Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Hati Iblis


__ADS_3

Setengah jam kemudian, makanan disajikan bersusulan. Setelah makanan selesai, Santo juga masuk dengan wajah sumringah.


“Kak Santo.”


Thomas berdiri dan mengangguk.


Ini kedua kalinya dia datang dan merepotkan Santo, dan itu belum termasuk hutang budi miliaran rupiah itu.


Pada dasarnya dia tidak suka memohon bantuan orang lain, namun kenyataan malah tidak mengijinkan.


“Haha, Thomas, karena sudah datang kesini tidak perlu sungkan lagi, anggap saja rumah sendiri!”


Santo merasa sangat senang, terutama dia tahu Thomas membutuhkan bantuannya lagi.


Dia bukan orang berhati mulia, kalau orang lain yang meminta bantuannya, dia pasti akan mengabaikannya, namun Thomas berbeda.


Thomas mempersilahkan Santo duduk, Martin yang melihat ini langsung menuangkan wine untuk mereka berdua.


“Kamu mencariku pasti karena membutuhkan bantuan, langsung ke topik utama saja, karena aku masih ada urusan yang harus diselesaikan, Thomas, mohon pengertianya.” Santo terkekeh, dan matanya menyapu setiap orang yang ada di sana.


Ketika dia melihat Freya, dia terhenti sejenak.


Karena orang yang datang ke Tasty, meskipun belum tentu orang yang kaya raya, namun pakaiannya selalu rapi dan bersih, ini adalah syarat paling mendasar, meskipun masuk ke dalam restoran biasa pun begitu.


Apalagi Freya habis dikeroyok oleh Kimberly, sehingga satu matanya lebam, satu sisi wajahnya bengkak, rambutnya juga berantakan.


Terlihat tidak jauh berbeda dengan pengemis yang ada di pinggir jalan.


Namun wanita seperti ini malah duduk di samping Thomas.


Tentu saja Santo tidak akan menanyakan siapa dia, karena dia begitu dekat dengan Thomas, maka posisinya dalam hati Thomas sudah pasti tidak perlu ditanyakan lagi.


Sementara ketiga orang Keluarga Ningrat ini, Wanda adalah orang yang pernah menjadi tunangan Thomas.


Juga Luna adik Thomas, dia sudah pernah bertemu, dia duduk disamping seorang wanita yang wajahnya tidak dia kenal, dan dia juga memanggilnya ‘Ma’.


Mengenai kekuasaan Keluarga Ningrat, dia juga sempat mencari tahu, pemain lama yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan sepertinya tentu langsung paham, yang benar-benar membutuhkan bantuan pasti Martin Ningrat.


Begitu Martin melihatnya duduk, dia segera bangkit dan menuangkan wine, hanya gerakan ini saja sudah cukup menjelaskan sebagian besar masalahnya.


Ditambah lagi, perjamuan malam ini Dimas yang memberitahunya langsung, mengatakan kalau yang memesan ruangan VVIP1 adalah Martin Ningrat.


Begitu mendengar ucapan Santo, Thomas dengan singkat padat jelas menceritakan semuanya sekali lagi, lalu meminta Martin menambahkan detailnya.

__ADS_1


Setelah mendengarnya, Santo tersenyum, lalu mengangkat gelasnya dan berkata, “Mari, minum.”


Mengenai hal ini, Thomas tidak ingin terlalu berharap, lagi pula dia sudah membantu, mengenai berhasil atau tidak, dia tidak pernah menjaminnya.


Namun Martin cemas! Apa yang harus dikatakan sudah dia katakan, bukankah sudah saatnya Santo memberikan jawaban?


Siapa yang menyangka setelah mendengarnya malah minum wine?


Minum bukan masalah, asalkan membantunya menyelesaikan masalah ini, mau minum berapa banyak juga tidak masalah, namun masalah ini sama sekali tidak ada kepastian.


Martin merasa tidak tenang, sebenarnya Santo bisa membantunya atau tidak!


Namun Santo sudah mengatakan ini, dan dia membutuhkan bantuan orang lain, dia hanya bisa tersenyum sambil mengangkat gelasnya lalu meneguknya sampai habis.


Berikutnya, Santo dan Thomas mengobrol dengan asik, hanya kedua suami istri ini yang diam-diam cemas.


Namun Wanda sama sekali tidak merasakan ini, hampir seluruh perhatiannya tertuju pada Freya.


Wanda menatap Freya dengan tatapan merendahkan, perasaan ingin menyakitinya menjadi semakin kuat, wanita seperti ini mana pantas menjadi saingannya, apalagi berebut Thomas dengannya?


Suasana saat ini begitu tegang, Luna juga menarik Silvia dan membisikkan sesuatu di telinganya, Wanda berpikir sejenak lalu tersenyum dingin, dia membawa gelas winenya meninggalkan tempat duduknya.


“Freya, aku bersulang untukmu?” ucap Wanda dengan senyum yang begitu ramah. Kenyataannya dalam hati dia sedang tertawa jahat.


Kalau membicarakan kemampuan minum, bisa dikatakan dia sudah teruji, saat baru masuk SMA kelas dua, dia sudah mulai minum diam-diam.


Wanda sudah memutuskan untuk membuat Freya mabuk, membuatnya memperlihatkan sikap yang memalukan saat mabuk!


“Oh, terima kasih.”


Freya mengangkat gelas winenya lalu mendekatkan gelas ke bibirnya, dia mengangkat kepala dan langsung meminumnya sampai habis.


Si ****** ini benar-benar tidak bisa minum rupanya! Minum secepat itu, mana mungkin tidak mabuk?


Dalam hati Wanda tersenyum dingin, rasa tidak mau kalah kembali menguasai hatinya.


Dia juga menghabiskan wine di gelasnya.


Semua orang punya teman ngobrol, tentu saja tidak ada yang memperhatikan Freya yang sedang minum bersama Wanda.


Satu gelas demi satu gelas, dalam waktu singkat satu botol sudah habis, Wanda kembali membuka satu botol lagi.


Lalu kembali membuka satu lagi…

__ADS_1


Minum tiga botol berturut-turut, Wanda sudah memperlihatkan gelagat mabuk, dia merasa kepalanya pusing, lalu dia melihat lagi ke arah Freya, namun dia terlihat baik-baik saja!


“Sini, aku, aku bantu kamu tuang sampai penuh!” lidah Wanda bahkan sudah terasa kebas, namun dia tetap memaksakan dirinya bersikap ramah.


“Ah, terima kasih.” Freya memegangi gelas dengan kedua tangannya dan mengangguk.


Setiap kali menuangkan segelas wine untuk Freya, ucapan yang mereka ucapkan selalu sama.


Awalnya Wanda hanya merasa lucu, si ****** ini bahkan tidak tahu cara memegang gelas wine dengan benar, mana mungkin pantas diajak bertemu orang hebat!


Dan saat ini, Wanda hanya merasa ucapan ini sangat mengganggu, kenapa si ****** ini masuk tidak mabuk juga?


Satu gelas diminum lagi. Semua yang Wanda lihat terasa berbayang, namun dia sudah tidak punya jalan lain sekarang.


Apalagi, Martin hanya memesan 6 botol, Martin, Thomas, Santo dan Dimas masing-masing satu gelas.


Itu juga sudah tinggal sedikit.


Sementara dia dan Freya sudah menghabiskan 3 botol, masih ada satu botol yang tersisa sedikit, dua botol lagi masih belum dibuka.


Wanda sudah tidak bisa memikirkan hal lain lagi, yang dia pikirkan sekarang hanya membuat Freya mabuk!


Sehingga dia memutar meja lalu membuka kedua botol wine itu, lalu memberikan satu botol pada Freya.


“Ayo, kita, malam ini… teguk langsung!” Wanda sudah mabuk berat!


“Oh, baik, terima kasih!”


Freya memegang botol wine dengan kedua tangannya, menunduk hormat pada Wanda lalu meminumnya seperti sedang meminum air putih, “Glekk… glekkk…“ wine dalam botol berkurang dengan cepat.


“Tidak! Aku tidak boleh kalah! Dia sudah hampir mabuk! Pasti sudah mau mabuk!”


Wanda tidak hentinya menyemangati dirinya sendiri, dia berusaha menahan diri, malam ini dia harus membereskan saingannya ini!


Sehingga, dia juga mengikuti cara minum Freya, langsung minum dari botolnya.


Tadi mereka minum menggunakan gelas, sama sekali tidak ada yang memperhatikannya, karena semua perhatian terfokus pada topik pembicaraan, namun sekarang dua orang gadis masing-masing mengangkat botol wine dan menenggaknya langsung tentu akan menarik perhatian.


Thomas tiba-tiba membuka suara dan berkata, “Freya, kamu ngapain? Kenapa membiarkan Wanda minum sebanyak ini?”


“Ternyata, Thomas masih begitu memperhatikanku.”


Begitu memikirkan ini, Wanda semakin bersemangat dan minum semakin cepat.

__ADS_1


Siapa yang menyangka Thomas kembali berkata, “Keluargamu pada dasarnya punya gudang wine, 10 Wanda juga tidak akan bisa menang melawanmu, ngaco ya kamu…”


“Pfthh~~!”


__ADS_2