
Kimberly memiringkan kepalanya, menggunakan sorot mata nakal melihat ke sekeliling, dia ingin membuktikan sifatnya, berharap mendapatkan tawa dari sekeliling atau tepuk tangan.
Sejak kecil, dia selalu menjadi kepala geng di sekolah. Karena kakeknya mengajar, ayahnya juga bekerja di bidang pendidikan. Tidak ada yang berani menyinggungnya. Sehingga membuatnya memiliki sifat semena-menanya.
Dan situasi hari ini terasa sedikit aneh. Biasanya, ketika dia menjahili Freya, semua orang pasti akan ikut tertawa. Namun saat ini, semua orang menatapnya dengan tatapan dan ekspresi yang aneh.
Sehingga dia sangat tidak senang, merasa kekuasaannya diabaikan.
Sehingga dia mengumpulkan kekesalannya, berniat membuang permen karet dan juga air liurnya ke tubuh Freya.
Namun ketika dia mengangkat kepalanya…
Kimberly melihat seorang pria yang sangat tinggi.
Dia sedang tersenyum padanya? Lalu dengan satu tangan mengangkat dagunya dengan cukup kencang.
“Gleekkk…”
Air liur dan juga permen karet tertelan bersamaan olehnya.
Kimberly memegang lehernya, berjalan dua langkah lalu menoleh, melihat seorang pria bertubuh setinggi 2,1 meteran, dia sempat tercengang sejenak sebelum akhirnya sadar apa yang baru saja dia telan.
“Hmmph! Oeek~!”
Dia segera membungkukkan badannya, berusaha mengorek tenggorokannya agar permen karet yang dia telan bisa dimuntahkan kembali.
Sejak Kimberly maju, Wedy sudah mempersiapkan dirinya untuk menonton, dia ingin menggunakan Kimberly untuk memperingatkan ketiga mahasiswa yang berani melawannya itu.
Dan pada saat itu dia tinggal berpura-pura membentak, siapa yang bisa berkomentar?
Namun yang tidak dia sangka adalah, entah pria tinggi ini muncul dari mana, beraninya menyerang Kimberly dari belakang!
Karena musim panas, Dimas menggunakan sandal jepit dan celana 7/8 yang dipadukan dengan kaus, bahkan semuanya baju yang dijual di pedagang kaki lima.
Wedy mengira dia adalah murid Trijaya juga.
Sehingga langsung murka, “Siapa lagi kamu? Jurusan mana? Siapa namamu?”
“Gak pengen kasih tau.” Ucap Dimas sambil tersenyum.
“Kau…”
Wedy sungguh kesal!
Bagaimana pun dia adalah Wakil Kepala Dekan di Trijaya, bagaimana mungkin dia terima dipermalukan seperti ini! Dimana kehormatannya?
Sehingga dia langsung maju dan berniat menariknya ke ruang kantornya.
Dia akan memarahinya dulu, baru memanggil orang tuanya datang, besok saat rapat, dia akan menghukumnya dengan berat sekali lagi!
Namun, tiba-tiba muncul sebuah tangan besar yang menahan kepala Wedy.
Dan tangan ini langsung membuat rambut palsu Wedy terjatuh, memperlihatkan kepala botak yang begitu mengkilap.
__ADS_1
“Aaa! Benar-benar ngeselin!” Wedy murka, namun kepalanya ditahan, membuat kedua kaki dan tangannya merayap-rayap di udara.
Dimas melihat ini lucu, sehingga dia tertawa dengan kencang tanpa perasaan.
Dan dalam waktu sejenak, terdengar suara tawa mahasiswi yang menonton di lantai itu, suara tawa yang membahana dan memekakkan telinga.
Tangan besar ini hanya mendorong perlahan, Wedy langsung mundur beberapa langkah lalu terduduk di lantai.
Wajahnya pucat namun merah padam, namun dia tahu, dia sama sekali bukan tandingan anak bongsor ini.
“Dimas, ayo kita pergi.”
Awalnya Thomas masih merasa kesal, namun melihat Kimberly dan Wedy yang sudah dihadapi Dimas, amarahnya untuk sementara bisa dia redam.
Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Thomas menggandeng tangan Freya dan berjalan di depan, lalu Luna dan Dimas ikut dibelakangnya.
Melihat mereka perlahan menjauh, Wedy baru sadar, dia berteriak pada Junaedi, “Junaedi Prayoga! Kamu juga lihat kan tadi, para mahasiswa ini sama sekali tidak tahu bagaimana menghormati guru, kenapa kamu tidak mencegah mereka?!”
Dia sudah dipermalukan habis-habisan, dan kali ini dia melampiaskan semua amarahnya pada Junaedi.
“Menghentikan? Menghentikan apa?”
Junaedi melirik Wedy dengan tatapan mata yang mengatakan – sukurin!
Thomas bukan hanya bukan mahasiswa Trijaya, bahkan calon direksi kehormatan Trijaya, besok petinggi akan mengurus stempel direksi kehormatan untuk Thomas, apa yang bisa dia cegah!
Lalu, dia malas meladeni Wedy lagi, dan langsung melangkah menyusul Thomas.
Wedy hampir gila karena kesal, beberapa hari ini apapun yang dia lakukan tidak pernah berjalan lancar!
Ketika dia tiba, dia mendapati Keiro sudah dimasukkan ke dalam sel.
Wedy ingin mengeluarkannya, dia mengerakkan semua koneksi, namun pada akhirnya gagal!
Dua hari ini dia benar-benar dibuat cemas sampai tidak bisa makan dengan tenang, sekarang dipermalukan seperti ini, mau ditaruh di mana mukanya ini.
“Baik! Junaedi Prayoga, kali ini kamu cukup kejam! Namun, kita lihat saja besok!”
Wedy menatap Junaedi yang menjauh, sorot matanya terlihat penuh amarah dan juga kekejaman.
Dia sudah memikirkannya, besok saat petinggi universitas datang, dia harus menambahkan cerita agar dia langsung dijebloskan ke dalam penjara!
Memikirkan ini, Wedy melihat Kimberly yang masih sedang muntah, dia menepuk punggungnya dengan penuh perhatian, “Kimi, apakah mereka teman kuliahmu? Ingat wajah-wajah mereka, besok kakek akan mencari keadilan untukmu!”
Kimberly juga sangat kesal, Freya si ****** itu! Beraninya bekerja sama dengan orang luar untuk melawannya, dan juga mahasiswi tahun pertama itu, dia akan mengingatnya dengan baik.
Dia dibantu Wedy berdiri, baru akan pergi, dia mengangkat kepalanya dan melihat tepat di depan pintu gedung asrama wanita terparkir mobil hitam besar yang begitu gagah dan mewah!
“Hee!” Kimberly sungguh merasa heran, dan langsung melupakan kejadian memalukan tadi.
Mengenai gosip yang tersebar tentang mobil King Kalman, dua hari ini tersebar begitu cepat di kampus, dan dia juga tahu, beberapa hari yang lalu, adik sepupunya yang bernama Keiro dihajar oleh seorang pemuda bertubuh sangat tinggi, sekarang dia masih ada di dalam sel tahanan.
Dan pria bertubuh besar itu awalnya mengendarai mobil Range Rover, lalu katanya mobil NSX yang dikendarai oleh Tuan muda Bright Property digilas sampai menjadi lempengan besi rongsokan, dan mobil yang dia bawa adalah mobil King Kalman ini!
__ADS_1
Seketika muncul perasaan yang begitu menakutkan.
Dan tepat pada saat ini, dia mendengar suara yang datang dari sampingnya.
“Waaah, pangeran! Kenapa orang yang digandeng bukan gue!”
“Gue ngerasa cowok tinggi itu juga lumayan ganteng, membuat orang merasa aman.”
“Huh, dia itu cuma supir…”
“Memang kenapa kalau supir? Dia sanggup melawan 16 orang sekaligus, bahkan tadi berani menyentuh kepala Wakil Dekan.”
“Omongan lu bikin gue goyah, sebenarnya gue juga suka cowok yang arogan…”
“Si Freya itu sungguh beruntung! Dia punya hubungan apa ya sama pangeran gue?”
“Eh? Salah! Calon istri pangeran itu kan Wanda Ningrat yang sekarang kuliah tahun ketiga kan?”
#%*!%&@$!&@!*.... !&$@&%@*(...
Ekspresi wajah Kimberly terlihat begitu buruk.
Meskipun dia terlihat tenang, namun dalam hatinya malah berteriak: bagaimana mungkin!
Semua kejadian yang berhubungan dengan Thomas dan Dimas sudah pernah dia dengar sebelumnya, dan di saat bersamaan dia juga memendam rasa kagum terhadap pangeran yang menjadi rumor itu.
Kaya! Berkuasa! Sama sekali tidak memandang Tuan muda Bright Property!
Mobil seharga 6 milyar bisa dia gilas sesuka hati, dan pada akhirnya Tuan muda Chandra hanya bisa pergi dengan pasrah.
Dan sampai sekarang sama sekali tidak ada masalah susulan!
Sayangnya, kedua kejadian ini sama sekali tidak sempat dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Kimberly terus mendambakan kesempatan bertemu dengan Thomas!
Siapa yang menyangka, pertemuan kali ini, dia sudah bertemu dengan Thomas, namun malah dalam kondisi seperti ini!
Dan yang terpenting adalah, bagaimana mungkin!
Freya si ****** itu, jurus apa yang dia gunakan sampai bisa memikat Thomas?
Dia adalah seorang nona muda dari keluarga kaya raya, Freya hanya anak yatim piatu yang miskin! Hidup di kampus seperti seekor anjing, ****** yang selalu direndahkan oleh semua orang!
Jadi, atas dasar apa!
......
Dan di sisi lain, Wedy juga melihat King Kalman yang terparkir tepat di depan gedung asrama putri.
Matanya langsung membelalak.
Mobil SUV yang begitu gagah dan keren, pemiliknya pasti bukan orang biasa!
__ADS_1
Dan detik berikutnya, bola matanya nyaris melompat keluar.