Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Hut Kampus


__ADS_3

Jenika melirik Thomas dan tersenyum tipis.


Senyum ini mengandung banyak maksud, di luar itu dia merasa sangat menarik.


Thomas memang penerus Levian Group, namun baginya ini tidak berarti apa-apa.


Baginya, Thomas tidak lebih hanya seorang warga biasa yang mendadak mendapat durian runtuh.


Mungkin sebutan ini kurang pas, disebut sebagai Orang Kaya Baru mungkin akan terdengar jauh lebih pas.


Tentu saja Jenika tidak memandang rendah orang miskin.


Ini sama seperti orang kaya yang melihat pengemis di jalanan, tidak merendahkan namun keduanya berada di dunia yang berbeda.


Keluarga Hermawan juga keluarga konglomerat, meskipun dibandingkan dengan Keluarga Levian mereka masih jauh, namun dia tahu dengan jelas.


Dirinya dengan Thomas memang orang dari dunia yang berbeda.


Namun Jenika tidak ingin menjatuhkan Thomas, setelah tersenyum, dia berkata dengan datar, “Kalau begitu, aku tunggu.”


Thomas langsung bersemangat, dia berdehem dan hendak mengatakan sesuatu, namun jenika sudah berdiri dan berjalan ke arah tangga.


“Aku mau istirahat, kalau sudah tidak ada urusan lalin, silahkan pulang.”


“Hmm… eh, ini kan rumahku.”


Thomas hanya berani mengomel pelan dengan kesal.


Setelah sesaat, dia turun ke garasi basement.


Karena Jenika mau istirahat, kalau begitu dia juga tidak ada alasan tetap berada di sini lagi, kalau sampai membuat Jenika tidak senang, mungkin dia akan langsung pergi.


Sebenarnya Thomas sangat berharap Jenika bisa tinggal sedikit lebih lama di sini.


Dimas masih ada di garasi, dia sedang bersandar di samping Range Rover, melihat Thomas yang keluar, dia memperlihatkan senyum yang dipahami oleh para pria.


“Tuan muda, kok cepat sekali turunnya?”


“He en… Dimas, ayo pergi.” Thomas tidak berminat banyak bicara, yang memenuhi kepalanya sekarang adalah bagaimana menjadi seorang pria hebat.


“Pakai mobil yang mana?”


“Untuk sementara, masih pakai Range Rover.”


Mengingat dirinya yang cucu konglomerat belum diketahui oleh Silvia, kalau naik mobil yang dibelikan oleh Chandi, tidak peduli mobil yang mana tetap akan menggemparkan.


Di dunia yang dipenuhi oleh sosmed ini, dijamin pasti akan viral.


“Haih, kelihatannya punya terlalu banyak uang juga sangat merepotkan.”


Thomas menghela nafas dengan tidak berdaya.

__ADS_1


Pindah rumah…


Awalnya dia berencana menunggu sampai penyakit Silvia membaik, seperti yang dikatakan Haris, dalam waktu 10 hari dia bisa menyembuhkan ibu asuhnya itu secara total.


Namun kedatangan Jenika membuat semuanya jadi kacau, Thomas tidak memahami Jenika, namun dia tahu Jenika adalah orang yang pendiam.


Kalau sampai benar-benar membawa Silvia tinggal ke dalam villa itu, hubungan ini akan semakin rumit untuk dijelaskan.


Tentang Thomas yang tidak lagi bekerja di perusahaan ekspedisi, Silvia masih belum tahu, sehingga dia berencana pulang sedikit lebih malam.


Dia menyuruh Dimas membawanya ke depan Kampus Trijaya, berniat mengajak Luna maka setelah dia pulang kuliah.


Makanan di kampus tidak bagus, dia tidak ingin membuat adiknya makan makanan yang tidak baik.


“Tuan muda, kamu sungguh seorang kakak teladan.” Puji Dimas.


Namun Thomas tidak meneruskan topik ini, dia malah menanyakan pertanyaan yang terus membuatnya bingung, “Dimas, menurut lu cowok seperti apa yang pantas disebut sebagai cowok hebat sebenarnya?”


“Haha, apakah ini perlu ditanyakan lagi? Bukankah Tuan muda adalah contoh nyata? Masih begitu muda namun sudah berdiri di puncak kesuksesan, merupakan calon penerus Levian Group.”


Ucap Dimas sambil tertawa.


“Eh, tapi Jenika gak berpikir begitu loh.” Thomas menggeleng dan menghela nafas dengan wajah galau.


“Apa? Nona Jenika?” Dimas tercengang, kemudian dia mengangguk paham, “Jadi pertanyaan ini berhubungan dengan Nona Jenika?”


“Iya, jadi begini…”


Dimas mengerutkan alisnya dan berpikir sejenak, namun dia tidak menjawab pertanyaan ini secara langsung, melainkan menjawab dengan santai, “Permintaan Nona Jenika ini… sungguh perkara sulit, tapi Tuan muda, ada begitu banyak wanita di dunia ini, untuk apa bucin pada satu orang, sepertinya ini kurang pantas. Sebenarnya cukup satu kata darimu, maka seluruh wanita yang ada di dunia ini bisa kamu pilih sesukamu.”


“Sudahlah, anggap saja aku tidak bicara.” Thomas memasang wajah sebal.


Jam 3 sore.


Ada belasan mahasiswa yang berjalan keluar dari gerbang kampus.


Thomas mengira sudah pulang sekolah, sehingga menelepon ponsel Luna, siapa yang menyangka Luna tidak mengangkat dan malah mengirimkan sebuah pesan.


“Kak, masih pelajaran nih.”


“Eh, tidak apa, nanti kalau sudah bubar keluar, kakak traktir makan.”


Setelah mengirim pesan ini, Thomas membuka jendela  mobil dan melihat ada belasan mahasiswa yang sedang sibuk.


Mereka menggantung spanduk, memasang lampu warna warni, meletakkan bunga segar, lalu memajang dua pot di kedua sisi gerbang.


Diatas spanduk ada tulisan yang dicetak besar: HUT KE-30 UNIVERSITAS TRIJAYA, SELAMAT DATANG PARA ALUMNI!


Ini ada perayaan HUT kampus?


Thomas merasa terkejut, namun ini tidak ada hubungan dengannya, lagipula dia sudah keluar dari sana tiga tahun yang lalu.

__ADS_1


Dan setengah jam setelahnya, ponselnya kembali berdering, ketika ida mengeluarkan ponselnya untuk melihat, ternyata ini telepon dari Ketua BEM yang dulu.


Dulu sebelum dia berhenti kuliah, dia sempat bergabung menjadi anggota BEM, dan Ketua Bem mereka yang bernama Hans Zola adalah teman satu asramanya.


Hubungan mereka ketika itu cukup baik.


Namun setelahnya keluarga Thomas mendapat musibah, Thomas terpaksa terjun ke dunia kerja di masa yang masih muda, sehingga mereka semakin jarang berhubungan.


Dia masih ingat, ketika itu dia berniat untuk berhenti kuliah, Hans berniat menggalang dana di kampus, namun ditolak oleh Thomas.


Karena alasannya berhenti kuliah bukan hanya karena tidak mampu membayar uang kuliah, namun juga karena Silvia jatuh sakit.


“Halo, Ketua?”


“Thomas? Oh iya, ada yang ingin kukatakan padamu, lusa kampus kita akan mengadakan perayaan HUT ke-30, nanti lu datang ya, habis acara kita reunian.”


“Perayaan HUT kampus… aku rasa kurang pantas kalau aku datang.”


“Kenapa tidak pantas? Semua mahasiswa yang lulusan kampus kita akan hadir, bahkan ada beberapa diantara mereka yang cukup sukses… gue bilangin ya, elu harus datang, nanti gue rekomendasiin kerjaan yang oke buat elu! Gitu dulu ya, gue masih ada kerjaan, bye!”


setelah mengatakannya, Hans langsung mematikan telepon.


Dalam hati Thomas ada rasa terharu yang tidak terelakkan.


Meskipun setelah meninggalkan kampus dia berusaha menjauhi lingkungan ini, namun Hans tetap tidak melupakannya.


Dan setahu dia, Hans juga sering sekali membantu Luna dibelakangnya.


Hal ini juga dia dengar dari Luna.


Kalau begitu, baiklah dia akan hadir!


Sekarang dia sudah kaya, dia ingin membalas budi orang-orang yang pernah baik padanya.


    ......


Kampus adalah surganya orang yang berpacaran.


Dan ucapan ini sedikit pun tidak salah.


Di Universitas Trijaya ada fasilitas asrama, ada banyak pasangan yang menyewa rumah diluar dan menjalani ‘dunia milik berdua yang lain ngontrak’.


Sehingga begitu jam pulang kuliah, ada banyak pasangan yang keluar dari kampus.


Thomas turun dari mobil dan berjalan ke gerbang.


Sebelumnya dia tidak pernah berani datang kemari untuk menjemput Luna, takut bertemu dengan teman kuliah Luna, lalu meninggalkan kesan yang buruk.


Namun dirinya yang sekarang sudah berbeda dengan yang dulu.


Setelah menunggu selama lima menit, Thomas akhirnya melihat Luna keluar, dan berikutnya dia tercengang.

__ADS_1


Karena dia melihat disamping Luna diikuti oleh satu orang  wanita dan dua orang pria yang berpakaian begitu trendy, dan jelas terlihat di ekspresi Luna kalau dia sangat tidak nyaman.


__ADS_2