
Seorang pelayan wanita menoleh dengan wajah terkejut. “Tuan Widjaja, perlukah saya memberitahu bos?”
Thomas menatap rombong Ivan yang masuk bagaikan preman dengan tatapan yang dingin, kemudian melirik ke arah Dimas, lalu mengatakan kata tidak usah dengan datar.
Dia tahu jelas, karena datang untuk mencari masalah, meskipun dia ingin menghindar juga tidak akan bisa menghindar semudah itu. Meskipun sekarang tidak bertemu, mereka tetap akan bertemu di depan Restoran Tasty. Maka lebih baik sekalian saja dibicarakan secara terang-terangan sekarang.
“Aduh! Tuan Widjaja, masih sedang makan rupanya!” Meskipun Ivan mengatakan ucapan yang terdengar penuh hormat, namun nada bicaranya terdengar penuh dengan nada sinis.
“Huh! Dasar miskin, mungkin seumur hidupnya belum pernah makan makanan semewah ini, tentu saja harus dimakan sampai bersih!” ucap Milan dengan nada yang begitu merendahkan.
Terutama ketika dia melihat meja makan ini penuh dengan makanan enak yang belum di sentuh, nada bicaranya terdengar semakin pedas.
Ketiga orang ini makan belasan macam makanan? Dasar Thomas kurang ajar, atas dasar apa dia makan jauh lebih enak daripada Tuan Chandra?
Ivan menarik Wanda dan duduk di samping Thomas, lalu berkata dengan senyuman puas, “Aku sedang berpikir, karena Tuan Widjaja sedang berada di ruang VVIP 1, maka aku datang untuk bersulang dengan Anda terlebih dahulu, Tuan Widjaja tidak keberatan iya kan?”
Thomas tidak mengatakan apa pun, hanya melirik Ivan dengan datar.
Mungkin sebelumnya dia sempat merasa rendah diri saat berhadapan dengan Ivan. Namun ketika dia tahu dirinya adalah cucu Chandi Levian, rasa rendah diri itu seketika lenyap.
Iva yang sekarang ada dihadapannya hanyalah seorang badut yang merasa dirinya sangat hebat. Meskipun Bright Property merupakan perusahaan besar, namun sama sekali tidak sebanding dengan Levian group.
Thomas diam, dan ini membuat senyum Ivan semakin lebar. Dia merasa Ivan sedang mengalah padanya. Setelah dia pikir lagi ada benarnya juga, Tuan muda Chandra Kota Jakarta adalah seorang tokoh hebat yang sangat berkuasa. Seorang Thomas bisa dianggap apa?
Ivan merasa sangat puas, namun senyumnya langsung terhenti digantikan dengan wajah terkejut, “Hei? Lafite? Sepertinya Tuan Widjaja ini sungguh royal!”
Setelah mengatakannya, dia mengambil botol wine dan sebuah gelas, lalu menuangkan segelas wine untuk dirinya sendiri.
Karena gerakannya yang sangat asal, sehingga ada wine yang tumpah. Thomas melihat ini dengan hati yang begitu sakit, yang disia-siakan ini paling tidak belasan juta!
“Mari, Tuan Widjaja, ayo kita bersulang!”
Thomas tetap mengabaikannya, dia tahu kemampuan minum dia sampai mana. Dulu, dia pernah minum 4 gelas, meskipun hanya gelas kecil, namun dia sudah mabuk berat.
__ADS_1
Ivan melihat Thomas tidak menanggapinya, hanya berkata dengan senyum yang dipaksakan, “Oh iya benar, ini adalah salahku, aku datang terlambat sehingga aku minum 3 gelas terlebih dahulu sebagai hukuman!”
“Ivan, apakah kamu tahu berapa harga sebotol wine ini?” Thomas akhirnya tidak tahan lagi, orang ini jelas datang untuk makan dan minum gratis!
“Hehe, Tuan Widjaja, kalau mendengar maksud ucapanmu, apakah sekarang Anda merasa tidak rela aku meminumnya?” Ivan kembali tersenyum, orang miskin memang orang miskin, meskipun terlihat begitu royal, namun sikap pelit sudah mendarah daging, dan selamanya tidak akan bisa diperbaiki.
“Bukankah hanya sebotol wine? Kalau Tuan Widjaja tidak rela…” Ivan melihat isi yang ada di atas meja dan berkata tanpa ragu, “Malam ini, aku yang traktir!”
Tatapannya tadi menunjukkan bahwa, meskipun biaya yang harus dikeluarkan untuk makan di Restoran Tasty ini sangat tinggi, meskipun di meja ini ada 30 macam makanan, dan harga setiap makanan seharga 4 juta, totalnya hanya 120 juta.
Ditambah dengan Lafite yang kelihatannya memiliki tahun yang cukup tua ini, biaya sewa ruangan, biaya service, semuanya dijumlahkan paling mahal sekitar 400 juta! Dia Tuan muda Keluarga Chandra masih mampu membayarnya.
Dan alasan dia melakukan hal ini ada tiga.
Pertama, dia ingin menekan Thomas dengan kuat.
Kedua, di hadapan Keluarga Ningrat, dia harus menunjukkan seberapa kaya Keluarga Chandra.
Ketiga, sebelumnya sempat terjadi hal yang tidak mengenakkan, dan perbuatannya ini kebetulan bisa memperlihatkan kehebatannya, dan dia juga bisa menjaga martabat Bright Property!
“Apa? Kamu yang traktir?” Thomas membelalakkan matanya.
“Benar, orang yang aku bawa banyak, biar aku yang traktir!” ivan menoleh dan berkata pada belasan orang di belakangnya, “Ayo duduk, tadi kita tidak makan dengan puas, maka sekarang kita makan di sini!”
Begitu Thomas mendengarnya, dia langsung merasa lega, namun dia tidak lupa mengingatkan, “Ivan, kamu yang mengatakan akan mentraktir loh ya!”
“Tentu saja aku yang mengatakannya, mungkinkah seorang Tuan muda Keluarga Chandra seperti diriku menyesali ucapanku?”
Ivan tersenyum dingin dengan sinis, dalam hati berkata: orang miskin memang orang miskin, mana mungkin dia memahami kehebatan seorang Tuan muda Keluarga Chandra?
Sehingga semua orang duduk, mereka mulai makan dan minum dengan senang.
Orang-orang ini tidak hentinya menjilat Ivan, sementara Ivan sendiri juga sudah melambung tinggi sampai ke awan, tatapan matanya kepada Thomas juga terlihat begitu meremehkan.
__ADS_1
Ivan mengangguk dengan sombong, namun dia segera menyadari ada yang tidak beres, “Eh? Ada begitu banyak orang mana mungkin cukup satu botol wine? Pelayan, di mana pelayannya?”
Dia menoleh dan melihat ada seorang pelayan yang berdiri di belakang Thomas dengan dua botol Lafite di tangannya.
“Iya benar! Kamu, bawa winenya kemari!” Ivan melambaikan tangannya dengan keras.
“Tuan Widjaja, ini, bos kami menyuruhku untuk…” Pelayan wanita itu terlihat begitu berat hati.
Karena dia tahu persis berapa harga kedua botol wine ini, karena Santo baru saja memberitahunya.
“Tidak apa, karena Tuan Ivan mengatakan dia yang ingin mentraktir, maka ketiga botol wine ini juga semua makanan di meja ini hitung ke bill Tuan Chandra.” ucap Thomas dengan senyum ramah.
Thomas tidak pernah ingin berutang budi pada siapa pun. Makan malam mewah ini pada dasarnya memang ditraktir oleh Santo, membuat Thomas merasa sangat tidak nyaman. Namun sekarang situasi berbeda, tiba-tiba muncul seorang pria bodoh yang mengatakan ingin mentraktir. Maka Thomas tidak lagi merasa keberatan menerima semua ini.
Ivan ini jelas-jelas datang untuk mencari masalah, dan begitu duduk langsung meminum begitu banyak Lafite, bahkan memanggil begitu banyak orang untuk menyerbu makanan. Kalau bukan dia yang mentraktir, siapa lagi yang mentraktir?
Duo botol Lafite dibuka. Seketika aroma wina yang begitu harum memenuhi ruangan, Martin juga ikut berseru, “Wine yang bagus!”
Sehingga… Thomas, Luna, juga Dimas hanya duduk diam melihat belasan orang ini menyerbu makanan dan juga minuman yang ada di sana.
Setelah setengah jam berlalu. Thomas merasa tidak seru, sehingga berniat bangkit berdiri dan pergi dari sana, dia sudah melihat dengan jelas, Ivan sedang berniat memperlihatkan kehebatannya.
Kalau dia tetap berada di sini, itu sama sekali tidak diperlukan. Tepat pada saat ini, seorang pelayan kembali menghampiri Thomas.
“Tuan Widjaja, di luar ada dua orang yang datang untuk bertemu dengan Anda…”
“Eh? Siapa?” Thomas terkejut. Orang yang dia kenal bisa dihitung hanya dengan jari tangan, apalagi tempat mewah seperti ini.
“Dia mengatakan kalau namanya Jony.”
“Jony? Nama ini tidak asing, ya sudah, suruh dia masuk.” Dalam hati Thomas berpikir, orang yang perlu dan tidak perlu ditemui saja sudah di sini semuanya, dia tidak masalah bertemu dua orang lagi.
Pelayan mengangguk dan berbalik. Sesaat setelahnya, dia membawa dua orang masuk.
__ADS_1
Begitu Thomas melihatnya, dia langsung ingin, satu orang di antara mereka adalah orang yang baru saja dia kenal. Bukankah dia adalah manager bank yang dia temui ketika ingin mentransfer uang? Iya, namanya memang benar Jony. Namun di belakangnya ada seorang pria berambut putih berusia 50 tahunan, dan Thomas belum pernah melihat orang ini sebelumnya.
“Ah! Tuan Thomas! Kebetulan sekali bisa bertemu di sini!” Jony langsung memasang senyum yang begitu cerah lalu berlari kecil sambil menunduk.