Kenangan Rindu

Kenangan Rindu
Berkunjung dan Mencari


__ADS_3

"Berhenti kalian di situ!" Teriakkan teman Mas Hanif mengagetkan kami bertiga.


Terlihat orang itu menatap lurus ke arah kami sambil menggerakkan mulutnya seolah-olah sedang merapalkan sebuah doa atau mantra untuk mengusir sesuatu yang tidak terlihat.


"Kenapa Gas?" Teriakkan balasan dari Mas Hanif yang bingung melihat tingkah laku temannya itu.


Namun tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, hanya terlihat matanya yang masih menatap tajam ke arah tempat kami berdiri. Suasana malam yang sunyi semakin menambah kesan mencekam. Sesekali terdengar suara lolongan anjing dari kejauhan. Padahal ini masih belum terlalu larut dan jalanan menuju arah rumah temannya Mas Hanif ini masih sangat ramai dengan segala macam aktivitas manusia di sana. Tapi entah mengapa hanya di tempat ini saja tiba-tiba suasana menjadi terasa sangat menakutkan.


"Alhamdulillah sudah pergi. Ayo sekarang kalian masuk ke dalam dulu." Ajakkan tiba-tiba dari mulut teman Mas Hanif itu mengagetkan kami bertiga.


Kami segera masuk ke dalam rumahnya dengan terburu-buru karena masih merasa takut akibat suasana yang tiba-tiba mencekam seperti tadi. Setelah di dalam rumah, perlahan-lahan keadaan di luar sana kembali normal seperti biasa. Sudah mulai terdengar suara-suara bising kendaraan dan suara langkah kaki warga yang berjalan melintasi depan rumah.


Dari dalam jendela rumah, aku melihat keadaan di luar sana. Lingkungan perumahan yang cukup asri dengan rata-rata bentuk bangunan bertipe 45. Tidak lebih besar dari kompleks rumah ku yang rata-rata berbentuk bangunan tipe 120. Masih terlihat interaksi para warganya yang sedang berbincang-bincang di luar pagar rumahnya masing-masing.


"Ini silahkan di minum dulu." Suara dari tuan rumah mempersilakan kami bertiga untuk meminum teh hangat yang telah di buatnya.


"Terima kasih." Jawab kami bertiga serentak.


"Maaf ya tadi gue sempet bentak kalian di depan. Ada tamu bukannya disuruh masuk malah di omelin suruh diam di tempat, hahahaha."


"Iya gak apa-apa Gas. Emang tadi kenapa? Oh ya Evan, Sarah, kenalin ini namanya Bagas." Mas Hanif memperkenalkan nama temannya itu kepadaku dan Mas Evan.


"Gue Evan, ini adek gue Sarah." Ucap kakakku memperkenalkan dirinya dan juga diriku. Akupun tersenyum kepada Bagas sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan.


Aku melihat suasana di dalam rumah Bagas. Cukup terasa nyaman untuk ukuran seorang lelaki bujang. Bentuk bangunan dalam benar-benar khas perumahan tipe 45 dengan desain minimalis yang di dominasi warna putih abu-abu, semakin menambah kesan maskulin. Tidak banyak perabotan yang terdapat di dalam rumah sehingga semakin menambah kesan luas.


Tanpa ku sadari, ternyata sedari tadi Bagas memperhatikan diriku yang sedang mengamati isi rumahnya.


"Ehem…" suara Mas Hanif mengejutkanku dan juga Bagas.


"Udah saling mengamatinya?" Kata Mas Evan meledekku dan juga Bagas.

__ADS_1


"Siapa ngamatin siapa?" Tanyaku tak mengerti arah pembicaraan Mas Evan.


"Ada tadi kucing tetangga main liat-liatan, hahaha." Jawab Mas Hanif menimpali.


Aku pun hanya bingung dengan tingkah mereka berdua, sementara Bagas hanya tersenyum mendengar ledekan dari Mas Hanif dan juga Mas Evan.


"Gas, tadi di depan kenapa? Kok lu tiba-tiba nyuruh kita bertiga berhenti?" Tanya Mas Hanif kembali.


"Ehm, gue ceritain tapi kalian jangan takut ya." Jawab Bagas sambil memperingati kami terlebih dahulu sebelum dia menceritakan apa yang di lihatnya tadi.


"Iyaaaa." Jawab kami bertiga serempak.


"Jadi gini. Pas tadi habis magrib Hanif telpon gue buat ngabarin kalau mau dateng ke sini, itu posisi gue lagi tiduran di kamar. Nah, pas habis telponan itu, tiba-tiba gue denger di kuping gue ada yang bilang 'jangan ikut campur!'. Suaranya cewek tapi nadanya kayak marah dan ngancem gue, gue kaget dan otomatis nyari siapa itu yang ngomong, tapi gue lihat gak ada siapa-siapa." Kata Bagas menceritakan awal kisahnya.


"Nah terus gue inget belum Sholat Maghrib. Habis sholat, gue doa terus fokus in diri di dalam kamar, nyoba mau buka komunikasi sama yang tadi ngancem gue, tapi gak ada jawaban apa-apa."


"Terus gak lama gue denger ada suara mobil, walaupun belum sampai depan rumah sini tapi gue yakin itu mobilnya Hanif, makannya gue langsung keluar rumah terus nunggu di halaman."


"Ternyata itu bener kalian yang dateng. Tapi anehnya, pertama kali gue liat kalian dan masih di dalam mobil, kalian itu berempat. Dua cowok di depan dua cewek di belakang."


Dengan menarik nafas, Bagas pun melanjutkan kembali ceritanya.


"Sepersekian detik gue kedipin mata, pas gue melek itu cewek di samping Sarah udah ga ada. Gue kaget dan yakin ini pasti ada yang gak beres. Dan ternyata bener, pas kalian bertiga keluar dari mobil, itu cewek tiba-tiba ada di atas mobil posisinya kayak mau nerkam kalian dari belakang tapi matanya liatin gue dengan tatapan nya yang kelihatan banget kalau sedang marah."


Bagas mengakhiri ceritanya dan kembali menatap kami satu persatu. Aku hanya terdiam karena tidak tahu harus menanggapi ceritanya seperti apa, logika ku mengatakan untuk jangan mempercayai nya, tapi hatiku berkata sebaliknya. Ingin rasanya aku mengikuti logika yang aku punya, tapi sekali lagi seolah-olah hatiku berkata 'kalau kamu ga percaya terus ngapain kamu capek-capek dateng ke sini buat minta bantuan?'


"Terus sekarang gimana Gas?" Tanya Mas Hanif memecah keheningan.


"Ada satu cara untuk mencari tahu awalnya dulu kenapa kayak begini, tapi gue minta salah satu dari kalian berdua yang mau ngelakuin sesuatu sama gue." Kata Bagas mencoba memberi solusi sambil menunjuk ke arah Mas Evan dan Mas Hanif.


"Ngelakuin apa?" Tanya Mas Evan.

__ADS_1


"Gue akan lakukan mediasi."


******


Sementara itu di kediaman kakek dan nenek di desa.


"Mboooookkkkkkkkk!!!!" Suara teriakan Nenek Kemala memanggil Si Mbok yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah.


Dengan tergesa-gesa Si Mbok berlari menghampiri majikan wanitanya itu yang terlihat sedang kebingungan seperti mencari sesuatu.


"Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Si Mbok sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu lihat bungkusan kain saya gak yang saya taruh di dalam kotak ini?" Tanya Nenek Kemala sambil menujukkan kotak yang dimaksud, sebuah kotak kayu kuno berukuran sedang.


"Maaf nyonya, saya tidak lihat. Maaf sebelumnya nyonya, tapi saya juga baru lihat kotak ini. Memang kalau boleh saya tau, nyonya taruh kotak ini di mana?" Tanya Si Mbok kembali.


"Di dalam lemari saya di kamar khusus. Makanya saya tanya kamu karena kamu yang biasanya beresin itu kamar. Ya sudah sana kembali bekerja, saya mau cari lagi."


"Baik nyonya." Si Mbok pun kembali ke halaman belakang rumah setelah di suruh Nenek Kemala untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Di mana ya? Masa ada yang ngambil. Kuncinya kan aku yang pegang." Ucap nenek kemala berbicara dengan dirinya sendiri.


"Duh, masa hilang sih? Ah sialan!!!! Kalau sampai hilang bisa bahaya. Mau gak mau aku harus kembali lagi ke tempat itu. Semua karena setan sialan itu! Awas saja, akan segera aku lenyapkan kau setan!" Nenek Kemala terlihat sangat marah. Tak henti-hentinya dia mengumpat di dalam kamar yang khusus dia buat untuk dirinya sendiri.


Tanpa Nenek Kemala sadari, dari arah luar jendela kamar khusus itu terdapat dua orang lelaki yang sedang memperhatikan segala tingkah lakunya yang sedang kebingungan mencari-cari sesuatu.


Salah satu dari mereka dengan matanya yang tajam, tidak melepaskan sedikit pun pandangannya dari Nenek Kemala. Sesekali terlihat orang itu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nenek Kemala yang seperti orang kesetanan karena mencari sebuah bungkusan yang entah hilang kemana.


Sedangkan lelaki yang satunya lagi, lebih memilih untuk memperhatikan keadaan sekitarnya agar tidak ada orang lain yang memergoki kelakuan mereka berdua yang sedang mengamati Nenek Kemala di dalam rumah.


"Ini gak biasa dibiarkan terus-menerus. Harus segera dilenyapkan." Ucap salah satu lelaki yang terlihat seperti pemimpinnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, selanjutnya kita harus bagaimana tuan?"


"Kita ikuti dulu maunya apa. Tunggu sampai dia lengah, baru habis itu kita bakar dan lenyapkan semuanya." Ucap sang pemimpin sambil tersenyum.


__ADS_2