kehidupan pahit yang berakir bahagia

kehidupan pahit yang berakir bahagia
12


__ADS_3

Mereka pun memecah suasana hening itu dengan percakapan kecil...


***Vita: woiiii kenapa nie... kok suasananya mencekam... jangan-jangan kita tinggal tadi terjadi sesuatu nie... ( bertanya dengan nada curiga)


Vivi: huuussstttt jangan bikin suasana tambah runyam... ( dia berbicara hati-hati karena Vivi tau sifatku seperti apa )


Tina: ayo lah... kita nie mau senang-senang jangan kayak gini lah....


Dela: kalian yang kenapa? kita gakpapa kok... iya kan Ndra? (sambil menatap wajah hendra yang sedikit sedih )


Hendra: iya nie kalian yang kenapa.... ( dengan senyum terpaksa) nie kita mau kemana sekarang? (tanya Hendra)


Dela: aku mau pulang aja. nie dah sore. dan aku harus siap siap pasang badan. pasti kena tinju maut ini.


Hendra: aku antar depan rumah aja sayang...


Dela: gak usah. didepan gang aja. kalian gak usah mampir. nanti aku bingung buat alasan.


Vita: kali ini kita yang ngikut ma saranmu aja Del***.


Hendra pun memutar mobilnya dan berjalan ke arah menuju rumahku. sepajang jalan pun aku hanya diam. Hendra pun yang biasanya banyak ngomong juga diam. ke 3 sahabatku sibuk berdiskusi masalah buku yang mereka beli tadi. tapi aku gak hiraukan mereka. karna aku masih emosi ma perlakuan hendra tadi.


Akirnya tiba lah didepang gang rumahku. akupun turun dan pamit sama mereka..

__ADS_1


***Dela: Hendra makasi ya dah diantar pulang. besok bajunya aku kembalikan.


Hendra: itu buat kamu...


Dela: aku bukan cewek matre Ndra...


Hendra: kalau gitu buang aja...


Vita: emang jaman sekarang klo pacaran tuh pamitnya harus berantem ya? wah wah wah... gaya pacaran langka nie... ( sambil tertawa kecil )


Dela: dah sai aku pulang dulu. kalian hati hati ya... bye***....


Aku pun mulai memasuki gang diarea rumahku. begitu sampai tanpa beban aku pun masuk dan ucapkan salam... tiba tiba aku kaget karena kepalaku rasanya sakit banget. ternyata seperti dugaanku. rambutku dijambak mamaku... aku hanya bisa tahan sakit dan tangis. tapi aku berusaha terlihat kuat.


Dela: aduh ma sakit... ( sambil meringis )


Mama: dari mana kamu jam segini baru pulang? baju siapa yang kamu pakai? ( tangannya mulai melepaskan jambakan tetapi mulai melayangkan tangannya untuk memukulku )


Dela: aku tadi temenin Vita,Vivi ma Tina beli buku dimall ma. terus mampir makan... ( air mataku mulai menetes )


Mama: kenapa gak pulang dulu? begini kah caramu itu? kayak gak di didik aja.. mau jadi apa kamu... ( dengan nada membentak )


Mamaku pun ambil sapu dan mendaratkan dipaha ku. *Ploookkkk....

__ADS_1


**Mama: kamu ini maunya dihajar terus.. gak bisa betul dikasih tau. ( sambil memukulku pakai sapu sampai patah )


Dela: ampunnn ma.... besok Dela gak ulangi lagi...


Mama: matamu gak diulangi... sering sudah kamu kayak gini... ( mulai memukul lagi menggunakan tangan )


Dela: ini baru sekali ma. biasanya kan langsung pulang***...


Dan mamaku pun ambil sendal diluar. terus dipukulnya lah sendal itu kemulutku. sampai mulutku kebal. dan membengkak... aku pun hanya diam dan pasang badan serta siap menerima semua pukulan pukulan itu.. aku juga merasa bersalah karena aku gak pamit dulu sama mamaku. dan aku hanya berfikir klo ini lah konsekuensinya. jadi aku pun hanya diam seribu bahasa. sembari merasakan badanku yang sakit dipukulin...


Bapakku pun diam saja dikamar. karena dia tau mamaku kalau dipisahkan malah makin menjadi jadi pukulannya..


akirnya setelah mamaku puas pukulin aku,akupun langsung mandi. didalam kamar mandi aku gak bisa tahan semua air mataku


aku menangis sederas derasnya tanpa bersuara. akupun sudah gak ingat kalau aku punya asma. dan kumat lah asmaku dikamar mandi karena menahan tekanan batin dan fisik tadi. pembantuku merasa ada yang janggal. karena aku lama sekali dikamar mandi. lalu dia mengetuk pintu kamar mandiku..


Bule: Dela,,, buka pintunya... kamu sudah 1 jam dikamar mandi...


dan akupun membuka kamar mandinya. betapa terkejutnya bule melihatku sudah pucat dan nafas sengal sengal.


karena dia tau aku ada asma dari kecil. lalu larilah dia ke kamarku ambil obat Oxican.. kemudian dia cepat cepat kasih obat itu ke aku supaya bisa aku hirup oksigennya..


dan akupun diantar ke kamar tidurku.

__ADS_1


aku pun masih menangis sesegukan. sampai akirnya aku ketiduran.


__ADS_2