno dan Jony, sehingga dalam hati dia merasa agak bersalah.


“Bagaimana kalau sebelum pergi kita bersulang dulu?” Thomas berkata dengan gagah.


Sikapnya ini membuat Jony terkejut, Tuan Thomas bahkan mau bersulang dengannya?


Diam-diam Sutrisno merasa senang bisa menjalin hubungan dengan Tuan Thomas, bahkan sepertinya dia telah melihat sebuah jalan yang terang benderang dihadapannya.


Dan ketika Thomas mengambil sebotol Lafite, mata Sutrisno langsung membelalak karena dia melihat botol wine Lafite yang dipegangnya bertuliskan tahun 1982.


“Thomas! Kamu ini sungguh pandai memanfaatkan barang orang lain untuk mendapatkan simpati, hahaha!”Seketika Ivan merasa panik. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Sutrisno ini begitu akrab dengan Thomas. Sejak kapan? Kalau situasi seperti ini dibiarkan maka akan sangat merugikan dirinya, karena itu dia berusaha menjatuhkan Thomas。


  Martin juga menimpali, “Huh, Thomas, katanya kamu mau mengajak tamumu bersulang, lalu kenapa kamu malah menggunakan wine milik Tuan Chandra untuk bersulang dengan Pak Kepala Anggoro, di mana ketulusanmu?”

__ADS_1


“Huh! Ketiga botol Lafite ini merupakan pemberian bos Restoran Tasty untuk kakakku!” Luna yang sejak tadi diam saja, akhirnya emosi dan membela kakaknya yang dicemooh oleh Ivan dan Martin.


“Aduh! Anak bodoh, ketiga botol wine ini sudah menjadi milik Tuan Chandra, jadi ini miliknya!”Thomas berusaha menjelaskan. Dia tidak ingin berutang budi pada Santo, karena Ivan sudah bersedia membayar ketiga botol wine ini maka dia pun tidak bisa memaksa.


Pelupuk mata Sutrisno berkedut-kedut, dia sungguh mengagumi bos besar Restoran Tasty yang sangat pandai menjaga sikap. Thomas ini memang pantas menjadi seorang putra dari keluarga super kaya, dia bisa merelakan wine yang sangat bagus ini untuk orang lain!


Posisi Thomas sekarang serba salah, dia sudah berkata kalau dia mau bersulang dengan mereka, sementara Ivan dan Martin malah mencari masalah dan mempersulit dirinya.


Tepat pada saat ini, Dimas berdiri dan tersenyum kecil, kemudian dia mengambil wine Lafite produksi tahun 82 dan langsung menuangkan isinya ke dalam tiga gelas wine.


“Tuan Muda, menurutku yang terpenting adalah niatmu, dan aku yakin Pak Kepala Anggara dan Manager Jony tidak akan mempermasalahkan siapa pemilik wine ini.”


“Benar, benar, tepat sekali!” Sutrisno mengedipkan mata pertanda setuju ke arah Dimas. Menurutnya orang yang bisa menjadi pengikut Thomas sudah pasti bukan sembarang orang.


Sebuah ucapan yang singkat, namun langsung memberikan jalan keluar untuk Thomas dan membantu menyelamatkan harga dirinya. Luar biasa!


Mereka bertiga minum bersama. Dan Jony juga Sutrisno tidak hentinya memuji, “Benar-benar wine yang berkualitas!”


Namun, Wanda malah tidak berpikir panjang. Menurutnya, sikap dan perilaku Thomas sudah sangat keterlaluan.


Dia hanyalah seorang pria miskin, namun dia malah merebut perhatian orang lain dari Tuan Chandra. Bagaimanapun juga dia tidak bisa berdiam diri.


“Huh, hanya sebotol Lafite , kamu tidak sanggup membayarnya sedangkan Tuan Chandra sanggup!”


Thomas segera menahan Luna yang emosinya sudah membara dengan berkata dengan datar, “Apa pun yang ingin kamu katakan silakan saja, bukannya aku tidak sanggup minum wine yang harganya mencapai 2 miliar lebih itu, dan aku juga merasa tidak perlu.”


“Apa? 2 miliar lebih?” Wanda tersentak kaget, tetapi dia tetap tersenyum dingin, “Thomas, kamu tidak usah menipu kami, mana ada wine yang harganya begitu mahal!”


Ketika Thomas menyebutkan harga Lafite, Ivan dan Martin dibuat terkejut setengah mati. Sebotol wine harganya 2 miliar lebih?!


Hal yang terjadi selanjutnya menghancurkan kesombongan Ivan dan membuat kedua mata Martin terbuka lebar.

__ADS_1


“Aku menipu orang? Tanya saja kalau tidak percaya.” Thomas sudah malas menjelaskan, sehingga dia asal menunjuk seorang pelayan yang sejak tadi berdiri diam di samping mereka.


Pelayan itu melangkah maju kemudian mengangguk dan berkata, “Yang dikatakan Tuan Thomas kurang tepat, wine ini adalah Lafite produksi tahun 1982, harganya 2,4 miliar. Dan dua botol lainnya memiliki kualitas yang jauh lebih bagus sehingga harganya 6 miliar dan 10 miliar.”


“Omong kosong! Mana mungkin ada wine yang begitu mahal!” Ivan langsung berteriak. Harga aslinya malah lebih tinggi dari yang disebutkan, membuat dia tersentak kaget hingga air kencingnya hampir menetes. Dia pikir hanya makan biasa saja, ternyata dia harus membayar hingga 20 miliar?!


Kalau sampai ayahnya tahu makan dan minum semalam saja menghabiskan 20 miliar, maka kedua kakinya harus bersiap dipatahkan oleh ayahnya!


“Restoran penipu! Restoran kalian ini pasti ilegal! Bukankah ini namanya penipuan!” Martin dibuat terkejut setengah mati!


Dia sama sekali tidak menyangka. Total harga ketiga botol wine ini mencapai 18 miliar!


“Kami minta maaf, Tuan Chandra, harga ketiga botol wine ini memang benar adanya dan kami tidak sembarangan membuka harga, bahkan bisa dikatakan harga kali ini adalah harga terendah di tahun ini.” Gadis pelayan ini memberikan penjelasan dengan hormat.


Yang dia katakan memang tidak salah, Lafite memang memiliki nilai koleksi yang tinggi, dan harganya menjadi semakin mahal seiring dengan bertambahnya waktu.


“Tidak mungkin! Segera panggil manager kalian kemari!”


 “Brakkk!” Ivan tidak bisa mengendalikan emosinya dan menggebrak meja.


Tindakannya ini malah disalahartikan oleh pelayan itu, dia mengira Ivan tidak mau bayar setelah makan, sehingga dia keluar dari ruangan VVIP dan bersiap melaporkan hal ini pada Santo.


Setelah melampiaskan kekesalannya, Ivan mulai tenang perlahan, dan pandangannya jatuh pada Thomas.


“Thomas, cepat katakan! Apakah karena aku telah merebut calon istrimu jadi kamu bersekongkol dengan pelayan Restoran Tasty untuk menipu diriku?” Setelah dipikir-pikir lagi, hanya inilah kemungkinan yang paling masuk akal!


“Thomas! Ternyata aku telah salah menilai dirimu!” Dada Martin naik dan turun tidak menentu, entah karena marah atau karena terkejut.


Kemudian, Martin yang masih emosi mengalihkan tatapannya ke arah Sutrisno, lalu berkata dengan menggebu-gebu, “Pak Kepala Anggoro! Anda telah melihat semua yang dilakukan oleh Thomas. Dia adalah anak asuh teman baikku, aku telah gegabah dalam memutuskan perjodohan mereka, sehingga muncul masalah hari ini. Akan tetapi aku selalu bersikap baik pada keluarga Widjaja, tak disangka anak ini adalah orang yang tidak tahu membalas budi!”


“Pak Kepala Anggoro, kamu harus membuka matamu lebar-lebar dan melihat dengan jelas orang seperti apa Thomas ini, jangan sampai tertipu olehnya!”

__ADS_1


__ADS_2