Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 93 Ini butuh status setinggi apa!


__ADS_3

Thomas membawa Freya ke Restoran Tasty.


Baru turun dari mobil.


Dia langsung melihat Hans dan yang lainnya sedang berdiri di depan pintu Tasty sambil celingukan.


Keluarga mereka bisa dikatakan menengah.


Dan keluarga menengah yang paling lumayan adalah keluarga Jayden Chao.


Namun tempat berkelas seperti ini, baru pertama kali mereka datangi.


Tasty memiliki ruang VIP seharga 2 jutaan, sekali makan paling tidak juga jutaan.


Daaaan…


Menghabiskan uang beberapa juta di restoran paling berkelas sama sekali tidak keren.


Sehingga bagi yang keuangannya belum mapan, sama sekali tidak cocok ke tempat ini.......


Mereka sudah menunggu sekitar setengah jam.


“Gawat, Kak Hans, ini sudah hampir jam 7, jangan-jangan Thomas tidak datang!”


Wajah Hans terlihat begitu kesal dan berkata, “Steve, lu bisa diem dulu gak?”


Steve adalah mahasiswa yang mengenali Thomas ketika itu.


Mendengar sentakan Hans, dia langsung diam.


Dalam hati Hans merasa ragu, karena ini bukan yang pertama kalinya, sebenarnya dia tidak masalah, namun yang diundang oleh Thomas bukan hanya dia, malam ini dia membawa 4 orang lagi.


Dan tepat pada saat ini, dia melihat Thomas dan Freya.


“Tuh lihat! Udah datang kan!”


Hans langsung tertawa.


“Eh, beneran Direksi Kehormatan!” Steve berseru dengan penuh semangat juga.


Sebenarnya dia sama sekali tidak merasa makan di Tasty adalah hal yang begitu mengagumkan.


Dan Thomas adalah seorang anak sultan, bukankah dua hari yang lalu dia baru saja mendonasikan uang 2,2 triliun untuk Universitas Trijaya?


Satu tahun lagi mereka akan lulus kuliah, dan itu artinya mereka akan masuk dunia kerja yang sebenarnya, kalau bisa berkenalan dengan Thomas, maka masa depan mereka sudah pasti cemerlang.


“Ayo, kita masuk ke dalam.”


Thomas menyapa dengan wajah tersenyum, dia membawa Hans dan yang lainnya masuk ke lobi lantai 1 Tasty.


“Aaaa… Tuan muda Thomas, Anda datang lagi? Sungguh sebuah kehormatan.”


Begitu manager resto melihat Thomas, dia langsung menghampiri dengan berlari kecil.


“Hm, iya, kalau Kak Santo sedang sibuk, jangan mengabarinya, kami akan pergi setelah makan.” Ucap Thomas.


“Maksud Anda bos kami? Kebetulan dua hari ini beliau ada dinas jadi tidak ada.”


“Hm, begitu rupanya.” Thomas mengangguk.


Thomas selalu merasa berhutang pada Santo.


Mengenai hal lainnya tidak ada yang bisa dibicarakan.

__ADS_1


Seperti yang sebelumnya, dia mengajak Martin datang untuk membicarakan masalah kerja sama, jelas malam itu Santo masih ada urusan lain, namun malah tetap menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya.


Tidak mungkin kan setiap kali dia datang ke tempat ini Santo yang menemaninya, Thomas merasa dia belum sampai tahap sehebat itu.


Manager restoran menjawab sambil membungkuk lalu mengantarkan Thomas dan rombongannya ke dalam lift.


Kemudian dia kembali ke meja resepsionis dan segera menelpon Santo.


Lift naik perlahan.


Jayden terus memperhatikan, sampai pintu lift terbuka, membuatnya menelan ludah tanpa sadar, lantai 30…


Awalnya dia berencana mentraktir semuanya malam ini.


Meskipun harus mengeluarkan uang yang banyak dia juga rela, cuma makan doang kan?


Tapi, Thomas malah membawa mereka ke lantai 30…


Dia tidak pernah datang ke tempat ini, namun bukan berarti ayahnya tidak pernah kesini, kabarnya lantai 30 adalah lantai termahal di tempat ini…


Satu malam bisa menghabiskan puluhan sampai ratusan juta, dan itu sudah sangat biasa.


Uang yang dia miliki sekaran, hanya ada 40 jutaan…


Kejadian King Kalman Thomas menggilas NSX milik Ivan Chandra tersebar luas di kampus, namun beritanya lebih dominan ke sisi negative.


Mengenai Thomas datang ke Tasty dan membayar bill Ivan sebesar 3,2 miliar sama sekali tidak tersebar.


Perhatian yang lainnya malah terpusat pada mobil mewah yang tergilas, Ivan merebut kekasih orang, dan juga gosip murahan lainnya.


Kalau Jayden tahu kejadian itu, mungkin dia tidak akan berani berpikir untuk mentraktir.


“Gak apa - apa, gue makan disini gak usah bayar kok.” Ucap Thomas sambil tersenyum.


Kenyataannya, kalau dia tetap bersikeras ingin membayar billnya, bukan hanya tidak ada yang berani menerima uangnya, dia juga akan menyinggung Santo.


Terkadang terlalu sungkan sama dengan tidak menerima niat baik orang lain.


Cara yang paling bijak adalah sering datang berkunjung, kalau kelak Santo ada masalah, dia tinggal membantunya, itu saja cukup.


Namun ucapan Thomas ini malah terdengar berbeda di telinga Hans dan yang lainnya, Thomas makan di Tasty tidak perlu bayar!


Siapa yang berani percaya?


Beberapa lantai paling atas adalah tempat yang biasa didatangi oleh pejabat dan konglomerat.


Mereka saja harus bayar loh!


Ini butuh status setinggi apa!


Ketika Thomas membawa mereka ke ruang VVIP1, Jayden langsung menarik nafas dalam-dalam.


Baiklah, sepertinya niatnya untuk mentraktir malam ini, lupakan saja ya…


Begitu masuk, bola mata mereka hampir menggelinding karena terkejut, ini mewahnya sudah kebangetan!


“Katanya Tasty itu hotel bintang 3, gile! Apanya yang bintang 3? Ini lebih cocok disebut bintang 5!” Steve begitu terpukau.


“Tutup mulut lu, kesannya kita kayak norak banget!”


Melihat dua orang pelayan wanita yang memimpin jalan mereka, wajah Jayden sudah merah merona.


“Ternyata memang beda ya, sampai pelayan wanita aja begitu anggun!”

__ADS_1


Hans sekali lagi tersentak kaget, dia begitu terkejut dengan mewahnya ruang VVIP ini, dan dia lebih terkejut dengan perkembangan Thomas yang begitu pesat, membuatnya begitu bangga pada Thomas.


Dia bergumam dan berkata, “Ckck, ruangan ini saja sudah berapa duit!”


Saat itu mereka baru berjalan mendekati meja bundar.


Seorang pelayan langsung berkata dengan wajah tersenyum, “Tuan, minimum spend 400 juta, dan enggak ada batas maksimalnya.”


“… Whattt!” Hans sekali lagi dibuat terkejut, dia segera berkata, “Thomas, mending kita ganti resto lain aja?”


“Tuan, Anda tidak perlu khawatir, free khusus untuk Tuan muda Thomas, bos kami sudah berpesan, ruangan ini hanya khusus untuk digunakan Tuan muda Thomas, tidak akan dibuka untuk umum lagi.”


......


“Whatt… gila!”


Steve berseru dengan kaget, mewakili jeritan hati Hans dan yang lainnya.


Status macam apa ini sebenarnya, bisa sampai sehebat itu!


Makanan tidak dihidangkan dengan cepat.


Sehingga selain Thomas dan Freya yang masih duduk di meja, yang lainnya sudah sibuk berkeliling dan melihat-lihat, ada begitu fasilitas hiburan, cukup untuk dimainkan oleh mereka.


Pada saat bersamaan mereka juga mengambil beberapa foto untuk dipamerkan nantinya.


“Freya, apakah kamu benar baik-baik saja?” Tanya Thomas dengan cemas.


Dia mengajak Freya kesini dan tidak mengantarkannya pulang terlebih dahulu, alasan utamanya karena tadi siang dia menikam Ivan.


Mengenai kejadian ini, Thomas tidak ingin ibunya dan Luna tahu.


Sehingga dia ingin menunggu Freya pulih dulu, jadi setelah pulang tidak akan ketahuan.


Freya menggeleng dan tidak berniat bicara.


Melihat hal ini, Thomas juga tidak bisa mengatakan apapun, Freya tidak ingin bicara, dia juga tidak berdaya.


Diam-diam dia menghela nafas, Thomas menoleh melihat kelima temannya.


Namun pada saat ini, pintu terbuka, seorang pemuda yang usianya sebaya dengannya masuk.


Perhatian Thomas langsung teralih ke sana.


Tangan kiri pemuda ini memegang sebuah nampan, di atasnya tertata 4 botol bir yang tertata dengan rapi.


Ekspresi wajahnya tidak terlihat baik, terlihat seperti tidak ikhlas, bagaikan pria yang dipaksa menjual diri.


Dia berjalan ke hadapan Thomas dan meletakkan nampan, setelahnya melirik Thomas dengan tatapan kesal dan ikut duduk di sana.


Membuat Thomas kebingungan melihatnya.


“Kamu…?”


Dia ingat yang mengantarkan bir biasanya pelayan wanita, dan pelayan yang ada di Tasty semuanya wanita.


Lagipula, pemuda ini sama sekali tidak mengenakan seragam Tasty.


Dia melirik Thomas dengan wajah tidak senang dan berkata dengan ketus: “Simple! Nama gue Sebastian Cendana!”


“Cendana?” Thomas tersentak, lalu bertanya, “Kalau begitu Kak Santo…”


Pemuda itu lebih tidak senang lagi, lalu berkata, “Gue kasih tahu ya, jangan sok kenal lu, Santo Cendana itu bokap gue!”

__ADS_1


__ADS_2