Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 99


__ADS_3

Markus diam, dia mendengarkan cerita Jacquin dengan tenang.


Dalam matanya, penuh dengan sorot mata yang begitu dingin.


“Kak, kalau bukan karena Ivan beruntung, dia pasti sudah mati, kamu harus menegakkan keadilan untuknya…”


Jacquin bersikap begitu manja, sama sekali tidak terlihat sikap galak yang biasa dia perlihatkan pada Adrian.


Melihat Markus tetap diam, Jacquin merangkulnya lebih erat lagi, tubuh yang begitu matang dan menggoda perlahan menggesek tubuh Markus.


“Kak, Ivan adalah putra kandungmu, kalau kamu tidak turun tangan, masa mau tunggu si Adrian tidak berguna itu? Huhuhu… nasibku jelek sekali…”


“Sudah, sudah, Quin, aku pasti akan menyelesaikan masalah ini, bukankah aku sekarang sedang memikirkan caranya.” setelah Markus menenangkannya, dia menyeringai, “Berani menyentuh orangku? Aku ingin lihat, siapa yang memberikan nyali itu pada mereka… Santo, mungkin bagi orang lain kamu bagaikan seorang dewa rejeki, namun bagiku, dia tidak lebih hanya seekor ulat busuk!”


“Quin, lain kali kamu tidak boleh menyebut Adrian manusia tidak berguna di hadapannya, masih ada Winda. Kita masih butuh mereka berdua untuk menghasilkan uang, setelah mereka tidak berguna lagi, kita tinggal membiarkan mereka berkumpul di neraka. Beberapa tahun ini Adrian kurang patuh, aku rasa waktunya sudah hampir tiba, dan kamu tidak perlu menderita lagi…”


Di bawah serangan ucapan manis Markus, Jacquin meringkuk manja dan mengangguk.


Hasrat kembali tersulut, dia tiba-tiba berbalik dan tubuhnya yang putih bersih menunggang tubuh berkulit eksotis yang gagah dibawahnya…


......


Sebastian yang mabuk berat, dibuang oleh Hans dan yang lainnya ke dalam kolam.


Setelah berusaha keras akhirnya dia berhasil merangkak ke luar kolam.


Mabuknya sudah sudah hilang sebagian, dia juga muntah cukup banyak. Tapi, selanjutnya dia diseret untuk minum lagi.


Akibatnya, sekali lagi dia mabuk.


Begitu Thomas masuk ke dalam ruangan, langsung melihat mereka yang sudah mabuk tidak karuan.


Yang tersisa hanya Freya yang sedang makan, makanan satu meja hampir habis tergulung angin topan.


“Jago makan juga!”


Thomas menghela, untungnya dia kaya, kalau tidak jual darah juga tidak cukup untuk memberi makan Freya.


“Kelihatannya makanan Tasty sangat sesuai dengan seleramu.”


Freya menggeleng dan berkata, “Dibandingkan dengan makanan Tante Silvia, rasanya masih kurang sedikit..”


“Hm, memang iya.” Thomas tersenyum.


Dia tahu Freya tidak berniat melebih-lebihkan, kenyataannya memang begitu, makanan yang dibuat oleh Silvia ada rasa special, yaitu rasa kekeluargaan.


Meskipun makanan yang disajikan Tasty sangat mewah, menggunakan bahan premium, memiliki rasa dan aroma yang nikmat, namun tetap saja tidak ada rasa kekeluargaan.


Namun Freya langsung menyadari ada yang salah, dia menundukkan kepala dengan canggung, “Aku kehilangan kendali dan makan agak banyak, kamu belum makan ya?”


“Tidak apa, aku tidak lapar, kamu makan saja.” ucap Thomas.


Freya yang dulu sama sekali tidak seperti ini, makan bagaikan ada black hole dalam perutnya, seolah hari esok tidak akan ada makanan lagi.


Thomas tahu kesulitan dan juga penderitaan yang dia alami, di dunia ini ada banyak hal yang tidak akan bisa kita pahami sakitnya jika tidak kita alami sendiri.


Pada saat bersamaan, Thomas sangat menyayangkan dan juga memiliki sebuah rencana, dia ingin mencari waktu, meminta Haris memeriksa Freya.


Porsi makannya yang begitu menakutkan belum tentu penyakit, dan porsi makan Freya membuatnya khawatir.

__ADS_1


Setelah Freya selesai makan, Thomas mengirimkan pesan pada Hans dan yang lainnya, dia pulang dulu, meminta yang lainnya pulang ke kampus setelah sadar dari mabuk.


Lalu mereka berdua pergi meninggalkan Tasty.


......


Wanda ditampar oleh Martin.


Membuatnya begitu shock, sebesar ini dia belum pernah dipukuli.


Namun tamparan ini juga menyadarkannya.


Martin yang sekarang sudah terjerumus, Milan juga memutuskan untuk tetap tinggal setelah diajak oleh Martin.


Sehingga Wanda memutuskan untuk pergi dari rumah.


Suami-istri Keluarga Ningrat memutuskan untuk tetap tinggal, dia juga punya alasannya sendiri untuk tidak meninggalkan tempat ini.


Kalau dia pergi begitu saja, maka kuliahnya akan terbengkalai, dan jika dia tetap tinggal di rumah itu, hanya akan membuatnya semakin tidak tahu harus bagaimana menghadapi Thomas.


Dia menarik koper yang begitu berat dan menggendong sebuah ransel. Lalu memanggil sebuah taksi dan datang ke depan villa Thomas pada jam 10 malam.


Wanda begitu bimbang.


Sampai ada cahaya lampu mobil yang silau muncul, dan membuatnya tiba-tiba sadar.


Begitu malam masih ada mobil di pegunungan, selain Thomas, Wanda tidak bisa menebak ada orang lain lagi.


Dengan perasaan panik dan menarik koper. Dia bersembunyi di semak yang ada di pinggir jalan, namun dia sama sekali tidak menyangka di balik semak ada sebuah saluran air dengan kedalaman sekitar 1 meter.


Dia hanya sempat menjerit lemah lalu terjatuh ke dalamnya.


Supir menginjak rem.


Jendela mobil terbuka, Thomas menoleh ke luar.


“Ada apa?” tanya Freya.


Thomas melihat dengan wajah heran, lalu berkata sambil menggaruk kepalanya, “Sepertinya aku mendengar ada orang yang terjatuh ke dalam saluran air… mungkin pengemis.”


Lalu Thomas turun dari mobil dan masuk ke dalam villa bersama Freya.


Setelah beberapa menit berlalu, sesosok tubuh yang basah kuyup berjalan keluar dari semak-semak, orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Wanda Ningrat.


Dia menatap lampu villa Keluarga Widjaja yang menyala, teringat pada ucapan yang tadi Thomas katakan. Dia tersenyum dengan perih, menyeret kopernya dan berjalan dengan pincang turun dari gunung.


Setelah pulang, Thomas mandi lalu tidur, ketika bangun sudah jam delapan pagi.


Freya dan Luna sudah kembali ke kampus.


Dimas yang mengantarkan mereka.


Setelah sarapan, Thomas keluar dari villa dengan alasan mau lari pagi, lalu berjalan ke puncak gunung.


Sebenarnya dia memang sedang lari pagi, namun pada saat berlari dia mengamati energi murni yang ada dalam tubuhnya.


Dia mendapati energi murni dalam tubuhnya tanpa terasa menjadi jauh lebih besar.


Hampir memenuhi meridiannya.

__ADS_1


Berdasarkan pada apa yang Dimas katakan, jika energi murni meridiannya ingin mencapai batas tertentu, paling tidak membutuhkan waktu setengah tahun, lalu melebarkan wadah energi sebisa mungkin untuk menampung energi murni dalam dirinya.


Oleh karena itu dia mengajari Thomas trik rahasia melebarkan wadah energi.


Dia sudah mencobanya.


Namun wadah energinya yang hanya sebesar kacang itu sama sekali tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan.


Sementara meridiannya bahkan hanya sebesar setengah ukuran tusuk gigi saja…


Ketika energi murni mengalir melewatinya, membuatnya merasakan nyeri, dia tahu dia tidak bisa melanjutkan latihannya lagi, Dimas juga mengatakan ini.


Kalau tidak meridiannya akan meledak dan membuat energi murni kehilangan kendali, dan efek paling ringannya adalah lumpuh.


Efek yang paling parah yaitu meninggal dengan darah menyembur di ketujuh titik.


Ini juga kegagalan fatal yang melegenda dalam latihan tenaga dalam.


Dia berlari mengelilingi puncak gunung, dadanya terasa berat.


Bukan karena hal lain, melainkan karena merasa tertekan.


Karena dipancing oleh Jenika, dia pernah berkata kalau dia akan menjadi pria yang berdiri dipuncak dunia, dan kenyataan yang kejam malah memberitahunya.


Dia hanya seorang pria tidak berguna yang memiliki keterbatasan!


Keturunan clan tertinggi , begitu lahir meridian dan juga wadah energinya akan langsung diperluas oleh petinggi clan mereka dengan berbagai cara, biasanya sebelum usia delapan tahun fondasinya sudah berhasil terbentuk.


Meridian juga sudah lebih awal beradaptasi dengan keberadaan energi murni, kelenturan yang dimiliki sama sekali tidak bisa dibandingkan oleh Thomas  yang baru muncul sekarang.


Sama seperti seorang bayi yang bisa melakukan split dengan mudahnya, sementara bagi orang tua yang sudah berusia 80 tahun 90 tahun, ingin melakukan split itu merupakan sebuah hal yang tidak mungkin dilakukan.


Meridian berbeda dengan ligament, jika tidak dikembangkan, maka akan mulai mengeras juga menyusut setelah dewasa, lebih jangan harap bisa melebar.


Bisa bertahan di tahap Thomas sekarang saja sudah sangat lumayan.


Bagaikan anak kecil, seberapa lelahnya mereka akan bisa dengan cepat kembali pulih, begitu orang tua merasa lelah, maka akan terengah-engah setengah harian.


Ini adalah perbandingan ketika meridian menyusut dan tersumbat.


Namun Thomas tidak percaya dengan semua itu, ini juga karena dia terpancing oleh ucapan Jenika.


Dia naik ke puncak gunung dan duduk bersila.


Setelah dipikir-pikir, dia merasa berbaring jauh lebih nyaman.


Lalu menggerakkan energi murninya, memusatkan energi dalam dirinya, membuatnya menjadi bagian dari energi murni.


Waktu berlalu perlahan, dan matahari juga perlahan naik.


Karena panas, keringat mulai keluar dari pori-pori kulit Thomas, namun dia tetap tertidur pulas dan tidak bergerak sama sekali.


Tiba-tiba.


Thomas seperti tersengat listrik, sekujur tubuhnya gemetar, dan pada saat bersamaan kedua matanya terbelalak dengan besar dan penuh ketakutan.


Kedua matanya memerah tampak sangat menakutkan, seolah matanya habis terkena sesuatu.


Ini karena dia memaksakan diri untuk mengalirkan energi murni yang sudah penuh, sehingga meridian mulai retak dan membuat pendarahan dalam tubuhnya.

__ADS_1


Setelahnya terdengar “Pfffhhh”, darah segar yang begitu menakutkan tersembur dari mulutnya dan membasahi bebatuan.


__ADS_2