Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 73 Wanda Bunuh Diri


__ADS_3

Kimberly begitu panik, setelah meninggalkan lokasi acara dia segera menelpon ayahnya.


Ayahnya adalah Yudas Baskoro yang menjabat Sekretaris Dinas pendidikan kota, dia punya kekuasaan yang cukup besar, kalau sampai ayahnya tidak sanggup, maka Kimberly sungguh tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.


Mendengar Kimberly menceritakan semua yang terjadi di acara penghargaan sekali lagi, Yudas menjawab dengan tegas, “Kimmy, kamu tenang saja, masalah ini papa akan mengurusnya, kamu kuliah yang benar, urusan orang dewasa kamu tidak perlu khawatir.”


Bohong kalau mengatakan Kimberly tidak khawatir.


Karena Wedy menjabat sebagai Wakil dekan Trijaya, makanya Kimberly bisa semena-mena di kampus.


Kalau sampai Wedy di pecat, dia tidak akan bisa seperti ini lagi, tidak akan bisa merasakan tatapan penuh hormat semua orang lagi.


Ketika dia meninggalkan tempat duduknya, dia bisa merasakan semua orang menatapnya, dan tatapan mereka sudah tidak seperti dulu yang begitu hormat padanya, malah penuh dengan cibiran dan ejekan.


Bagi orang yang sudah terbiasa berdiri diatas semua orang, ini adalah hal yang tidak bisa dia tolerir.


“Tidak bisa, gue harus bicara dengan Thomas, dia adalah Direksi Kehormatan, asalkan dia mau membantu kakek di hadapan orang dinas pendidikan provinsi itu, maka semua akan baik-baik saja!”


Kimberly berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk menunggu Thomas di depan gerbang.


Acara ini sungguh membuat Thomas kelelahan.


Dia menolak undangan Luhut dan Junaedi untuk mengobrol di ruang kantor, lalu bersiap meninggalkan kampus menuju ke villa untuk menengok calon istri yang diatur oleh Chandi, Jenika Hermawan.


Sudah beberapa hari tidak ketemu, entah bagaimana kabarnya sekarang.


Tempat tinggal Dimas tidak jauh dari kompleks tempat tinggal Thomas, hanya butuh perjalanan 10 menit termasuk macet di lampu merah dan lain-lain.


Kalau tidak, dia tidak mungkin siap siaga setiap saat.


Dan itu artinya, Dimas sendiri juga tidak tahu bagaimana situasi di villa selama beberapa hari ini.


Meskipun Jenika menyikapi perjodohan ini dengan sikap yang datar, namun Thomas merasa dia tetap harus berusaha, sedikit banyak dia harus meninggalkan kesan yang baik untuk Jenika.


Lalu menjadi teman biasa.


Kemudian meningkat menjadi teman akrab!


Masalah perasaan harus bertahap iya kan?


Thomas terus berpikir, dan kesimpulannya dia merasa mereka berdua tidak saling kenal, sehingga Jenika menggunakan nada bicara seperti itu.


Seperti pria yang berdiri di puncak dunia…


Kalau dia sampai tidak masuk hitungan, maka dia sungguh tidak tahu siapa lagi yang pantas berada di posisi itu.


Bagaimana pun dia adalah pewaris Levian Group!


Hans dan temannya melihat Thomas pergi, dia ingin menyapa namun ragu.


Pemuda yang mengenali Thomas berkata, “Kak Hans, sana! Bukankah kamu dan Direksi kehormatan kita kawan baik!”


Jayden juga berkata, “Kak Hans, kejadian hari itu gue belum minta maaf sama Thomas, kalau lu gak maju kita mana berani maju.”


Setelah mengetahui siapa Thomas, lalu mengingat apa yang dia katakan hari itu, pada saat bersamaan mereka merasa begitu malu, dan tentu saja mereka mengkhawatirkan masa depan mereka.


Dia adalah konglomerat yang menyumbang 2,2 Triliun untuk Universitas Trijaya!

__ADS_1


Hans merasa begitu ragu.


Sampai sekarang dia masih tidak sanggup percaya kenyataan bahwa Thomas menjadi kaya mendadak.


Ditambah lagi melihat Thomas yang pergi menjauh, membuatnya semakin ragu.


Seseorang kawan yang putus sekolah di awal kuliahnya, hidup hemat demi keluarganya, sekarang malah berbalik dengan indah menjadi seorang sultan.


Apakah dia masih kenal siapa dirinya?


“Sudahlah, lain kali saja, kelihatannya Thomas masih ada urusan, kita jangan mengganggunya.” Ucap Hans sambil menggeleng.


Teman-teman yang mengenali Thomas merasa tidak senang mendengar ini, tentu saja mereka tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Hans.


Sehingga mereka langsung memanggil dengan lantang, “Thomas! Kak Hans mencarimu, bisa ngobrol sebentar gak?”


Langkah Thomas terhenti dan segera menoleh, ketika menoleh dia mendapati Hans dan beberapa teman kuliahnya.


Dia hanya tersenyum dan menyuruh Dimas menyiapkan mobil terlebih dahulu.


Terhadap Hans sudah tidak diragukan lagi, dia ramah dan sangat setia kawan.


Dulu ketika Thomas miskin, dia takut berhutang budi pada orang lain, sekarang berbeda, sekarang adalah saatnya dia membalas kebaikan Hans.


Meskipun budi adalah hal yang tidak terlihat dan tidak bisa disentuh, namun sangatlah nyata, misalnya Hans yang begitu memperhatikan masalah yang dihadapi Thomas, meskipun Thomas tidak bersedia, namun hutang budi ini sudah terbentuk.


Dimas menerima perintah dan langsung pergi, sementara Thomas berbalik dan berjalan ke arah kelima orang yang berdiri tidak jauh dari sana.


“Woi! Kenapa masih bengong aja, Direksi Kehormatan kita mendekat dengan sendirinya, kita harusnya nyamperin!”


Setelah mendengar ucapan ini, mereka berlima langsung mendekat dengan antusias.


Thomas tersenyum dan berkata, “Kak Hans, ada apa?”


“Oh, itu, begini…” setelah tercengang sesaat, dia berkata sambil terkekeh canggung, “Kamu ini kurang setia kawan, ketika itu aku booking ruangan, tapi kamu malah gak dateng, malam ini kamu senggang gak? Kalau senggang aku traktir makan!”


“Iya benar, biar aku yang bayar!” Jayden segera menyela.


“Malam ini? tidak bisa.”


Thomas mengerutkan alisnya, malam ini dia benar-benar tidak bisa, karena ini saja sudah jam 2 siang, belum lagi pergi ke villa, setelah pulang masih harus bersiap-siap.


Tujuannya menemui Jenika kali ini, selain ingin menemuinya, dia masih punya satu alasan lain lagi, yaitu ingin pindah secepatnya.


Situasi sekarang sudah memungkinkan, dia tidak ingin membiarkan Silvia tinggal lebih lama lagi di rumah reot itu.


“Tetapi… aku senggang besok malam, besok malam jam 7, aku yang traktir.” Ucap Thomas sambil tersenyum.


Awalnya Thomas mengatakan dia tidak sempat, namun mereka berlima langsung terlihat begitu kecewa.


Sehingga Thomas memutuskan untuk berubah pikiran, dan ini membuat mereka langsung bersemangat.


“Mana boleh begitu, biar tetap gue yang traktir!” Jayden menepuk dadanya dan berkata dengan bersemangat.


“Sudahlah, hanya makan saja, aku yang traktir, besok malam jam 7, kita janjian bertemu di depan Restoran Tasty ya. Aku masih ada urusan lain, aku pergi dulu.”


“Apa? Restoran Tasty?” Jayden sempat terkejut, namun setelah dia pikir-pikir lagi ini tidak seberapa, satu ruang biasa saja cuma 2 jutaan, satu kali makan paling banyak menghabiskan 10 juta, dia masih sanggup mentraktirnya.

__ADS_1


Setelah mengatakannya, Thomas hanya mengangguk lalu berbalik dan pergi.


Karena Thomas melihat mobilnya sudah perlahan mendekat.


Setelah acara berakhir, tiba saatnya acara bebas para mahasiswa.


Dan rombongan Hans yang mengobrol dengan Thomas tentu saja terlihat oleh para mahasiswa.


Dua orang diantara mereka mendekat dan bertanya dengan berani, “Kak, Kak, apa yang kalian bicarakan dengan Direksi Kehormatan?”


Kawan Hans berkata dengan bangga, “Hehe, kami mengajak Direksi Kehormatan makan bersama…”


“Apa? Benarkah?”


“OMG, kalian punya hubungan apa dengan Direksi Kehormatan?”


......


Kabar mengenai kelima mahasiswa tahun ketiga Universitas Trijaya mengajak Direksi Kehormatan makan malam besok malam langsung tersebar ke seluruh universitas bagaikan angin yang berhembus kencang.


Thomas naik ke atas mobil, lalu King Kalman bergerak menuju ke gerbang Timur.


Ketika mobil melewati gerbang, tiba-tiba muncul seseorang dari pos satpam.


“Thomas! Thomas! Ada yang ingin kubicarakan denganmu!”


Orang yang menghadang mobil tentu saja Kimberly yang sudah menunggu lama disana.


Tadinya Thomas ingin mengabaikannya, hanya saja dia menghadang jalan mobil, sehingga Thomas mau tidak mau membuka jendela  mobil dan bertanya dengan alis mengkerut, “Ada apa?”


“Thomas, begini,  kakekku…”


Kimberly belum menyelesaikan ucapannya, Thomas sudah mengibaskan tangannya dengan senyum dingin, “Kalau begitu gak usah ngomong, ini hal gampang, kalau lu pergi mengaku salah dan meminta maaf pada Freya, gue bisa saja membantu kakek lu agar tidak masuk penjara, pikirkanlah baik-baik!”


“Apa? Lu mau gue minta maaf?” Kimberly tercengang, dia tidak menyangka Thomas akan meminta hal ini sebagai syarat.


Kalau dia sampai menundukkan kepala meminta maaf pada Freya yang rendahan itu, maka bagaimana nasib dia di kampus kedepannya, mau taruh dimana harga dirinya!


Sebelum dia terbangun dari pikirannya, jendela mobil Thomas sudah tertutup.


Sebenarnya, sebelum acara bubar, Junaedi dan Luhut sudah mendiskusikan masalah Wedy dengan Thomas.


Dan pandangan mereka berdua sama, bagaimana pun Wedy sudah berdedikasi di dunia pendidikan.


Lebih baik cabut saja jabatannya, di usianya yang senja, kalau sampai masuk penjara, maka pasti akan berakhir mengenaskan.


Thomas juga merasa tidak pantas berlebihan, sehingga langsung menyetujui saran ini.


Jadi kalau Kimberly mengkhawatirkan Wedy akan dipenjara atau tidak, ini sama sekali tidak perlu dikhawatirkan, namun kalau ingin membiarkan Wedy tetap menjabat di posisinya, ini adalah hal yang mustahil.


Mobil King Kalman baru sampai di persimpangan jalan.


Ponsel Thomas tiba-tiba berdering.


Saat ini Thomas sedang pusing memikirkan apa yang harus dia katakan pada Jenika setibanya di villa, namun ponselnya sudah berdering.


Dia menekan tombol jawab tanpa melihat siapa yang menelepon.

__ADS_1


Dan yang terdengar berikutnya adalah suara tangis Wanda.


“Huhu, Thomas, aku tidak mau hidup lagi… aku mau mati saja, jangan temui aku, sekarang aku berada di depan jendela Hotel Tasty kamar 1345, aku mau melompat saja, huhuhu, jangan menemuiku…”


__ADS_2