Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Rencana Martin Ningrat


__ADS_3

Ucapan ini juga menggetarkan hati Thomas!


Sejak awal dia sudah tahu, sekian tahun lamanya, Silvia selalu memperlakukannya seperti anak kandung sendiri, namun malam ini, dia maju dan melawan pasangan suami istri ini secara langsung demi Thomas!


Lalu melihat sorot mata Silvia yang tegas.


Thomas merasa matanya terasa hangat.


“Martin, aku tidak berharap ucapanku ini membuatmu tidak lagi membenci Thomas, aku hanya ingin memberitahumu, sebagai manusia, gak kayak kamu, sewajarnya saja.”


Silvia berdiri dan berniat untuk pergi.


Malam ini, dia benar-benar marah. Beberapa hari yang lalu dia mendengar Luna menceritakan seberapa keterlaluannya orang Keluarga Ningrat terhadap Thomas, mengenai hal ini dia sudah berniat mengambil sikap, namun malam ini membuatnya melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Sejak kematian Tanto, dia mengandalkan Thomas agar bisa hidup sampai hari ini. Luna juga bisa kuliah berkat Thomas.


Semua beban berat keluarga ini dilimpahkan pada Thomas. Dia merasa dia bukan seorang ibu yang memenuhi syarat. Membuat Thomas begitu menderita.


Sehingga ketika dia melihat pasangan suami istri ini menekan Thomas seperti itu, dia sungguh tidak tahan lagi!


“Tunggu dulu!”


Melihat Silvia akan pergi, Thomas juga ikut bangkit berdiri, terutama ponsel itu masih ada digenggaman tangan Thomas, Martin sungguh panik.


“Baiklah! Aku Martin Ningrat bersumpah, mulai sekarang dan seterusnya, kalau aku menginjakkan kakiku di rumah Keluarga Widjaja setengah langkah saja, meminta bantuan Keluarga Widjaja lagi, maka aku akan berakhir mengenaskan!”


 “Namun membantu orang harus sampai tuntas, gak boleh setengah-setengah, Silvia, membantu orang setengah-setengah seperti ini rasanya tidak baik! Setengah tabungan masa tuaku bahkan sudah pertaruhkan, apakah kamu tega melihatku mati begitu saja?”


Thomas hanya tersenyum dengan sinis, “Martin, aku akan membantumu kali ini, tapi lu ingat omongan lu yang tadi.”


“Kak! Tenang aja! Aku sudah merekam sepanjang malam!” Luna menunjuk ponselnya.


Begitu Martin mendengar ini, dia langsung merasa tenang, asalkan Thomas tidak menyesal, maka masalahnya kali ini akan bisa dilewati!


Putus hubungan? Memangnya kenapa kalau putus hubungan!


Membayangkan di tangan Silvia masih ada kwitansi hutangnya terhadap Keluarga Widjaja sebesar 1,2 miliar, dia sama sekali tidak berani memiliki hubungan apa pun dengan keluarga ini lagi.


Setelah melewati masalah ini, dia akan mencari sebuah pekerjaan di bidang pemasaran, apalagi dia punya pengalaman dalam mengelola perusahaan. Ketika dia mengundurkan diri, ada begitu banyak perusahaan yang berniat merekrutnya.


Paling lama Wanda kuliah satu tahun lagi akan lulus, uang untuk membiayainya kuliah keluar negeri, masih ada waktu untuk mengumpulkannya… mungkin, masih ada ide lain!


Namun bagaimana pun, dia tidak perlu dipenjara!


......


 “Freya, ayo.” Thomas memanggil. Freya yang sejak datang makansibuk makan mengangkat kepala dan bersendawa.


“Eeekh~!”

__ADS_1


......


"Mau pergi? Ok, satu suap lagi." Freya mengambil potongan daging terakhir yang ada di piringnya dan memasukkannya ke dalam mulut dengan cepat


Lalu dia segera berdiri dan berdiri di samping Thomas.


Martin yang tadi baru merasa tenang, kembali membelalakkan matanya.


30 macam makanan yang disajikan, namun sekarang habis dilahap oleh gadis yang berpenampilan seperti pengemis ini selagi dia tidak memperhatikan,bahkan piring kosong begitu bersih seperti habis dijilati anjing!


Awalnya dia berniat makan dulu, lalu sisanya dibungkus pulang, gimanapun ini ada 30 macam lauk, dan menghabiskan ratusan juta!


... Sekarang habis begitu saja? Apakah dia black hole? Thomas dan Luna menggandeng Silvia di sisi kanan dan kiri, Freya dan Dimas mengikuti dari belakang, mereka berlima berjalan keluar dari ruang VVIP1.


"Aaaa... Kamu gila ya!" Tiba-tiba Martin berteriak dengan kencang.


Karena Milan tiba-tiba mencubit pahanya dengan sangat kuat.


"Dasar manusia bodoh! Kenapa bertengkar sehebat itu dengan Keluarga Widjaja, otakmu bermasalah ya? Sekarang Thomas kaya dan berkuasa, merupakan pohon uang keluarga kita, kamu bicara sampai seperti itu, otakmu sudah rusak atau apa hah?!"


Milan melihat ketiga anggota Keluarga Widjaja yang semakin menjauh, dalam hatinya sungguh menyesal setengah mati, dia hanya mengatakan beberapa patah kata, sambil melampiaskan ucapannya, berharap Thomas akan memandang hubungan antara kedua keluarga, membantu keluarganya menambahkan uang 400 juta itu, bukankah dia punya banyak uang, siapa yang menyangka masalahnya malah menjadi semakin parah, hubungan yang baru saja membaik malah kembali menjadi tegang.


“Kau… semua ini karena kamu! Wanita ini, sama sekali tidak masuk akal!” Martin juga melihat ke arah pintu ruang VVIP1.


Sungguh tidak seharusnya begitu! Demi melampiaskan kekesalan yang tidak penting, kenapa malah jadi begini? Martin menyesal sekali sampai rasanya ingin meninju dadanya sendiri.


“Aku tuh cewek, memangnya kenapa kalau banyak bicara? Siapa yang akan mengambil hati ucapanku? Tapi kamu cowok, ucapan yang sudah dikatakan akan sulit untuk ditarik kembali!” semakin membicarakannya Milan semakin kesal, membuatnya kembali teringat 400 juta yang mengalir seperti air, sontak membuatnya kesal sampai menangis.


Wajah Martin yang mendengar ini langsung merah padam, dia membuka mulut ingin melawan, namun mengingat bisnis sebelumnya gagal, menjadi marketing sekian tahun lamanya, awalnya dia mengira akan menjalani hidup ini seperti itu, namun malah terjebak oleh perangkap yang dibuat Ivan.


“Ivan Chandra, tunggu masalah ini selesai, aku akan membuat perhitungan denganmu!” ucap Martin dengan kesal.


Sekali lagi melihat Thomas yang menggandeng Silvia pergi dengan membusungkan dada, sementara dia malah seperti seorang pecundang, emosi yang sudah lama dia pendam langsung mengepung hatinya.


“Tanto oh Tanto, brengsek lu! Dulu mengatakan tidak perlu bayar, kalau begitu kenapa gak lu bakar kwitansi pinjaman itu? Di depan bilangnya sahabat terbaik, namun di belakang malah menjebak gue, memang kejam yah lu! Yang lu lakuin ini tujuannya biar Keluarga Widjaja bisa menginjak keluarga gue ya kan? Tunggu aja, suatu hari nanti, gue bakal bikin Keluarga Widjaja ngejilat sepatu gue!”


......


Thomas sama sekali tidak mengetahui pemikiran Martin ini. dia membawa rombongannya masuk ke dalam lift, turun ke lantai 1 untuk menunggu, sementara Dimas mengambil mobil yang terparkir di basement.


“Thomas, katakan dengan jujur, apa yang terjadi selama ini, bagaimana kamu bisa kenal dengan Bos Santo, lalu kenapa kamu… menjadi begitu kaya.” Dalam ucapan Silvia yang begitu tegas, tersembunyi keraguan dan kekhawatiran.


Tentu saja dia bisa melihat hubungan antara Thomas dan Bos Santo tidaklah biasa.


Namun Bos Santo adalah pemilik Tasty, dan restoran ini merupakan restoran kelas premium di Kota Jakarta!


Tidak lama sebelumnya, Thomas hanya seorang kurir paket, dalam situasi biasa, tidak akan mungkin memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan Bos Santo.


Kekuasaan apa yang Thomas miliki?

__ADS_1


Jadi, Silvia sangat khawatir Thomas jalan di jalan yang salah, kalau benar begitu, maka dia harus membujuk Thomas segera kembali.


“… Ma, jadi begini keadaanya.” Thomas menghela nafas panjang.


Dia tahu masalah ini sudah tidak bisa ditutupi lagi. Sehingga dia menceritakan semua dengan singkat dan sejujur-jujurnya, mulai dari dia yang menjadi penerus Levian Group, lalu bagaimana bisa bertemu dengan Chandi Levian.


Tentu saja termasuk villa yang ada di puncak itu.


“Kalau gak gini aja Ma, mama dan adik pindah ke villa, lingkungan di sini terlalu buruk. Dan yang terpenting adalah… aku tidak ingin lagi-lagi memiliki hubungan apa pun dengan keluarga Ningrat itu.” Ucap Thomas dengan tegas.


Silvia mendengarkan cerita Thomas dengan tenang. Sampai Thomas selesai bicara, dia baru berkata sambil tersenyum, “Thomas, ini adalah hal yang bagus, akhirnya kamu menemukan keluargamu, mama pikir tidak akan mungkin ketemu, tapi… aku juga ikut pindah ke sana, memang tidak apa?”


Bukannya Silvia ingin hidup mewah, ingin tinggal di rumah besar. Melainkan rumah miliknya dan Tanto sudah lama dijual, dan tempat tinggal mereka sekarang adalah sewaan oleh Thomas.


Sekarang dia tidak bekerja, yang artinya tidak sanggup hidup mandiri, di sisi lain, Luna masih anak kuliah tahun pertama.


Dia juga tidak mungkin menyuruh Thomas tetap membayar sewa rumah untuk ditinggali dia sendiri dan Luna sementara Thomas mengatakan akan pindah ke villa.


Sungguh tidak disangka Thomas memiliki latar belakang keluarga seperti itu, ternyata dia adalah cucuk Direktur Levian Group. Mengenai hal ini, membuatnya cukup bimbang.


“Ma, mama dan Adik juga keluargaku, aku tidak bisa membiarkan kalian hidup menderita, jadi ikutlah denganku.”


......


 “Baiklah kalau begitu, mama ikut denganmu.” Silvia mengangguk dengan perasaan tersentuh.


Dia merasa lega, hal paling membanggakan yang pernah dia lakukan bersama Tanto adalah memungut Thomas dan membesarkannya. Bukan karena Thomas memiliki latar belakang keluarga yang hebat, melainkan karena dia melihat semua yang Thomas lakukan untuk keluarganya selama beberapa tahun ini.


Memiliki seorang putra seperti ini, sebagai ibu, dia hanya bisa merasa beruntung.


......


  Ruang VVIP1.


Wanda masih belum sadar dari mabuknya, Martin juga minum sedikit, dia mengendarai mobil, karena ruangan ini sudah dia booking malam ini, jadi dia tidak berencana untuk pulang malam ini. karena seumur hidupnya, dia tidak pernah menginap di hotel yang begitu berkelas.


Ruangan yang dia pesan bukan hanya ruang untuk perjamuan, juga dilengkapi fasilitas hotel berbintang.


Pertengkarannya dengan Milan tadi sungguh menusuk perasaan Martin.


Meskipun mulut Milan sangat tajam, namun Martin merasa apa yang dia katakan memang benar.


Seumur hidupnya ini memang tidak ada hal yang pernah sukses dia lakukan!


Sehingga, setelah masalah ini berlalu, dia harus bekerja dengan benar, dan pekerjaan itu sudah bosan dia lakoni, apalagi umurnya sudah tidak muda lagi, memangnya dia masih bisa bekerja berapa lama lagi?


Bidang pemasaran sama sekali tidak memiliki tunjangan uang pensiun, dia memang sudah membeli asuransi jaminan masa tahun, namun begitu membayangkan dia harus menghabiskan masa tuanya dengan uang itu rasanya sungguh mengenaskan.


Beberapa hari ini dia selalu ikut Ivan keluar masuk club dan restoran yang berkelas, cara pandangnya juga sudah ikut berubah. Itu adalah kehidupan yang seharusnya dilalui oleh seorang manusia.

__ADS_1


Sehingga saat ini dia memegang surat kontrak property di tangannya sambil tidak hentinya memikirkan rencana yang tiada duanya.


Kalau rencananya berhasil, maka masa tuanya akan berlangsung tenang, biaya kuliah Wanda di luar negeri juga tidak perlu dikhawatirkan lagi…


__ADS_2