Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 106


__ADS_3

"Anj*r! Ada lagi!"


Thomas hanya sempat berseru kaget, dan dalam sekejap sudah tenggelam dalam kerumunan preman.


Dari 20 orangan preman ini, yang benar-benar berhasil memukul dan menendang Thomas hanya sekitar 7-8 orang saja.


Apalagi tubuh Thomas juga memiliki energi murni yang melindunginya, lukanya sama sekali tidak parah.


Sebenarnya dalam kondisi energi murni yang penuh seperti ini, pukulan dan tendangan orang biasa sangat sulit untuk melukai Thomas, ini terlihat begitu tidak masuk akal, namun inilah perbedaan antara manusia biasa dan manusia yang berlatih ilmu tenaga dalam.


Meskipun demikian, Thomas tetap terpukul sampai tidak bisa membedakan arah lagi, situasinya sungguh terlalu kacau.


"Stop!"


Perkelahian ini berlangsung selama 5 menit, sebuah suara yang begitu tidak asing terdengar.


Setelah para preman bubar, Thomas membuka mata dan melihat, ada dua orang yang sedang berjalan ke arahnya, yang satu adalah Martin, dan yang satu lagi adalah Bon yang pernah dia hadapi.


Thomas sempat berpikir Martin datang untuk menolongnya, namun itu hanya satu detik.


Begitu dia melihat Bon, dia langsung paham, dua hari ini dia tidak melihat Martin, tidak disangka dia sudah bergabung dengan Bright Property.


Senyum sinis muncul di wajah Thomas.


Anjing memang tidak akan bisa berhenti makan kotoran.


"Hehe, Thomas, akhirnya kamu jatuh ke tanganku juga." Martin ingin berlaga tenang, namun kegirangan dalam hatinya sudah mengkhianatinya.


Thomas duduk di tanah dan mengangkat wajahnya sambil bertanya, “Martin, maksud lu apa?”


“Maksud gue apa? Menurut lu maksud gue apa?”


Martin tersenyum dengan licik, matanya penuh sorot kekejaman, “Semuanya, bawa dia!”


Setelah mendengar ucapan ini, dua orang preman menahan tangan Thomas dan memberikan beberapa pukulan lagi di tubuhnya, setelah itu baru menyeretnya dari dalam gang ke dalam mobil.


“Ketua, membawa Thomas ke tempat kita, takutnya kurang cocok, bagaimana kalau kita membawanya ke pabrik tua, di sana Thomas tidak akan bisa kabur.” Saat ini Bon memberi saran.


Martin berpikir sejenak, lalu berkata sambil mengangguk, “Baiklah, kalau begitu kita pergi ke pabrik tua!”


......


Thomas tidak menyangka dirinya akan mendatangi tempat itu lagi.


Dan yang membuatnya lebih tidak menyangka lagi adalah, entah cara apa yang digunakan Martin sampai dia bisa menjadi ketua preman ini.


Dibawah kerja sama para preman ini, Thomas terikat dengan kuat di atas sebatang pilar.


Sementara Martin duduk di seberangnya…

__ADS_1


Satu kakinya terangkat dan bergoyang dengan santainya, tangannya bahkan memegang segelas anggur merah sambil menatapnya dengan tatapan mata iblis.


“Martin, gue rasa diantara kita gak pernah ada dendam, mau apa lu?” tanya Thomas dengan tenang.


Entah kenapa, dalam hatinya tidak merasa terlalu tegang.


Martin hanya tertawa dengan begitu jahat, “Hehehe, Thomas, gue hampir aja mati dalam jebakan yang lu buat sama Santo Cendana, sekarang lu malah berani bilang gak ada dendam di antara kita?”


Begitu mendengar ini, Thomas sungguh tidak bisa menahan tawanya, “Martin, kita semua orang yang ada di tempat kejadian, bagaimana kejadian yang sebenarnya, kita semua tahu dengan persis, ini semua karena elu yang cari mati sendiri, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kami.”


“Dasar bajingan! Jangan banyak omong kosong!” wajah Martin sampai merah padam karena emosi, “Thomas, elu itu cuma anak haram! Hari ini gue bawa elu kesini bukan buat ngedenger lu ngebacot, ngerti? Cepet suruh orang kirim… 20 triliun uang cash kemari, kalau tidak jangan salahkan gue karena ada bagian yang hilang dari badan lu!”


Ini adalah rencana Martin.


Dia terus terngiang-ngiang uang 2 triliun itu, karena dia tidak bisa mendapatkannya dari Bright Property, maka dia akan mendapatkannya dari Thomas.


Martin percaya, mobil yang dipakai Thomas saja sudah bernilai triliunan, bagaimana mungkin dia tidak sanggup memberikan 20 triliun.


Pada saat itu, ketika uang tebusan itu dia terima, dia akan memberikan sebagian kepada Bos Markus, lalu memberikan sedikit untuk Bon, lalu memainkan sedikit trik… menghilang!


Dia sudah memikirkannya dengan seksama, bekerja untuk Bos Markus sama sekali bukan jalan yang aman, orang yang bergerak di bidang mafia akan berakhir seperti apa, dia sudah hidup puluhan tahun di dunia, tidak mungkin dia tidak memahami hal ini.


Jadi begitu uang ini dia dapatkan, dia akan menyeret keluarnya pergi jauh dari tempat ini!


Uang itu cukup untuk hidup enak selama beberapa generasi.


Namun pada saat ini, Bon yang berdiri disamping langsung mengangkat alisnya.


Mendengar ini adalah perintah dari Bos Markus, Martin berkata, “Baiklah, sana pergi!”


Bon mengangguk dan segera pergi.


Setelah dia berbalik, ada ekspresi berdebar di wajahnya.


Merekrut orang picik seperti Martin ini, Bon sama sekali tidak memahami apa yang diinginkan oleh Markun, namun dia tahu, Perkumpulan Cabang Naga Hitam selama ini di bawah kendali Markus.


Hanya dengan satu kata saja dia langsung menyerahkan Perkumpulan Cabang Naga Hitam pada Martin?


Ini tidak mungkin!


Apalagi kejadian ini terlihat sangat ganjal.


Ada lagi, dia bahkan dijadikan Wakil Ketua Perkumpulan Cabang Naga Hitam…


Bon tidak tahu ini adalah berkah atau petaka baginya, namun tadi, dia akhirnya merasakan poin pentingnya.


Dia bukan anak muda yang baru berkecimpung di bidang ini, kemampuan memantaunya jauh melampaui Martin.


Dia tidak tahu status Thomas, namun dia yakin satu hal, kalau Thomas memang benar sesederhana itu, setelah dia menikam Ivan, dia pasti sudah ditenggelamkan.

__ADS_1


Namun kenyataannya Thomas masih baik-baik saja, penculikan kali ini juga bukan perintah Bos Markus.


Ternyata posisi Wakil Ketua ini, termasuk Martin, hanyalah senjata yang digunakan oleh Bos Markus…


Begitu kekuasaan yang ada dibalik Thomas terpancing keluar, orang yang pertama kali jadi sasaran adalah orang yang melukai Thomas.


“Orang pintar harus melindungi diri dulu, ini baru benar.” seru Bon dalam hati.


Ketika hampir tiba di depan gerbang pabrik tua, Bon mengangkat kepalanya dan melihat langit yang mendung, senyum kegembiraan muncul di wajahnya.


20 triliun? Hehe, Martin bodoh, lu mau nyiksa diri silahkan, gue gak ikutan!


......


“Anak haram, lu pikir gue gak berani nyentuh elu? Mungkin lu gak tahu kalau kesabaran gue ada batasnya.”


Martin tersenyum dingin, sorot matanya yang kejam memperhatikan Thomas dari atas ke bawah, dia sudah memutuskan, tidak peduli apapun yang terjadi, dia harus membuat Thomas patuh padanya.


Dia mengira rencananya sangat sempurna.


Setelah mendapatkan uangnya, dia akan membagi dua uang tersebut dengan Markus, tentu saja dia akan menelepon Milan untuk memesan tiket pesawat terlebih dahulu.


Pada saat itu, dia pergi, dan semua masalah sudah tidak ada urusan dengannya lagi.


Nantinya biar Markus yang menghadapi serangan dari pihak Thomas, dan para preman yang ikut dengannya saat ini pasti akan mengira kalau ini adalah keinginan Markus.


Dan pada akhirnya, kemungkinan Markus akan tumbang, kalau pun tidak sampai separah seperti itu, ketika Markus membereskan semuanya, pada saat itu dia sudah terbang keluar negeri.


Meskipun dia masih belum keluar negeri, bukankah ini juga keinginan markus sendiri? Dia punya maksud lain terhadap Thomas, dan Martin sudah menyadarinya sejak awal.


Dia hanya mendapatkan rejeki yang pada dasarnya memang milik dia dibawah ijin Markus saja.


Mengenai hidup dan mati Thomas, dia sama sekali tidak ingin tahu.


Ketika dia sedang merasa senang dengan imajinasinya, dia malah melihat Thomas tertawa.


“Brengsek! Thomas, lu beneran gak takut mati ya?” Martin langsung dibakar api amarah.


Kalau Thomas tidak mau bekerja sama, maka dia sama sekali tidak keberatan memberinya sedikit pelajaran.


“Bukan begitu, Martin, lu mau 20 triliun, terus uang cash? Lu tahu gak itu ada berapa banyak?”


Thomas menggeleng dengan senyum pasrah, dia sungguh salut dengan kebodohan Martin.


Jangankan 20 triliun, uang 200 miliar saja, ingin menyembunyikan uang segitu saja sudah sangat sulit.


Setelah diingatkan seperti ini, Martin tercengang.


Iya juga! 20 triliun, dia mau taruh dimana? Kenapa tidak terpikirkan olehnya!

__ADS_1


Wajah tua Martin tersenyum dengan begitu picik untuk menutupi kecanggungan, “Huh, gue cuma mau ngetes elu, jangan mengira gue bakal melupakan masalah sepenting ini… Transfer! uang 20 triliun transfer ke gue!”


Thomas: “…”


__ADS_2